Tahun rilis: 2011
Sutradara Joe Johnston
Pemain: Chris Evans, Hugo Weaving, Sebastian Stan, Hayley Atwell, Samuel L. Jackson, Dominic Cooper, Toby Jones, Tommy Lee Jones, Neal McDonough, Stanley Tucci, Richard Armitage

Biasa. Sebuah kalimat sederhana yang bisa mewakili keseluruhan film Marvel terbaru yang mengangkat salah satu pahlawan super mereka; Captain America. Berjudul Captain America: The First Avenger, film ini sengaja dibuat sebagai fondasi awal untuk proyek besar Marvel tahun 2012 nanti; The Avengers. Beberapa tahun ini Marvel memang gencar sekali membuat film superhero yang saling berkaitan satu-sama lainnya. Sebuah ambisi untuk mempersatukan seluruh superhero tersebut dalam film besar The Avengers. Ada beberapa yang sukses, namun ada juga yang tidak. Captain America: The First Avenger termasuk salah satu yang kurang berhasil, walau tidak masuk kategori buruk.

Yang membuat film ini biasa saja adalah karena tidak adanya penuturan cerita yang baik. Steve Rogers diceritakan sejak awal ingin sekali mesuk pendidikan militer untuk membela negaranya, namun keterbatasan fisik membuatnya selalu ditolak, sampai pada akhirnya dia mengikuti program Super Soldier dan berubah menjadi tentara berkemampuan super. Ini yang lalu menjadi kekurangan film. Tentara super yang tidak ditunjukkan ke-super-annya. Adegan-adegan perang yang menampilkan Captain America bukanlah aksi heroik pahlawan super, siapa saja bisa melakukan apa yang dilakukan oleh Captain America, tidak ada hal yang menunjukkan bahwa dia adalah tentara super yang berkemampuan jauh diatas rata-rata tentara normal.

Hugo Weaving yang berperan sebagai Red Skull, musuh bebuyutan Captain America juga tidak menunjukkan akting terbaiknya. Karakternya begitu komikal, kurang bengis dan kejam seperti yang seharusnya. Setiap Red Skull muncul dilayar selalu terbayang karakter si muka hijau Jim Carrey dalam film The Mask. Untungnya akting Tommy Lee Jones yang berperan sebagai Kolenel Chester Philips lumayan memberikan hiburan ringan, karakternya yang serius diimbangi oleh humor-humor yang lucu melalui dialog-dialognya.

Kekurangan yang menonjol dan terlihat jelas juga bisa terlihat pada grafik komputer yang kurang bersih. CGI yang digunakan masih terlihat kasar disana-sini, kurang dipoles. Adegan perkelahian Captain America melawan tentara-tentara Hydra menjadi biasa dan sangat ‘kartun’ sekali. Keseluruhan film yang merupakan flashback tidak terlalu istimewa, terutama bila dibandingkan dengan film Captain Amerika rilisan tahun 1990 yang diperankan oleh Matt Salinger. Plot Captain America memang sulit untuk dikembangkan karena cerita dasarnya sudah pakem dan hanya bisa diselipi beberapa adegan atau karakter-karakter lain.

Seperti review film-film Marvel sebelumnya di Daily Chapter Indonesia, untuk kesekian kalinya diinformasikan untuk tidak meninggalkan kursi anda setelah film selesai, karena setelah credit selesai akan ada sebuah adegan yang tentu tidak ingin anda lewatkan.

-Adjie-

Tahun rilis: 2011
Sutradara: Michael Bay
Pemain: Shia LaBeouf, Rosie Huntington-Whiteley, Josh Duhamel, Tyrese Gibson, John Turturro, Patrick Dempsey, Ramon Rodriguez, Frances McDormand, John Malkovich, Lester Speight.

Dengan janji akan lebih baik dari film kedua, Transformers: Revenge of the Fallen yang menuai banyak kritik walaupun pendapatannya tidak begitu buruk, Michael Bay benar-benar habis-habisan untuk film Transformers ketiganya yang diberi judul Transformers: Dark of the Moon. Judul agak terdengar cheesy dan menimbulkan banyak spekulasi terutama di kalangan penggemar berat Transformers. Apa arti sebenarnya dari ‘Dark of the Moon”? Pertanyaan yang terungkap pada adegan awal film.

Dengan skala yang lebih besar dari dua film sebelumnya, Transformers: Dark of the Moon mengangkat tema pengiriman astronot Neil Armstrong untuk misi ke bulan pada tahun 1969 yang ternyata merupakan misi rahasia pihak Amerika Serikat untuk meneliti jatuhnya sebuah pesawat luar angkasa dan mendarat di bulan. Misi ini dirahasiakan dari publik dan baru terungkap setelah beberapa tahun kemudian (2011). Optimus Prime, pemimpin Autobots yang berjuang melindungi bumi bersama tim NEST dari serangan Decepticons pimpinan Megatron merasa dibohongi oleh pemerintah Amerika Serikat karena mereka menyimpan rahasia yang begitu penting darinya tanpa berbagi informasi. Dari sinilah dimulai sebuah misi baru untuk menghentikan kehancuran bumi. Sebuah misi yang sangat berat baik untuk Autobots maupun pihak bumi yang mengalami perpecahan.

Seperti yang sudah-sudah, film Michael Bay hanya memberikan sebuah plot sederhana dan sisanya, ledakan dimana-mana. Hampir separuh film berisi adegan aksi penuh ledakan. Drama lebih sedikit dan humor-humor berkurang, film ini lebih serius dibandingkan dengan dua film sebelumnya, dengan tema lebih gelap, banyak karakter yang mati, untunglah hadirnya karakter baru Carly yang diperankan oleh Rosie Huntington-Whiteley membawa sedikit kesegaran, ditambah lagi dengan gaya sinematografi Michael Bay yang tidak mau menyisakan setiap lekuk tubuh perempuan yang ada di filmnya. Hati-hati bila anda membawa anak anda menonton, siap-siap menutup mata mereka untuk beberapa adegan yang mengeksploitasi tubuh seksi Rosie.

Lebih besar bukan berati lebih baik, terbukti film ini walaupun menghadirkan banyak adegan aksi tapi hanya begitu-begitu saja. Formula tidak jauh beda dengan dua film sebelumnya, tidak ada peningkatan dalam hal kerangka film. Semua sama persis. Yang membuat beda hanya hadirnya beberapa karakter baru dan penggunaan kamera 3D yang berhasil menampilkan sinematografi yang indah. Disini, Michael Bay lebih sering mengambil gambar-gambar lebar untuk mengoptimalkan kamera 3D yang dipakai.

Secara keseluruhan film ini lebih baik dari film kedua, tapi tetap tidak memberikan kesan yang wah setelah menonton. It’s good but not great.

-Adjie-

Green Lantern

Posted: Juli 9, 2011 in Ulasan Film
Tag:

Tahun rilis: 2011
Sutradara: Martin Campbell
Pemain: Ryan Reynolds, Blake Lively, Peter Sarsgaard, Mark Strong, Tim Robbins, Temuera Morrison, Taika Waititi, Jenna Craig, Angela Bassett, Jay O. Sanders, Gattlin Griffith.

Setelah terlalu lama mentok di karakter Batman dan Superman, lalu proyek-proyek lain seperti film Wonder Woman, The Flash, bahkan Justice League of America yang tidak kunjung jelas kelanjutannya, DC akhirnya memberanikan diri untuk mengangkat superhero lain mereka ke layar lebar; Green Lanten.

Tentu pertama kali mendengar berita ini, sebagai penggemar komik superhero, ada perasaan senang, terlebih lagi akhir-akhir ini superhero komik yang diangkat yang itu-itu saja, bahkan ada beberapa yang rencananya akan di reboot (buat ulang). Ekspektasi sengaja direndahkan karena Green Lantern memang baru pertama kali diangkat kelayar lebar, sayang dengan ekspektasi rendahpun film ini masih terlihat biasa-biasa saja.

Green Lantern mungkin merupakan superhero yang sulit untuk diadaptasi menjadi film berdurasi satu atau dua jam karena Green Lantern bukan hanya fokus pada satu orang saja, tapi keseluruhan korps yang terdiri dari beberapa species dari planet-planet lain di jagat raya, bisa dibilang seperti polisi antariksa. Memang karakter utama adalah Hal Jordan, Green Lantern yang berasal dari bumi, tapi hal ini malah menjadi bumerang bagi sang sutradara. Awal film fokus pada Hal Jordan, lalu beralih pada Korps Green Lantern, lalu ada Hector Hammond yang terkontaminasi oleh Parallax, terakhir Korps Green Lantern harus menghadapi serangan Parallax. Semua dicampur aduk menjadi satu film sehingga beberapa bagian menjadi terlihat hanya sekedar tempelan untuk mengisi kekosongan.

Dengan cerita yang biasa saja, akting para pemain utama  dan karakter-karakter pendukungnya yang kurang digali lebih dalam, Green Lantern menjadi film superhero yang tidak heroik. Plot seperti ini yang sudah bukan hal baru dalam film superhero harusnya bisa dibuat lebih menarik. Untung saja semua kekurangan itu berhasil ditutupi oleh efek spesial yang bagus, setidaknya ini adalah salah satu keunggulan film ini. DC harus belajar lebih banyak dari Marvel yang sudah dua tahun ini memproduksi film-film superhero mereka dengan plot standar namun dikemas secara baik dan menarik untuk ditonton.

Berpotensi untuk dibuat lanjutannya? Melihat dari pendapatan tayangnya yang dibawah Thor dan X-Men: First Class – dua film Marvel yang tayang hampir bersamaan-, agak sulit diprediksi. Jangan beranjak dari kursi anda setelah credit  selesai karena ada secret ending diakhir pemutaran.

-Adjie-

Pearn Mai Kao

Posted: Juni 4, 2011 in Ulasan Film
Tag:

Tahun rilis: 2011
Sutradara: Kriangkrai Washiratumporn
Pemain: Chanon Rikulsurakarn, Jarinya Aksornnun, Natapong Nawasilwat, Uttanun Piyaset, Witwisit Hirunwongkul

Akhirnya ada film tentang road trip lagi, kali ini unik karena mereka menggunakan sepeda ketimbang motor atau mobil. Ya, film baru dari Thailand yang mengetengahkan kisah persahabatan lima sekawan memenuhi janji mereka untuk bersepeda bersama suatu saat nanti bila salah satu dari mereka diterima masuk di perguruan tinggi seni di Lampang, salah satu provinsi di Thailand.

Seperti film-film roadtrip lainnya, kebanyakan adegan dilakukan selama perjalanan. Kisah senang, sedih, semua ada. Sahamongkol, rumah produksi yang memproduksi film ini sepertinya berusaha untuk bersaing dengan beberapa rumah produksi lain yang mulai sukses dengan film-film drama. Beberapa tahun belakangan ini Sahamongkol memang kalah pamor terutama karena mereka terlalu mengandalkan film-film beladiri yang untuk sekarang ini kurang banyak peminatnya, terlebih lagi beberapa judul terakhir mereka kebanyakan film-film komedi yang serba nanggung.

Untuk drama, Pearn Mai Kao bisa dibilang cukup bagus, hanya saja masih banyak kekurangan seperti datarnya beberapa adegan, akting yang kurang baik, dan latar belakang karakter yang kurang diperdalam sehingga kesannya ada karakter yang dari awal tidak pernah diceritakan tiba-tiba muncul dan menjadi bagian dari cerita.

Menjelang akhir juga sepertinya sang sutradara kebingungan sendiri bagaimana mengakhiri filmnya. Beberapa adegan menjadi tidak masuk akal dan dibiarkan menggantung begitu saja tanpa penyelesaian yang memuaskan.Film yang tadinya fokus pada bersepeda tiba-tiba hilang dan seperti dilupakan begitu saja, konfliknya kurang gereget dan terlalu gampang, sebuah nilai lebih yang seharusnya menjadi bagian penting dalam film ini, menjadi sia-sia. Apa artinya menghabiskan sekitar satu setengah jam menonton bila pada akhirnya apa yang hendak di ceritakan tidak diselesaikan dengan baik.

-Adjie-

X-Men: First Class

Posted: Juni 3, 2011 in Ulasan Film
Tag:


Tahun rilis: 2011
Sutradara: Matthew Vaughn
Pemain: James McAvoy, Michael Fassbender, Kevin Bacon, January Jones, Rose Byrne, Nicholas Hoult, Jennifer Lawrence, Oliver Platt, Zoë Kravitz, Caleb Landry Jones

Bravo! Itu yang pertama terlintas ketika akan mulai menulis ulasan film ‘X-Men: First Class’ yang disutradarai oleh Matthew Vaughn. Untuk yang kurang familiar dengan nama sutradara ini, mungkin beberapa dari anda masih ingat dengan film ‘Kick-Ass’ yang juga disutradarainya beberapa waktu lalu. X-Men: First Class merupakan film adaptasi komik kedua bagi sutradara kelahiran Inggris ini.

Berbekal ekspektasi yang rendah mengingat dua film X-Men terakhir (X-Men: The Last Stand dan X-Men Origins: Wolverine) gagal mengadaptasi kisah X-Men dengan baik dan mendapatkan banyak kritikan negatif baik dari kritikus film maupun penggemar komik X-Men, harapan bila film terbaru X-Men ini juga gagal sudah ditanam jauh-jauh hari. Namun mengejutkan, ternyata X-Men: First Class malah jauh melebihi ekspektasi. Cerita begitu kuat dan solid, akting para pemainnya benar-benar berkualitas dan porsi aksi dan dramanya pas.

Film dibuka dengan adegan yang sama seperti yang ada di film X-Men pertama garapan sutradara Bryan Singer, seakan ingin mempertegas kalau film ini adalah prekuel dari film-film X-Men sebelumnya – X-Men: First Class adalah prekuel dari X-Men dan X2, jadi jangan bingung bila memang ada beberapa keanehan bila disambungkan dengan X-Men: The Last Stand dan X-Men Origins: Wolverine karena dua film terakhir tersebut dianggap tidak ada (gagal) -. Apa yang ditampilkan di adegan pembuka film X-Men pertama dulu di ekplorasi lebih dalam dengan menambahkan latar belakang si bocah yahudi bernama Erik Lehnsherr yang dipisahkan dari orangtuanya dan semenjak itu mulai mampu mengeluarkan kemampuan Mutant nya walau belum bisa untuk mengontrol. Sebuah latar belakang karakter yang kelam dan miris yang membuat tokoh Erik Lehnsherr menjadi penuh dendam dan amarah dengan hanya satu tujuan diotaknya; membalas dendam pada Sebastian Shaw, orang yang membunuh ibunya.

Selain Erik Lehnsherr, juga ada Charles Xavier yang kemudian mereka bekerjasama merekrut Mutant-Mutant muda untuk dilatih menjadi pelindung sekaligus penengah diantara dua kubu yang sudah siap untuk memulai perang dunia ketiga; Amerika Serikat dan Russia. Memang kali ini kisah X-Men lebih sarat kearah politik, lebih dalam dan tidak hanya menceritakan latar belakang satu karakter saja, tapi juga keseluruhan  kisah awal terbentuknya tim X-Men dan Brotherhood of Mutant.

Jangan heran bila apa yang ada di film berbeda jauh dengan apa yang ada di komik, dari susunan tim inti X-Men saja sudah berbeda. Bila anda membanding-bandingkan antara film dan komik sudah pasti akan pusing sendiri karena film X-Men ini memang sudah diset untuk menjadi cerita sendiri dan berhubungan antara film satu dengan lainnya. X-Men: First Class sepertinya memang sengaja dibuat untuk ‘memperbaiki’ kisah X-Men versi film. Jadi membanding-bandingkan antara film dan komik hanya akan membuang-buang waktu saja, dunia X-Men versi film berbeda dengan dunia X-Men versi komik, masing-masing berdiri  dan memiliki timeline sendiri.

Poin menarik dari film ini adalah hubungan persahabatan Charles Xavier dan Erik Lehnsherr. Sudah sejak awal mereka selalu berbeda pendapat dan melakukan hal-hal yang saling bertentangan. Kisah ini lah yang digali dan dikembangkan dengan baik. Ada juga karakter bernama Alex Summers (Havok) yang merupakan kakak dari Scott Summers (Cyclops) dari tiga film X-Men sebelumnya, dimana disini juga diceritakan kalau dia tidak mampu mengontrol kekuatannya sehingga membutuhkan alat bantu untuk mengendalikannya.

Beberapa menit awal film sangat membosankan, terlalu banyak dialog, namun perlahan-lahan rasa bosan berubah menjadi ketertarikan. Setelah hampir separuh film, mulai muncul humor-humor ringan, terlebih lagi dengan munculnya beberapa cameo dari beberapa karakter X-Men dari film sebelumnya. Disamping itu ada juga beberapa plothole yang sedikit menggangu namun tidak mempengaruhi keseluruhan film.

X-Men: First Class adalah bagaimana film X-Men seharusnya dibuat. Inilah film X-Men terbaik untuk sekarang ini.

-Adjie-

Tahun Rilis: 2011
Sutradara: Rob Marshall
Pemain: Johnny Depp, Penélope Cruz, Ian McShane, Geoffrey Rush, Kevin McNally, Richard Griffiths, Stephen Graham, Sam Claflin, Astrid Bergès-Frisbey

Kisah petualangan bajak laut Jack Sparrow kembali berlanjut, kini Jack adalah kapten kapal yang luntang-lantung tanpa kapal. Kerjaan Inggris menawarinya sebuah pekerjaan untuk mencari ‘The Fountain of Youth”, pekerjaan yang mangharuskan Jack Sparrow tunduk dan menjadi awak kapal kapten kapal Inggris yang ternyata adalah Kapten Barbossa, mantan bajak laut yang kini mengabdi di kerjaan Inggris. Jack yang tidak mau diperintah oleh kapten lain lalu melarikan diri.

Plot diatas adalah cerita utama dari film keempat Pirates of the Caribbean. Beda dengan tiga film sebelumnya, On Stranger Tides adalah pembuka dari trilogi baru yang sedang disiapkan Disney. Nantinya, trilogi baru ini akan menjadi petualangan baru kapten Jack Sparrow.

Hambar, membosankan dan membuat ngantuk, tiga kata yang sangat pas untuk merangkum film ini. Kenapa? dialog-dialog panjangnya berputar-putar menghabiskan hampir separuh durasi film, karakterisasi para pemainnya yang kurang dalam, lalu latar belakang para karakter baru yang tidak dijelaskan secara jelas, bahkan karakter Philip Swift dan putri duyung Syrena terlihat sekali hanya menjadi tempelan untuk menggantikan pasangan Will Turner dan Elizabeth Swann di tiga film sebelumnya. Hubungan menarik manusia-putri duyung yang harusnya bisa digali lebih dalam dibiarkan menjadi bagian kecil dari keseluruhan film yang dari awal saja sudah bisa diprediksikan akan membosankan dan klise.

Petualangan baru memang tidak mesti menjadi lebih menarik dari petualangan sebelumnya. Sebagai sebuah pembuka, On Stranger Tides tidak memberikan kesan apa-apa setelah menonton. Hampir tidak ada adegan memorable yang membuat penonton berdecak kagum. Kurangnya adegan aksi diatas laut turut mempengaruhi. Apa artinya menonton film tentang bajak laut bila tidak ada aksi perang antar kapal yang menakjubkan? Jadi, anda tidak sendirian bila saat menonton anda gelisah ingin tahu kapan film ini selesai, rasanya ingin sekali cepat-cepat keluar dari bioskop.

Bagaimanapun, bagi penggemar Jack Sparrow, film ini bisa membuat rasa kangen anda terobati. Jangan lupa untuk menyaksikan kredit akhir film sampai selesai karena ada ending rahasia yang mengarah pada film selanjutnya.

-Adjie-

Ladda Land

Posted: Mei 8, 2011 in Ulasan Film
Tag:

Tahun rilis: 2011
Sutradara: Sophon Sakdapisit
Pemain: Piyathida Woramuksik, Saharat Sangkapreecha

Bertempat di Chiang Mai, provinsi di daerah utara Thailand, satu keluarga baru saja pindah ke rumah baru mereka di kompleks perumahan bernama Ladda Land. Awalnya semua terlihat baik-baik saja dan sang ayah yakin kalau keluarganya akan bahagia dengan bagian baru kehidupan mereka.

Keanehan mulai muncul setelah ada sebuah kasus pembunuhan di kompleks perumahan mereka. Seorang warga negara asing yang tinggal disana menghilang entah kemana dan pembantu rumah tangganya ditemukan meninggal. Mayat sang pembantu asal Burma (Myanmar) tersebut ditemukan di dalam kulkas di rumah sang orang asing. Sejak saat itu, kehidupan di Ladda Land tidak lagi harmonis.

Film horor Thailand mulai menunjukkan lagi kejayaannya, di mulai oleh Ladda Land, sebuah film horor gaya baru yang beda dari film-film horor Thailand sebelumnya. Bila tahun lalu kebanyakan film horornya mulai membosankan dan jujur saja, tidak seram, Ladda Land berhasil membawa kembali semangat film horor yang seram, menegangkan, dan sudahkah saya sebut? seram! Banyak adegan-adegan yang merupakan homage dari film-film horor klasik, baik dari siematografi, pencahayaan, maupun adegannya itu sendiri, menambah kenikmatan menonton penggemar film horor, khususnya horor Asia.

Bila drama Thailand mulai beda setelah Bangkok Traffic Love Story sukses dan kemudian banyak muncul film drama-drama lain yang formula dan gayanya serupa, mungkin Ladda Land ini bisa dibilang film horor Thailand yang beda dan diprediksikan akan membawa beberapa film pengekor dengan gaya serupa.

Untuk cerita, Ladda Land tidak hanya menawarkan horor, drama keluarga juga diangkat dan porsinya bisa dibilang sama besar dengan horornya. Horor yang tidak hanya menampilkan balas dendam atau hatntu yang tiba-tiba muncul manakut-nakuti manusia, tapi lebih dalam kearah konflik keluarga. Satu-satunya kekecewaan menonton mungkin hanya bagaimana film ini diakhiri, selebihnya, untuk pecinta horor, film ini wajib masuk kedalam daftar menonton.

-Adjie-

THOR

Posted: April 30, 2011 in Ulasan Film
Tag:

Tahun rilis: 2011

Sutradara: Kenneth Branagh

Pemain: Chris Hemsworth, Tom Hiddleston, Natalie Portman, Anthony Hopkins, Jaimie Alexander

Megah, epik, dan indah. Itu kata-kata yang terlintak ketika mata mulai di manjakan oleh visualisasi Asgard, dunia para dewa. Perasaaan seperti inilah yang dicari setiap kali menyaksikan film fantasi, terlebih kalau menyinggung mitologi dewa kuno. THOR, sebuah film yang diangkat dari komik keluaran Marvel yang menceritakan tentang Thor, seorang dewa arogan dan sombong putra Odin. Karena perbuatannya yang melanggar titah sang ayah yang juga adalah raja Asgard, Thor di lempar kebumi tanpa kekuatan dewanya, bertahan sebagi manusia dan diharapkan bisa belajar dari kesalahannya.

Terdengar klise memang, tapi tetap saja film ini menarik untuk disaksikan. Selain visualisasi Asgard yang memanjakan mata, juga karena film ini memang dipersiapkan sebagai hiburan aksi. Ringan dan tidak perlu dianggap terlalu serius. Bisa dibilang THOR berhasil memenuhi ekspektasi akan sebuah hiburan penuh aksi dan efek spesial yang memukau.

Seperti film-film produksi Marvel Studios lainnya, THOR juga menghadirkan cameo dan beberapa referensi yang saling berhubungan antara film satu dengan lainnya, sebuah strategi Marvel Studios dalam mempersiapkan proyek besar mereka; The Avengers tahun 2012 nanti.

Mau tidak mau THOR merupakan penyegaran untuk film-film berjenis mitologi. Kita sudah terlalu sering menyaksikan film-film mitologi dewa Yunani. Dengan hadirnya THOR, kita dikenalkan pada mitologi Norse yang memang jarang sekali diangkat sebagai tema film walaupun ada beberapa.

Catatan khusus, jangan beranjak dari kursi anda saat film selesai karena setelah credit, ada sebuah adegan rahasia khas Marvel Studios.

-Adjie-

BECK

Posted: April 19, 2011 in Ulasan Film

Tahun rilis: 2010

Sutradara: Yukihiko Tsutsumi

Pemain: Hiro Mizushima, Takeru Satoh, Kenta Kiritani, Aoi Nakamura, Osamu Mukai, Shioli Kutsuna.

Karena menolong seekor anjing, Koyuki, remaja yang masih duduk di bangku SMA akhirnya menemukan sesuatu yang membuat hidupnya tidak lagi membosankan. Peristiwa menolong anjing membuatnya kenal dengan Ryusuke, seorang musisi Jepang yang besar di New York, America. Pertemuan yang singkat ini mengubah hidup Koyuki secara keseluruhan, musik menjalari otaknya dan melodi-melodi indah menemani hari-harinya.

Ya, BECK, film Jepang yang mengangkat tema musik, band secara spesifik. Kisah perjalanan yang di mulai dari nol. Diangkat dari komik terkenal berjudul sama, BECK versi film menghadirkan beberapa perubahan dari kisah asli komiknya. Untuk yang mengikuti kisah komiknya, mungkin anda akan membanding-bandingkan versi komik dan versi film. Saran saja, lihat komik dan film dari dua sudut pandang yang berbeda dan anggap masing-masing berdiri sendiri, maka anda akan menikmati film ini.

Secara keseluruhan film cukup baik, efek-efek hiperbola banyak di tunjukkan saat Koyuki mulai bernyanyi, penasaran dan bahkan geregetan. Suaranya yang di gambarkan mampu menghipnotis setiap orang yang mendengar seakan juga menghipnotis penonton.

Dialog film dibawakan dalam dua bahasa; Jepang dan Inggris karena memang tokoh Ryusuke dan adik perempuannya, Maho di ceritakan besar di New York, America dan kurang fasih berbahasa Jepang. Bila dulu saat SMA anda pernah bermain band, film ini bisa membawa nostalgia. Untuk penonton awam yang tidak terlalu suka musik, film ini masih bisa di nikmati.

Ringan, tidak banyak twist, dan mudah di ikuti, BECK bisa menjadi tontonan santai yang menghibur.

-Adjie-

Warner Home Video telah mengumumkan bahwa mereka akan merilis paket Blu-Ray Superman: The Motion Picture Anthology yang berisikan semua film Superman dari tahun 1978 sampai tahun 2006. Paket Blu-Ray berisi 8 keping cakram ini rencananya akan di rilis tanggal 7 Juni 2011.

Selain film-film Superman versi bioskop, paket ini juga berisikan film Superman yang tidak rilis via bioskop dan fitur-fitur yang menarik.

Berikut adalah detail masing-masing cakram Blu-Ray:

Disc #1

·   Superman: The Movie, Original Theatrical
·   Commentary by Ilya Salkind and Pierre Spengler (Original Theatrical Version)
·   The Making of Superman: The Movie [1978 TV special]
·   Superman and the Mole-Men [1951 feature]
·   Warner Bros. Cartoons
o Super-Rabbit [1943 WB cartoon]
o Snafuperman [1944 WB cartoon]
o Stupor Duck [1956 WB cartoon]
·   Trailers

Disc #2

Superman: The Movie, Expanded Edition
Commentary by Richard Donner and Tom Mankiewicz (Extended Version)
Taking Flight: The Development of Superman
Making Superman: Filming the Legend
The Magic Behind the Cape
Screen Tests
Superman
Lois Lane with Optional Commentary
Ursa
A Selection of Restored Scenes
Additional Music Cues
Main Titles
Alternate Main Titles
The Council’s Decision
The Krypton Quake
More Mugger/Introducing Otis
Air Force One
Can You Read My Mind (Pop Version)
Music Only Track (Donner Cut)

Disc #3

·   Superman II, Original Theatrical
·   Commentary by Ilya Salkind and Pierre Spengler (Original Theatrical Version)
·   The Making of Superman II [1980 TV special]
·   Deleted Scene
·   First Flight: The Fleischer Superman Series
·   Fleischer Studios’ Superman
o   Superman
o   The Mechanical Monsters
o   Billion Dollar Limited
o   The Arctic Giant
o   The Bulleteers
o   The Magnetic Telescope
o   Electric Earthquake
o   Volcano
o   Terror on the Midway
·   Theatrical Trailer

Disc #4

Superman II – The Richard Donner Cut
Commentary by Richard Donner and Tom Mankiewicz (Donner Cut)
Introduction by Richard Donner
Superman II: Restoring the Vision
Deleted Scenes
Famous Studios’ Superman
Japoteurs
Showdown
Eleventh Hour
Destruction, Inc
The Mummy Strikes
Jungle Drums
The Underground World
Secret Agent

Disc #5

·  Superman III Theatrical Version
·  Commentary by Iilya Salkind and Pierre Spengler
·  The Making of Superman III (1983 TV Special)
·  Deleted Scenes
·  Theatrical Trailer
Disc #6

·  Superman IV The Quest For Peace Theatrical Version
·  Commentary by Mark Rosenthal
·  Superman 50th Anniversary Special (1988 TV Special)
·  Deleted Scenes
·  Theatrical Trailer

Disc #7

·  Superman Returns
·  Requiem for Krypton: Making Superman Returns
o   Pt. 1 Secret Origins and First Issues: Crystallizing Superman
o   Pt. 2 The Crystal Method: Designing Superman
o   Pt. 3 An Affinity for Beachfront Property: Shooting Superman- Superman on the Farm
o   Pt. 4 An Affinity for Beachfront Property: Shooting Superman- Superman in the City
o   Pt. 5 An Affinity for Beachfront Property: Shooting Superman- Superman in Peril
o   Pt. 6 The Joy of Lex: Menacing Superman
o   Pt. 7 He’s Always Around: Wrapping Superman
·  Resurrecting Jor-El
·  Deleted Scenes including the never-before-seen original opening to Superman Returns
·  Bryan Singer’s Journals – Video production journals
·  Trailers

Disc #8 Additional Bonus Material


·  Look, Up in the Sky! The Amazing Story of Superman [Hi-Def]
·  You Will Believe: The Cinematic Saga of Superman
o  Pt. 1- Origin
o  Pt. 2- Vision
o  Pt. 3- Ascent
o  Pt. 4- Crisis
o  Pt. 5- Redemption
·  The Science of Superman [Hi-Def]
·  The Mythology of Superman
·  The Heart of a Hero: A Tribute to Christopher Reeve
·  The Adventures of Superpup [1958 TV pilot]