Archive for September, 2008

26
Sep
08

Handle Me With Care [Kod]

Tahun Rilis : 2008

Sutradara : Kongdej Jaturanrasamee

Pemain :

- Supakson Chaimongkol
- Kiatkamol Lata

Hidup terasa begitu membosankan bagi Kwan, bosan bukan karena ekonominya yang pas-pasan, bukan pula karena pekerjaannya di kantor pos yang selalu mengisi rutinitasnya. Kwan bosan melihat tatapan aneh orang-orang disekitarnya. Kwan bosan mendengar gunjingan orang-orang disekitarnya. Bukan keinginan Kwan untuk dilahirkan dengan cacat tubuh. Ya, Kwan memiliki kelainan di tubuhnya, dia memiliki 3 buah tangan. Kwan malu bila keluar rumah dan harus menghadapi pertanyaan orang-orang disekitarnya. Kehidupan cinta Kwan pun harus di korbankan, semua karena cacat tubuhnya.

Almarhum ibu Kwan selalu mengatakan bahwa cacatnya adalah berkah. Ibunya selalu bilang bahwa Kwan beruntung memiliki 3 tangan. Ibu Kwan adalah seorang penjual Pad-Thai, mie goreng khas Thailand. Setiap Kwan pulang kerumah sehabis diejek atau dipukuli teman-temannya, Ibunya selalu mengatakan bahwa Kwan lebih kuat dari mereka, Kwan punya 3 tangan jadi Kwan punya lebih banyak jurus dari teman-temannya. Jangan pernah takut kalah.

Film ini menceritakan tentang perjuangan Kwan pergi ke kota Bangkok untuk menagih janji seorang dokter yang katanya mampu memotong tangan ketiganya dan membuatnya normal kembali. Perjalanan ini tentu saja tidak mudah, Kwan harus merelakan mobil peninggalan ibunya di jual murah untuk ongkos pergi ke Bangkok.

Seperti kisah-kisah drama pada umumnya, kehadiran perempuan akan menambah indah alur cerita sebuah film. Kwan bertemu dengan Na, seorang perempuan yang ingin ke Bangkok untuk mencari suaminya yang tidak pernah pulang selama bertahun-tahun. Kisah cinta di antara mereka perlahan tumbuh.

Sebuah karya yang sangat indah. Tidak menyesal rasanya menghabiskan hampir 2 jam untuk menyaksikan film ini. benar-benar sebuah film yang indah dan banyak mengajarkan tentang makna hidup. Kwan yang berjuang untuk kembali normal yang hanya akan menimbulkan sebuah pertanyaan baru, benarkah ia ingin normal seperti orang lain? Apakah jalan yang dipilihnya untuk melakukan operasi adalah jalan yang terbaik?. lalu bagaimana dengan Na? apa yang akan dia lakukan bila nanti bertemu kembali dengan suaminya? apakah kisah cintanya dengan Kwan akan berakhir bahagia? Sebuah kisah yang mengandung haru, terutama pengabdian Kwan terhadap mendiang ibunya. Kwan membawa abu ibunya ke kota Bangkok karena dulu ibunya ingin sekali makan Pad-Thai terkenal di Bangkok. Kwan memenuhi janji itu dan membawa abu ibunya dan meletakannya di meja selagi ia makan.

Alam Thailand selatan dan utara benar-benar di tunjukkan dengan baik. pemandangan alam yang asri, suasana pedesaan, dan penggambaran kehidupan di desa Thailand. Film ini unggul dalam sinematografi dan tema cerita. Salut untuk sang sutradara!

-Adjie-

15
Sep
08

Burn [Khon Fai Look]

Tahun Rilis : 2008

Sutradara : Peter Manus

Pemain :

- Bongkot Kongmalai,

- Chalat na Songkla,

- Achiraya Pirapatkulchaya,

- Prangthong Changdham,

- Suthirach Charnukul

Seorang perempuan setengah baya terlihat kebingungan di depan kasir sebuah rumah sakit swasta. Beberapa kali dia mencoba untuk menelepon anak perempuannya untuk meminta bantuan, namun yang di tuju mengacuhkan telepon tersebut. Sebuah edegan yang cukup miris, melihat ekspresi perempuan yang cukup mengetuk hati itu, emosi penonton seolah-olah sedang di godok. Rasa simpati lalu muncul. Saat itulah sifat karakter utama film ini di tonjolkan. Mona, seorang perempuan yang bekerja di sebuah bursa saham, sehari-harinya selalu dipenuhi oleh kesibukan. Hidup dalam kondo penuh kemewahan dengan gaya hidup modern. Berbanding terbalik dengan kehidupannya, Ibunya hidup serba pas-pasan dalam ruko di sebuah pasar tradisional. Sehari-hari, ibunya yang berdagang beras itu berkelahi dengan pemilik toko sebelah.

Inti cerita baru muncul saat penyakit ibu Mona tak dapat tertahan lagi. Perempuan malang itu merasakan sakit di perutnya, dan beberapa saat kemudian tubuhnya mengeluarkan api. Api yang semakin membesar itu menghanguskan tubuh perempuan malang tersebut dan membuatnya meninggal seketika. Mona yang mendapat kabar kalau ibunya mengalami musibah, langsung berlari menuju rumah ibunya, hanya untuk mendapati jenazah ibunya yang hangus terbakar.

Film ini bercerita seputar Spontaneous Human Combustion, atau biasa di singkat SHC. Sebuah gejala misterius dimana tubuh manusia dapat menghasilkan panas yang tinggi dan akhirnya menimbulkan api yang menghanguskan tubuh. Gejala ini sudah banyak terjadi dan berumur sekitar 200 tahun. Sampai saat ini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit ini. Tema yang lumayan berat ini mencoba diangkat sang sutradara dalam balutan misteri dan konspirasi. Sebuah cerita yang di rangkum dengan hati-hati.

Uang memang masih menjadi pacuan bagi semua orang untuk melakukan apa saja. kejadian-kejadian misterius mulai bermunculan, dan Mona baru menyadari betapa ia mencintai ibunya setelah semuanya terlambat. Di bantu oleh seorang detektif polisi bernama Don yang baru saja mendapatkan promosi, Mona mencoba untuk menguak misteri di balik kematian ibunya. Seorang perawat bernama Ploy ikut ambil bagian dalam pengungkapan misteri ini. Sedikit demi sedikit, tabir misteri ini terbuka.

Moral yang bisa diambil dalam film ini adalah. Kita sebagai anak, sudah sepatutnyalah berbakti kepada orang tua. Mona yang sudah merasa sukses lalu meninggalkan ibunya seorang diri. Bahkan saat ibunya sakit, Mona masih saja cuek dan tidak peduli. Penderitaan ibu Mona sangat jelas sekali terlihat di wajahnya. Wajah yang mengundang simpati. Wajah yang kesepian dan penuh kesedihan. Hampir saja gw terpengaruh untuk mengutuk karakter Mona yang begitu sombong dan acuh terhadap keadaan ibunya. Namun perlahan sifat Mona di perlihatkan berubah. Ya, sebuah hal klise, orang akan berubah saat semuanya sudah terlambat. Mona baru menyadari betapa cintanya ia terhadap ibunya setelah sang ibu meninggal.

-Adjie-

15
Sep
08

Last Life In The Universe

Tahun Rilis : 2003

Sutradara : Pen-Ek Ratanaruang

Pemain :

- Tadanobu Asano,
- Sinitta Boonyasak,
- Laila Boonyasak

Film di awali dengan adegan bunuh diri seorang lelaki Jepang di apartmennya. Lelaki Jepang tersebut bunuh diri dengan cara menggantung dirinya melalui seutas tali yang di ikatkan pada langit-langit ruangan. Buku-buku yang berserakan dibawah kakinya menandakan kalau dia menggunakan buku-buku tersebut sebagai pijakan. Melalui sedikit narasi dan sinematografi yang bergerak lambat, barulah diketahui kalau adegan bunuh diri tersebut hanya khayalan Kenji, seorang lelaki berkebangsaan Jepang yang tinggal di Bangkok, Thailand dan bekerja di perpustakaan di Japan Foundation.

Hidup Kenji sangatlah hampa, apalagi dengan masa lalunya sebagai Yakuza. Walaupun dia sudah memutuskan untuk menghilang dan bekerja secara baik-baik, tetap saja musuh-musuhnya akan selalu mencari kemanapun dia pergi. Tinggal dalam apartemen yang penuh oleh buku-buku, Kenji perlahan mulai mempelajari arti dari kehidupan, sampai pada titik dimana dia membaca kalau kematian adalah jalan yang terbaik. Termakan oleh kata-kata dalam buku “Kematian adalah sebuah tidur yang tenang dan damai”, Kenji mulai merasa kalau kematian adalah pilihan terbaiknya. Beberapa kali Kenji berniat untuk bunuh diri, namun berkali-kali juga lah usahanya tersebut gagal. Selalu saja ada orang yang menghalangi niatnya untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Penggambaran kehampaan hidup Kenji dinarasikan melalui sinematografi yang bergerak lambat, perlahan seperti alur kehidupan. Beberapa adegan di sajikan dengan gambar tanpa suara, dan sesekali buah pikiran Kenji yang dihadirkan sebagai narasi. Nuansa suram di hadirkan melalui warna-warna sephia yang cenderung gelap.

Suatu kejadian membuat Kenji berfikir apa sebeneranya kematian itu. Saat sedang mencoba untuk bunuh diri dengan cara meloncat dari atas jembatan, Kenji dikejutkan oleh sebuah kecelakaan. Sebauh mobil menabrak seorang perempuan tepat di depan matanya. Perempuan bernama Nid itu ternyata adalah salah satu pelangan di perpustakaan tempatnya bekerja. Kenji dan Noi, kakak perempuan itu kemudian membawa Nid ke rumah sakit, namun sayang nyawa Nid tidak tertolong lagi. Nid meninggal di rumah sakit.

Belum habis masalah yang timbul dalam hidupnya, Kenji kembali dibuat terkejut dengan kematian. Kakaknya dibunuh oleh bosnya sendiri di apartemennya. Kenji yang saat itu sedang memegang pistol milik kakaknya, langsung saja menembak sang bos. Kini Kenji harus menyembunyikan 2 mayat yang mulai membusuk dalam apartemennya. Tak tahan dengan bau busuk, Kenji keluar dari rumahnya.

Noi datang ke tempat kerja Kenji untuk mengembalikan tasnya yang tertinggal di mobil saat mengantarkan Nid ke rumah sakit. Melalui pertemuan kedua ini, Kenji menjadi dekat dengan Noi. Kenji memutuskan untuk tinggal di rumah Noi yang letaknya di luar kota. Noi sempat tertawa saat Kenji mengatakan dia tidak mau pulang karena ada 2 mayat di rumahnya yang berbau busuk. Menurut Noi, Kenji sangat lucu dan senang bergurau.

Film mulai terasa hidup saat memasuki fase kehidupan Kenji dan Noi. Hubungan 2 orang beda negara, beda tradisi ini terlihat sangat unik. Tidak terlihat bahwa hubungan mereka menghadirkan cinta antara satu sama lain, namun cukup dapat mengintepretasikan kalau mereka mulai peduli dengan satu sama lain. Dialog campuran Thai-Jepang mendominasi percakapan dan bahasa Inggris ala kadarnya yang juga mampu membangun emosi. Tidak ada bahasa Inggris fasih, semua dibawakan dengan sangat sederhana tanpa grammar yang baik, namun justru itu yang unik.

-Adjie-




 

September 2008
M T W T F S S
« Aug   Oct »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Twitter Page