Archive for March, 2009

23
Mar
09

Meat Grinder [Cheuat Gon Chim]

meat-grinder_new-poster03

Tahun rilis: 2009

Sutradara: Tiwa Moeithaisong

Pemain: Mai Charoenpura, Rattanaballang Tohsawat, Duangta Tungkamanee

Apa yang ada dipikiran anda begitu melihat perempuan menyuapi bola mata kepada seseorang yang terlihat duduk tersiksa dihadapannya? Pikiran langsung terbayang akan film gory semacam Saw atau Hostel. Tidak sedikit pula yang berfikir ini film horor. Pendapat tersebut tidak sepenuhnya salah. Film ini memang slasher movie dan tentu saja efeknya dapat menimbulkan horor bagi yang menontonnya.

Dengan berlatar belakang 30 tahun yang lalu, saat terjadi insiden pembantaian mahasiswa Thammasat di Thailand, film ini berjalan pelan dan lebih banyak menghadirkan gambar-gambar bisu. bercerita tentang seorang perempuan penjual mie bakso yang ternyata memiliki rahasia dibalik resep baksonya. Dia menggunakan daging manusia. Terdengar menyeramkan memang, seorang perempuan tega memotong-motong tubuh manusia dan menjadikannya bakso untuk restoran mienya. Sebuah trauma masa lalu memaksanya berubah menjadi sosok gila yang misterius dan penyendiri.

Beberapa menit awal, film terlihat menarik dan mengundang ekspektasi. Namun, beberapa menit kemudian alur menjadi rancu dan film berubah membosankan. Ditambah lagi penggunaan background music yang malah merusak esensi cerita. Beberapa adegan bisu ditampilkan dengan datar, membuat penonton menunggu dan bertanya-tanya apa maksud sang sutradara menampilkan adegan tersebut. Penempatan adegan flashback yang cukup mengerutkan kening karena berantakan dan tidak adanya kejelasan timeline yang dipakai juga membuat penonton bingung.  Adegan-adegan tersebut terkesan loncat-loncat dan di letakkan dengan asal. Entah ini kesalahan editing atau memang sang sutradara ingin membuat film ini terkesan abstrak dan berseni.

Intinya, film ini mengangkat tema yang menarik namun dieksekusi dengan kurang baik. Bagi anda yang menyukai film-film sadis semacam ini, mungkin tidak masalah asal banyak adegan potong-memotong anggota tubuh didalamnya. Namun bagi anda yang sekedar mencari hiburan, film ini akan membuat anda malah sibuk bertanya-tanya. Pilihan ada pada anda.

-Adjie-

17
Mar
09

Dragonball Evolution

dragonball-evolution

Tahun rilis: 2009

Sutradara: James Wong

Pemain: Justin Chatwin, James Marsters, Jamie Chung, Emmy Rossum, Joon Park, Eriko Tamura, Randall Duk Kim, Texas Battle, Ernie Hudson, Chow Yun-Fat

Berawal dari Akira Toriyama menciptakan kisah yang akhirnya mendunia ini, Dragonball menceritakan perjalanan dan petualangan Son Goku, Alien yang dirawat dan dibesarkan oleh manusia. Ber-setting dunia fantasi, Dragonball berhasil menjadi komik terpopuler pada masanya. Lambat laun, pamor komik ini memuncak dan muncul berbagai jenis media lain yang turut mengangkat kisah perjalanan Son Goku seperti novel, film animasi, game, bahkan pernah diangkat ke layar lebar oleh rumah produksi Thailand. Amerika tidak mau ketinggalan, mereka turut mengangkat kisah terkenal ini ke layar lebar. Tidak perlu menunggu lama, tahun ini Dragonball bisa kita saksikan dilayar bioskop.

Banyak yang berpendapat kalau Dragonball adalah sebuah cerita yang tidak mungkin difilmkan. Pendapat ini ada benarnya karena pasti akan banyak perubahan yang terjadi. Fans Dragonball tidak akan setuju dengan hal ini. Kemajuan teknologi perfilman saat ini pasti mampu menghadirkan dunia Dragonball beserta elemen-elemen lain yang terdapat didalamnya, namun untuk membuat karakter-karakter dalam cerita ini hidup dan disukai adalah suatu hal yang sulit. 20th Century Fox nekat maju terus meski hujatan bertebaran di forum-forum diskusi. Terutama dari fans fanatik Dragonball. Banyak yang menolak produksi film ini dibatalkan setelah para pemainnya diumumkan. Fans dari penjuru dunia menumpahkan uneg-uneg mereka melalui forum-forum diskusi. Namun apa daya, Fox tetap dengan yakin akan memproduksi film ini.

Kekecewaan para fans terbukti setelah film dirilis. Beberapa elemen yang dirubah oleh Fox membuat kisah ini terasa aneh. Goku menjadi seorang pelajar SMA yang penyendiri dan menjadi bahan bully. Berbeda sekali dengan Goku aslinya yang ceria, lugu, dan penuh rasa ingin tahu. Goku di film ini dibuat menjadi sosok yang mendendam karena tidak bisa menggunakan kekuatannya untuk membalas perlakuan semena-mena yang didapatnya. Hollywood seperti tidak pernah merasa bersalah atas tindakan mereka mengacak-acak sebuah cerita yang sudah begitu lekat dan dikenal oleh banyak orang.

Hal positif yang bisa diambil dari film ini adalah penggunaan special effect yang bagus. Sedikit menghilangkan kebosanan dan terutama, kekecewaan saat menyaksikan film ini. Score dan BGM pun tak banyak membantu. Malah, beberapa mengingatkan kita pada score film Spider-Man dan Batman. Kesimpulannya, kalau anda termasuk penggemar Dragonball, adalah sebuah kesalahan menyaksikan film ini. Anda akan sibuk sendiri menimpali segala macam hal yang jauh diluar ekspektasi anda.

-Adjie-

05
Mar
09

Watchmen

watchmenposterfinal

Tahun rilis: 2009

Sutradara:  Zack Snyder

Pemain: Malin Akerman, Billy Crudup, Matthew Goode, Carla Gugino, Jackie Earle Haley, Jeffrey Dean Morgan, Patrick Wilson

Perang antar negara, masing-masing ingin menunjukkan betapa hebatnya persenjataan mereka. Amerika dan Uni Soviet dilanda rasa cemas akan ancaman perang satu sama lain. Sekelompok manusia-manusia yang memiliki skill diatas manusia normal dibentuk untuk menjaga keamanan di Amerika sebagai dampak dari kekacauan dan krisis yang dialami oleh negara besar tersebut. Sebutlah mereka Minuteman. Semua berjalan baik sampai akhirnya timbul masalah.  Para jagoan tersebut satu-persatu tumbang dan kekacauan kembali melanda Amerika. Tidak beberapa lama kemudian dibentuklah Watchmen yang nasibnya tidak jauh beda dengan Minuteman, walau tidak setragis pendahulunya.

Diatas merupakan dasar plot film garapan sutradara Zack Snyder ini. Sebuah kisah yang diangkat dari komik karya Alan Moora dan Dave Gibbons. Sebuah kisah yang rumit, dan penuh unsur-unsur politik didalammnya. Kalau anda mengira kisah ini baik untuk ditonton oleh anak-anak, jangan sekali-sekali anda berfikiran seperti itu. Cerita komik bukan berarti untuk anak-anak. Film ini dipenuhi oleh adegan kekerasan yang walaupun sudah dikurangi agar tidak sekeras komiknya tetap saja tidak baik ditonton oleh anak-anak. Unsur-unsur politik menjadi alasan selanjutnya. Ceritanya lumayan berat dan rumit, penuh intrik dan tanda tanya.

Selain penuh kekerasan, film ini juga memiliki adegan sex yang cukup eksplisit, belum lagi penampilan Dr. Manhattan, salah satu karakter inti dalam film ini yang benar-benar polos tanpa sehelai benang pun. Unsur-unsur nude diperlihatkan jelas. Jadi sekali lagi, jika anda berniat mengajak anak anda menyaksikan film ini karena anda pikir ini film tentang jagoan-jagoan pemberantas kejahatan, urungkan niat tersebut.

Yang menarik dari film ini adalah kedalaman cerita dan karakterisasi yang baik. Setiap karakter memiliki masa lalu yang berbeda-beda yang pada akhirnya membentuk karakter mereka. Semua diceritakan dengan lumayan detail dalam adegan-adegan flashback. Penggunaan special effect juga menjadi primadona dalam film ini.

Film ini mencoba membawa pesan bahwa manusia tidak akan pernah berhenti menyakiti satu sama lainnya. Perang akan selalu ada, dan hidup dalam damai hanyalah indah dalam kisah-kisah dongeng. Kenyataan yang ada harus dihadapi, sepahit apapun itu.

-Adjie-

04
Mar
09

Superman Is Dead – Angels and the Outsiders!

versi-demo-album-sid-yang-beredar1

Kembali semangat dan memandang hidup lebih positif. Kuatkan kebersamaan, Saling berpegangan tangan, maju bersama sambil melantunkan melodi yang seirama. Sudah lumayan lama sejak album Superman Is Dead terakhir dirilis. Tiga pemuda Bali yang penuh energi ini akhirnya kembali dengan album terbarunya “Angels and the Outsider” tahun 2009 ini. Dengan sound lebih matang dan lebih banyak lirik berbahasa Indonesia, sekali lagi mereka berjuang menunjukkan bahwa musik mereka belum mati. Lama berdiam diri bukan berarti mereka vakum dan kehabisan kreatifitas. Album ini menjadi bukti bahwa mereka masih konsisten dalam jalan yang mereka pilih. Semangat yang kembali membara dalam distorsi yang membakar dan ketukan drum yang menghentak diiringi lembutnya melodi bas.

Masih mengangkat kebersamaan dan ajakan untuk saling bahu membahu membela apa yang benar, pujian terhadap seseorang yang berarti dalam hidup mereka, asam garam hidup, dan kenakalan khas anak muda. Mereka tidak muda lagi dan umur semakin bertambah namun semangat yang tetap membakar membuat musik mereka terdengar muda. Nakal tapi tetap memandang hidup dengan positif, tidak melulu mabuk-mabukan. Semua ada waktunya antara bersenang-senang dan berfikir kedepan.

Dalam segi musikalitas terlihat sekali perkembangan yang terjadi pada musik mereka. Terdengar lebih rapi. Vokal Bobby terdengar lebih kalem dan tidak terlalu ngotot. Transisi antar lagu disusun dengan baik. Setiap lagu jadi memliki karakter masing-masing. Hal ini dibantu dengan lirik yang lebih berbobot. Beberapa melodi terdengar sangat nostalgia, terutama bagi yang mengikuti perkembangan mereka dari awal debut album major mereka.Sound-sound baru yang mewarnai tiap lagu sebagai filler lumayan berhasil memberikan nuansa baru pada musik mereka seperti irama rock n roll, suara gesekan senar gitar, beat-beat bossa, dan tentu saja rockabilly.

Beberapa lagu yang wajib di dengar antara lain: “Jika Kami Bersama” yang iramanya asik dan mengajak tubuh bergoyang. “Saint of My Life” yang romantis khas Superman Is Dead. “Luka Indonesia” yang berirama rockabilly. Renungan hidup dalam “The Days of a Father” , “Close To Fly Away”, dan “Memories of Rose” yang sedikit mengingatkan pada lagu “Kings, Queen & Poison” dalam album mereka terdahulu. Lalu “Twice In Paradise” yang jadi lagu penutup yang cantik. Penuh semangat.

-Adjie-

01
Mar
09

Punisher: War Zone

punisher-war-zone-f

Tahun rilis: 2008

Sutradara: Lexi Alexander

Pemain: Ray Stevenson, Dominic West, Julie Benz, Wayne Knight, Dash Mihok, Colin Salmon, Doug Hutchison, T. J. Storm, Mark Camacho, Keram Malicki-Sánchez

Belum puas dengan 2 film sebelumnya, Punisher kembali diangkat ke layar lebar untuk ketiga kalinya. Kisah seorang polisi bernama Frank Castle yang seluruh anggota keluarganya dibantai dengan brutal didepan matanya, menjadikan dia sosok yang penuh dendam dan akhirnya mendedikasikan dirinya untuk menghukum para kriminal.

Bersetting 6 tahun setelah tragedi berdarah yang merenggut nyawa isteri dan anak-anak yang di cintainya, Frank Castle kali ini ditemani oleh sahabatnya, Microchip menjadi penghukum bagi mereka yang bersalah. masih dengan mottonya: If You’re Guilty, You’re Dead, Frank menjelajah malam mencari orang-orang jahat yang meresahkan masyarakat.

Film ketiga ini bagai mengembalikan nuansa film pertama. Suasana kelam dan tinggat kesadisan yang diumbar jelas. Kehidupan Frank yang keras digambarkan dengan dingin. Beberapa adegan sadis terlihat agak berlebihan dan cenderung tidak masuk akal. Yang agak beda dari film ini adalah beberapa adegan akrobatik yang lumayan menghibur. Mungkin karena disutradarai oleh seorang perempuan maka dirasa perlu untuk menambahkan emosi pada tokoh yang seharusnya dingin dan sedikit anti sosial ini. Beberapa adegan berhasil menggambarkan sisi manusiawi dari Frank Castle.

Secara keseluruhan film ini tidak jelek, terutama bila dibandingkan dengan film kedua yang bisa dibilang gagal. Cocok untuk yang suka adegan-adegan gun fighting.

-Adjie-




 

March 2009
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Twitter Page

Recent Comments

outSIDers solo city on Superman Is Dead – Angel…
Restu Aji Siswanto on Blink-182 Kembali & Siap M…
agung puja kusuma on Blink-182 Kembali & Siap M…
Mario on Kerli – Love Is Dea…
chika on Lesbian Vampire Killers