Archive for the 'Review Album' Category

16
May
09

Green Day – 21st Century Breakdown

4257_1060638598124_1290690282_30150702_5691078_n

Tahun rilis: 2009

Penyanyi/Band: Green Day

Judul album: 21st Century Breakdown

Jangka waktu yang lumayan lama bagi Green Day untuk merilis album baru setelah American Idiot 5 tahun yang lalu. Apa yang ditawarkan oleh mereka kali ini? Daily Chapter akan sedikit mengupas seperti apa album terbaru mereka.

Album ini dibagi menjadi 3 segmen: Act 1 – Heroes and Cons, Act 2 – Charlatans and Saints, dan Act 3 – Horseshoes and Handgrenades Masing-masing segmen dibagi menjadi 6 lagu, jadi total lagu di album ini menjadi 18.

Masih mengandalkan jurus 3 chord, Green Day kembali mengusung apa yang mereka sebut sebagai Punk Opera. Tiap lagu disusun agar terangkai satu cerita utuh. Tiap lagu dibuat saling berhubungan. Terdengar tidak asing? Ya, seperti yang sudah bisa di prediksi, perubahan dalam segi musik yang mereka lakukan di album American Idiot pasti akan membawa dampak dalam musik mereka kedepannya. Tema lirik menjadi dalam dan terkadang kelam, musik dominan diramu dengan tempo yang pelan pada awal dan penuh distorsi menjelang akhir. Hal ini yang membuat album ini terdengar sedikit membosankan. Green Day yang sekarang adalah Green Day baru. Kita tidak akan lagi menemui Green Day yang kita kenal melalui album Dookie, Nimrod, atau Warning.

Banyaknya hal minor yang mengurangi nilai album ini tidak lantas membuat albumnya jelek. Mungkin akan banyak penggemar Green Day yang kecewa karena mereka tidak menemukan sesuatu yang mereka cari, namun dalam beberapa aspek, album ini bisa dikatakan sebagai bentuk pendewasaan musik Green Day itu sendiri. Seperti yang tadi sudah disinggung, disini kita bisa melihat perkembangan musik dan tema lirik mereka, lebih dewasa dan dalam.

Irama yang menarik dan unik ada dibeberapa lagu, seperti rockabilly yang seakan membawa kita pada era mafia jaman dulu. Selebihnya, sound mereka terdengar modern. Vokal falsetto Billy Joe Armstrong adalah kejutan tersendiri. Sesuatu yang tidak kita duga akan dilakukan olehnya. Ini membuat lagu-lagu dialbum ini terdengar lebih bernyawa dan memiliki emosi tersendiri. Secara keseluruhan, album ini lumayan dan layak dikoleksi untuk melengkapi koleksi album Green Day anda.

-Adjie-


04
Mar
09

Superman Is Dead – Angels and the Outsiders!

versi-demo-album-sid-yang-beredar1

Kembali semangat dan memandang hidup lebih positif. Kuatkan kebersamaan, Saling berpegangan tangan, maju bersama sambil melantunkan melodi yang seirama. Sudah lumayan lama sejak album Superman Is Dead terakhir dirilis. Tiga pemuda Bali yang penuh energi ini akhirnya kembali dengan album terbarunya “Angels and the Outsider” tahun 2009 ini. Dengan sound lebih matang dan lebih banyak lirik berbahasa Indonesia, sekali lagi mereka berjuang menunjukkan bahwa musik mereka belum mati. Lama berdiam diri bukan berarti mereka vakum dan kehabisan kreatifitas. Album ini menjadi bukti bahwa mereka masih konsisten dalam jalan yang mereka pilih. Semangat yang kembali membara dalam distorsi yang membakar dan ketukan drum yang menghentak diiringi lembutnya melodi bas.

Masih mengangkat kebersamaan dan ajakan untuk saling bahu membahu membela apa yang benar, pujian terhadap seseorang yang berarti dalam hidup mereka, asam garam hidup, dan kenakalan khas anak muda. Mereka tidak muda lagi dan umur semakin bertambah namun semangat yang tetap membakar membuat musik mereka terdengar muda. Nakal tapi tetap memandang hidup dengan positif, tidak melulu mabuk-mabukan. Semua ada waktunya antara bersenang-senang dan berfikir kedepan.

Dalam segi musikalitas terlihat sekali perkembangan yang terjadi pada musik mereka. Terdengar lebih rapi. Vokal Bobby terdengar lebih kalem dan tidak terlalu ngotot. Transisi antar lagu disusun dengan baik. Setiap lagu jadi memliki karakter masing-masing. Hal ini dibantu dengan lirik yang lebih berbobot. Beberapa melodi terdengar sangat nostalgia, terutama bagi yang mengikuti perkembangan mereka dari awal debut album major mereka.Sound-sound baru yang mewarnai tiap lagu sebagai filler lumayan berhasil memberikan nuansa baru pada musik mereka seperti irama rock n roll, suara gesekan senar gitar, beat-beat bossa, dan tentu saja rockabilly.

Beberapa lagu yang wajib di dengar antara lain: “Jika Kami Bersama” yang iramanya asik dan mengajak tubuh bergoyang. “Saint of My Life” yang romantis khas Superman Is Dead. “Luka Indonesia” yang berirama rockabilly. Renungan hidup dalam “The Days of a Father” , “Close To Fly Away”, dan “Memories of Rose” yang sedikit mengingatkan pada lagu “Kings, Queen & Poison” dalam album mereka terdahulu. Lalu “Twice In Paradise” yang jadi lagu penutup yang cantik. Penuh semangat.

-Adjie-

19
Dec
08

Kerli – Love Is Dead

kerli-_love_is_dead-_album_cover

Tahun Rilis: 2008

Genre: Alternative Rock, Pop, Trip Hop, Gothic Rock, Industrial, Electronika.

Terasa bersemangat rasanya untuk mereview album perdana penyanyi asal Estonia ini. Selain memiliki warna musik yang unik, suaranya juga memiliki keunikan tersendiri. Siapakah gerangan Kerli yang bernama lengkap Kerli Koiv ini? Terlahir pada tahun 1987, Kerli memulai debut menyanyinya dengan mengikuti kontes-kontes menyanyi. Dengan keunikannya, Kerli berhasil mencuri perhatian dan akhirnya mendapat tawaran untuk merekam lagu-lagunya sendiri dan diedarkan secara luas. Album perdana Kerli yang berjudul Love Is Dead akhirnya dirilis pada bulan Juli 2008.

kerli-02

Album ini berisikan 13 tracks termasuk 1 bonus track yang bisa di download melalui iTunes. Keunikan album ini terletak pada melodi dan warna musik yang unik, memadukan sound-sound modern yang di dominasi elektronika dengan distorsi ringan dan terkadang simbal yang berisik perpaduan tekno dan pop dengan distorsi dan beat medium, aneh namun indah. Sebuah eksperimen yang lumayan berani dengan memperkenalkan berbagai jenis genre musik yang dicampur-aduk. Bila kamu pernah mendengarkan Bjork, mungkin akan mudah mengadaptasi musik Kerli. Bedanya Kerli dengan Bjork, Kerli lebih memiliki melodi dalam bernyanyi, walaupun kadang seperti terdengar fals yang membuat gw berfikir mungkin inilah ciri vokalnya. Beberapa vokal juga sedikit mengingatkan akan gaya bernyanyi Nelly Furtado. Unik, hanya kata itulah yang paling tepat menggambarkan bagaimana Kerli bernyanyi.

Beberapa lagu yang direkomandasikan dari album ini antara lain: I Want Nothing, Bulletproof, Creepshow, Walking On Air, dan tentu saja Love Is Dead yang dijadikan judul album ini.

-Adjie-

19
Dec
08

The All-American Rejects – When The World Comes Down

2949174622_c4d1f73cfe

Tahun Rilis:  2008

Genre: Alternative Rock, Pop Punk

Sudah lama sekali rasanya sejak mulut ini ikut menyanyikan Dirty Little Secret seiring dengan lantunan vokal Tyson Ritter.  Tiga tahun berlalu dan mereka kembali dengan album ketiganya, When The World Comes Down. Secara musikalitas tidak ada yang banyak berubah dari band ini, masih membawakan irama yang sama. Mereka belum menunjukkan perbedaan yang mencolok dari album sebelumnya. Kalau boleh dibilang, agak bosan dengan musik yang begitu-begitu saja. Ada sedikit perbaikan pada kualitas sound namun itu tidak cukup untuk menyebut album ini sesuatu yang baru dari mereka.  Jujur saja, sejak lagu pertama sampai ketiga terasa biasa saja. Dua tiga kali mengulang langsung bosan. Gives You Hell agak lumayan di kuping, iramanya old school. Yang menarik dari lagu ini adalah bagian koor yang sedikit memberi suasana baru. Salah satu eksperimen mereka kah? Yang jelas cukup berhasil.

Lagu kelima, Mona Lisa dibawakan dengan santai dengan lantunan gitar akustik yang dilatari oleh suara piano. Melodinya ringan namun indah. Bukan sesuatu yang biasa kamu dapatkan dari The All-American Rejects. Melalui lagu inilah baru ketahuan dari mana asal judul album diambil.

Lagu berjudul Breakin sedikit mengingatkan pada salah satu lagu dari band punkrock, Box Car Racer. Lucunya, pada bagian chorus malah lebih mirip Angels & Airwaves yang juga digawangi oleh orang yang sama dengan Box Car Racer.

Secara keseluruhan, album ini belum bisa dibilang album terbaik mereka. Album terbaru ya, terbaik? belum. Beberapa lagu yang direkomendasikan antara lain: Real World, Gives Me Hell, dan Another Heart Calls.

-Adjie-

24
Oct
08

Jibriel – Memecah Kesunyian

Dengan harapan untuk dapat memecah kesunyian, sesuai dengan judul albumnya, Band bernama Jibriel mencoba untuk memberikan suguhan musik mereka untuk meramaikan industri musik Indonesia. Melalui musik yang lebih kearah modern alternative rock bercampur japanese rock style, dengan tempo cepat terkadang medium dan slow, band ini menghadirkan 12 lagu terbaik mereka ditambah 1 lagu tambahan dalam paket CD dan kaset yang telah beredar dipasaran.

Band yang beranggotakan Ozzy (Vocal), Nara (Gitar/vocal latar), Zaindra (Gitar/keyboard/piano/vocal latar) dan Fahri “Ai” Albar (Drums) membuka album perdana mereka dengan lagu “Satu langkah lagi” yang lebih berirama rock n’roll dengan ritme punkrock kental, terutama pada bagian drum. Vokal Ozzy terdengar menonjol dan agak serak. lagu yang lumayan unik dengan permainan tempo yang agak tidak biasa dipakai oleh band-band Indonesia. “Dendam” yang menjadi lagu kedua memiliki intro yang kelam, sunyi dan terdengar stabil, tidak terlalu ngotot. Sepanjang lagu menghadirkan nuansa datar, sama sekali tidak menunjukkan suasana dendam, malah bisa dibilang lebih kearah kesepian. Secara keseluruhan, lagu ini gw rekomendasikan untuk di dengar.

Musik yang disuguhkan dalam album perdana Jibriel ini lumayan enak didengar dan nada-nadanya mudah dicerna, tidak terlalu ribet. Namun sayang, beberapa lagu malah terdengar sama karena tempo dan ketukan drum serta riff gitar yang serupa. Kalau ini dijadikan ciri khas oleh Jibriel, tentunya akan cepat bosan mendengarkan lagu-lagu mereka. Beberapa lagu ringan seperti “Bayang” memberikan kesan terlalu lunak bila dibandingkan dengan lagu-lagu lain. “Sinar” yang nge-rock tapi komersil, “Diakhir Waktu” yang awalnya terkesan bandel langsung turun tensinya begitu vokal masuk, untung masih dapat diselamatkan oleh reff yang lumayan kena dengan musiknya.

Yang gw khawatirkan ternyata benar-benar ada, Jibriel, sama seperti band-band cadas komersil Indonesia lainnya, membawakan lagu cinta yang mendayu-dayu, Uh, sesuatu yang bikin gw terus terang hilang selera. “Selalu Untuk Selamanya” benar-benar merusak keseluruhan isi album ini. kalau saja lagu ini diletakkan paling belakang, tentu kecewa sekali gw setelah mendengarkan seluruh album. Single “Raih” akhirnya terdengar. Lagu yang dijadikan single pertama ini bernuansa rock ala Jepang dengan melodi indah yang dibawakan dengan asik, didukung oleh ketukan drum yang stabil dan bass pengiring yang ntah kenapa dibeberapa bagian hilang begitu saja, tak terdengar. Vokal Ozzy dalam lagu ini sedikit mengingatkan gw dengan Hyde dan Gackt, dua vokalis asal Jepang.

Sisa lagu yang ada, seperti kata gw diawal-awal, terdengar mirip satu dengan yang lainnya. Juga eksplorasi vokal yang kurang. Masih tedengar sama. Untuk album perdana, Jibriel lumayan berhasil namun sayang mereka benar-benar terkesan sedang mencoba-coba pasar musik, kurang total dan ragu-ragu. Berbeda sekali dengan aksi panggung mereka yang beringas, garang dengan dandanan ala Visual Kei. 

-Adjie-

22
Aug
08

Katinka ~ Finding The Balance [EP]

tinka

Penyanyi solo asal Indonesia yang secara ngga sengaja gw temuin selagi browsing di internet. Lahir di Indonesia pada tanggal 16 Februari 1981, Katinka, biasa dipanggil Tinka sangat menyukai puisi. Dengan jiwa idealis, Tinka mengembangkan hal yang paling di sukainya itu menjadi kegiatan bermusik dan menulis lagu. Beberapa lagu telah berhasil dibuat dan direkam olehnya.

Tinka memiliki karakter suara yang ringan, ditambah lagi dengan warna musiknya yang santai, ngga ngotot. Lebih di dominasi oleh suara gitar dan drum middle. Cukup asik membawa suasana santai. Lagu-lagu ciptaannya dapat di dengar melalui Blog pribadinya.

Kegiatan yang paling di sukai oleh perempuan yang kini tinggal di Berlin ini adalah mengamen. Ya, Tinka lebih senang mengapresiasikan lagu-lagunya dengan cara mengamen di jalan. Suatu keberanian yang patut di acungi jempol.

Untuk tahu lebih jauh mengenai Tinka, silakan di tengok Official Myspacenya

30
Jul
08

Prisa – Prisa [Selftitled Album]

Album solo pertama perempuan asal Jakarta bernama lengkap Prisa Adinda Arini Rianzi. Untuk yang tidak tahu siapa itu Prisa, dia adalah seorang gitaris perempuan Indonesia yang menjadi salah satu anggota Gitaris.com. Pengalaman bermusiknya lumayan banyak, dari panggung ke panggung, bahkan sempat rekaman, antara lain dengan grup band J-Rocks. Pernah tergabung dalam band Zala, dan Dead Squad, lalu juga Morning Star. Prisa sepertinya memiliki cukup pengalaman untuk akhirnya dapat melepas album solo perdananya ini.

Album yang mungkin menjadi penantian para penggemar Prisa yang biasa menyaksikan permainan gitarnya di panggung. Ada yang cukup jelas berbeda di album ini. Bila sebagian penggemar musik underground yang biasa melihat Prisa bersama Zala atau Dead Squad, mungkin perbedaan ini terasa jelas sekali. Namun bagi yang mengikuti Prisa semenjak Morning Star, mungkin ini adalah penantian panjang mereka untuk dapat mendengar suara merdu Prisa.

Album ini menghadirkan 10 buah lagu yang lebih dominan berirama sedang dan pelan. Dibuka dengan lagu Bunuh Saja, yang lebih banyak menampilkan sound gitar akustik, lagu disambung dengan distorsi ringan. Album ini banyak mengumbar cinta. Sound-sound manis, dan ritme-ritme sedang. Bisa dibilang album ini terlalu pop untuk seorang yang lebih banyak dikenal sebagai rocker, dan kalau boleh dibilang, beberapa lagunya malah mengingatkan pada penyanyi Vanessa Carlton, baik dari beberapa irama dan cara bernyanyi.

Yang bisa dibilang nge-rock, mungkin ada pada lagu Muka Dua. Lagu yang menampilkan distorsi gitar yang agak berat, tapi cuma sebatas awal-awal lagu saja. Rahasiaku adalah lagu yang bisa gw rekomendasikan. lagu ini memiliki beat drum yang asik, sound gitar akustik dan elektrik yang di komposisi dengan baik.

Satu hal yang bikin gw kurang sreg ada di lagu Maafkan Saya Sus …. Sudah berapa kali nama Joni dipakai dalam sebuah lagu di Indonesia? /rif, Netral, The Doctors, dan beberapa lagi yang tidak perlu gw sebutkan disini pernah memakainya. Seakan-akan tidak ada nama lain yang bisa dipakai untuk sebuah lagu selain Joni. Ah, come on! Kalau meminjam istilah gaul, “Basi Banget Deh Ah!”

Secara keseluruhan, ini belum menjadi album terbaik, namum memiliki potensi untuk menjadi lebih baik. Dan untuk Prisa, akhirnya dia bisa menunjukkan warna aslinya disini. Well, you cannot judge a book from it’s cover. Penampilan luar kadang berbeda dengan yang ada di dalam hati.

-Adjie-

21
Jul
08

Garasi – Garasi II

Lumayan lama sejak album pertama Garasi keluar di pasaran, dan sudah terlalu lama pula para penggemar mereka menantikan hadirnya sebuah album baru dari band kesayaan mereka. Garasi, sebuah band beranggotakan 3 orang, Aiu Ratna, Fedi Nuril, dan Aries, yang dulu pernah mencoba menancapkan eksistensi mereka di dunia musik Indonesia melalui album perdana mereka, Garasi, kini kembali dengan album kedua yang diberi judul Garasi II.

Waktu yang lumayan lama membuat warna musik mereka seakan juga mengalami pengendapan yang lama. Mereka kini menghadirkan sound yang lebih baik dari sebelumnya. Terdengar lebih berisi, dan ramai. Suara bass lebih terdengar, dan ada penambahan sampling-sampling yang tampaknya akan mereka jadikan ciri khas musik mereka. Mencoba bereksperimen dengan beragam nuansa musik, mari kita bedah lagu-lagu di album kedua mereka.

Lagu pertama di album ini berjudul ”Lelah” yang awalnya terdengar ringan, namun lalu memasuki tempo yang lumayan cepat. Kembali pelan, dan naik lagi sampai akhir, seakan ingin menunjukkan klimaks, sampai akhirnya lagu diakhiri dengan suara yang menggambarkan kelelahan, sesuai dengan judul lagunya, dimana seseorang digambarkan begitu kecewa, marah, dan lalu merasa semua itu tidak ada gunanya untuk disesali dan biar saja lewat.

Selanjutnya, “Tak Ada Lagi” menjadi lagu kedua yang mereka hadirkan dalam album kedua ini. Sebuah lagu ringan bertempo sedang yang dibawakan dengan rapi. Berbeda dengan “Luna” , lagu ketiga yang diawali dengan intro gitar yang agak berat. Dan komposisi musik yang berbeda dari dua lagu sebelumnya. Sedikit mengingatkan dengan warna musik band asal Inggris, Muse. Distorsi, tom, dan simbal mendominasi lagu ini.

Perlahan tempo dibawa naik dengan hadirnya lagu keempat, ”Duakan Aku” yang berirama lebih ceria walau tema lagu dan distorsi ringan melekat sekali dilagu ini. Sampling mulai banyak digunakan dilagu ini, dan vokal Aiu terdengar lebih stabil. Komposisi lagu yang lumayan unik karena memadukan dua jenis gaya musik yang berbeda, sedikit drum punk, dan pop elektronik.

Suasana sedih berbau dendam ada di lagu ”Salam Untuk Dia” yang diawali dengan petikan gitar yang asik banget, santai. Vokal Aiu lagi-lagi terdengar menarik dan beda dengan lagu-lagu Garasi sebelumnya. Rapi, dengan intonasi naik turun yang stabil. Gw senang sekali dengan lagu ini. Aries juga turut membangun nuansa lagu ini dengan simbal-simbalnya yang berisik tapi asik.

Tensi agak turun saat “Ingin Kau Kembali” mulai mengalun. Lagu sederhana yang tidak terlalu ribet. Pelan dan terdengar lebih seperti harapan seseorang yang sedang galau. Aiu terdengar bernyanyi lebih merdu sambil diiringi solo gitar yang mengalun indah sebagai pelengkap keindahan lagu ini. Jauh sekali berbeda dengan ”Aggressive Trace” yang meluncur kemudian. Lagu ber-beat agak berat ini agak bernuansa padang pasir. Bass yang juga berat menemani distorsi gitar yang sepintas agak mengingatkan kita pada musik pengiring film Mortal Kombat. Suatu suguhan berbeda yang coba untuk dikenalkan oleh Garasi. Dengan sedikit slap bass dan yang sangat gw tunggu-tunggu, Screamo Aiu. Sudah lama rasanya ingin mendengarkan screamo yang walau sedikit, namun cukup membuat gw makin cinta sama band satu ini.

Sedih dan kesepian adalah hal pertama yang gw tangkap saat mendengarkan ”Full Moon”. Dibawakan dengan petiakan dan iringan gitar akustik. Sebuah curahan hati yang dibawakan dengan indah oleh Garasi, baru kemudian disambung dengan gebukan drum santai, dan akhirnya sampai pada klimaks yang lumayan menyentuh. Sebuah lagu indah yang berhasil memeluk emosi gw. Bila kau sedang seorang diri mendengarkan lagu ini, pasti kamu tahu apa maksud gw.

Sound berat lagi-lagi di geber dalam lagu “Posesif” yang sayangnya entah kenapa malah megingatkan gw sama lagu sebelumnya, Aggressive Trace. Ditambah scratching, lagu ini jadi terdengar agak lain, namun secara keseluruhan tidak ada bedanya dengan Aggresive Trace. Malah gw merasa ini masih bagian lagu yang sama dengan part berbeda. Atau kalau bisa dibilang sekuel.

Garasi mencoba menggabungkan sound Punk dengan sedikit metal dalam lagu “Nothing’s Gonna Last”. Jujur saja, gw lumayan kaget pas denger lagu ini. Double pedal Aries dan tempo ala Punkrock, sesuatu yang tidak gw harapkan sebelumnya dari mereka. Menggabungkan lirik berbahasa Indonesia dengan lirik Inggris, lagi-lagi suatu kejutan yang asli, benar-benar membuat gw terkejut.

Album ditutup dengan lagu ”Utsurona Kokoro” yang merupakan versi Jepang dari lagu Lelah. Sebuah kejutan lain yang mereka berikan.

Apa yang kira-kira ingin dibuktikan oleh Garasi dengan album kedua ini? Bukti bahwa mereka masih eksis di dunia musik Indonesia? Penyegaran dari segi musikalitas para personelnya? Atau Keseriusan dalam memenuhi janji pada penggemar yang telah lama menantikan kembalinya mereka? Apapun alasan dibalik semua itu, Album ini merupakan pembuktian bahwa mereka akan terus berusaha sebaik mungkin untuk memberikan yang terbaik.

-Adjie-

24
Jun
08

Once [Original Soundtrack]

Tahun Rilis : 2007

Genre : Indie/Akustik

Artis : Glen Hansard & Marketa Irglova

Santai, lembut, terkadang berisi makian, namun indah dan menarik simpati. Itu kira-kira perasaan yang tergambar saat mendengarkan lagu-lagu dalam album ini. Album yang merupakan Original Soundtrack untuk film “Once”.

Album dibuka dengan duet Glen dan Marketa yang berjudul “Falling Slowly”. Lagu dengan intro gitar yang manis dan suara Glen yang merdu, diiringi oleh suara Marketa yang turut membuat lagu ini indah. dibawakan dengan irama slow yang perlahan naik hingga mencapai klimaks. Yang keren tentu saja falsetto yang dasyat.

Dalam lagu “When Your Minds Made Up”, suasana berganti menjadi lebih semangat dengan sound drum yang mampu memotivasi. Ini benar-benar lagu untuk memacu motivasi. Kejar mimpimu dan lakukan apa yang kau anggap benar, begitu kira-kira pesan yang ada di lagu berirama sedikit folk ini.

Suasana sentimentil hadir dalam lagu “The Hill” yang dibawakan oleh Marketa dengan alunan piano yang diiringi oleh gesekan biola. Lagu yang sedih dan dapat membuat yang mendengarkan merasakan kesadihan karakter “Girl” dalam film ini.

Secara keseluruhan ini adalah album yang cukup layak untuk dikoleksi. Berbeda jauh dari hingar bingar musik yang sedang nge-tren sekarang ini. Cukup memberi suasana lain dan dua jempol dari gw.

-Adjie-

07
Jun
08

The Doctors – 1st is Magic

Playlist musik gw bertambah dengan album pertama dari kuartet The Doctors. Tadinya gw kira mereka cuma band pop perempuan biasa seperti yang sudah-sudah, tapi harus gw akui kalo gw salah, mereka unik.

Album ini dibuka dengan lagu Terlanjur Mau yang langsung mengajak kita bergoyang, setidaknya cukup menggoyangkan kepala keatas dan kebawah. Irama rock’n roll yang kental dalam ketukan drum dan sound gitar yang garing dan tebal jadi kelebihan lagu ini. Entah kenapa lagu ini sangat pas sekali dipilih sebagai track pertama. Lagu selanjutnya, Tak Ada Waktu diawali dengan intro gitar yang langsung disambung dengan ketukan drum santai yang mengalun halus. Masih berirama rock’n roll namun dengan sound yang lebih modern. Mendengarkan lagu ini paling enak saat sedang dalam perjalanan dengan bus atau mobil pribadi ditengah kota, dalam keadaan tidak macet tentunya.

Selesai dengan rock’n roll, kita langsung dibawa dalam irama ballad yang agak nge-pop berjudul Menyesal. Lagu sedih yang sama sekali tidak cengeng dan malah terdengar sangat indah, membuat siapapun yang mendengarnya ikut terhanyut. Intro drum yang agak kering ditampilkan dalam lagu selanjutnya berjudul Song Of Goodbye yang berirama slow dengan sound synth yang dijadikan background lagu ini.

Akhirnya kita masuk ke lagu yang dijadikan single pertama album ini, Salah Siapa. Lagu berirama nakal yang lebih kearah kocak, kalau tidak mau dibilang jenaka. Benar-benar cocok dijadikan lagu jagoan karena mewakili keseluruhan sound dan musik yang yang ada di album ini, ada sedikit pop dan rock. Kata Joni yang menjadi lagu selanjutnya juga lumayan asik dalam hal musik, sayang memang, liriknya terlalu biasa dan cenderung norak.

Oke, lagi-lagi kita disuguhi dengan intro ketukan drum dalam lagu This Life yang agaknya mulai sedikit membuat pendengar bosan, tapi untungnya lagu ini dibuat beda dengan lirik berbahasa Inggris. Sedikit banyak membantu keragaman album ini.

Sepertinya gw salah, lagu selanjutnya, Langsung Party terdengar sangat norak, terutama liriknya yang sepertinya mau sok-sok gaul. Langsung saja kita skip ke lagu selanjutnya, Heran yang lagi-lagi menawarkan irama jenaka. Lumayan asik dan mengembalikan mood yang sempat hilang. Buat gw lagu ini unik banget, dan tepat kena sasaran.

Akhirnya album ini ditutup dengan lagu terakhir, Mati Rasa yang diaransemen dengan rapi dengan sound yang bersih. Secara keseluruhan gw salut sama mereka yang mencoba menawarkan sesuatu yang belum pernah gw dengar sebelumnya, terutama dari band-band perempuan Indonesia. Jadi, jangan menyerah, jalan kalian masih panjang.

-Adjie-




 

November 2009
M T W T F S S
« Oct    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Twitter Page

  • Send me photo and text messages from your iPhone/iPod! Download http://ffm.quik.ly/download and add me: RestuAdjie 4 hours ago
  • Buahahahaha..... RT @dianarakeren: kejatohan jambu aer... ouch, sakiiit T_T *usep2 ubun2* T_T 2 days ago
  • OMG! I just flirt with a girl I rarely met at college! 4 days ago
  • Wakakakaka.. 4 days ago
  • °º¤ø ¸„ø¤º°¨¨°º¤ø ¸„ø¤º°¨¨°º¤ø ¸„ø¤º°¨¨°º¤ø ¸„ø¤º°¨¨°º¤ø ¸„ø¤º°¨¨°º¤ø KEEP THE WAVE GOING „ø¤º°¨¨°º¤ø ¸„ø¤º°¨¨°º¤ø¸„ø¤º°¨¨°º¤ø ¸„ø¤º°¨¨°º¤ø, 4 days ago