Archive for the 'Review Film' Category

24
Oct
09

Haunted Universities [Mahalai Sayongkwan]

mahalai-poster01Tahun Rilis: 2009

Sutradara: Bunjong Sinthanamongkolkul

Pemain: Anna Reese, Ashiraya Peerapatkunchaya, Atis Amornwetch, Pantila Fuglin, Panward Hemmanee

Sekilas melihat trailer atau posternya, pasti langsung terbayang akan seseram apa film ini. Tapi maaf bila review ini menurunkan ekspektasi untuk siapa saja yang berharap film ini akan membawa sensasi tegang dan ketakutan. Haunted Universities adalah film Thailand terbaru yang untuk kesekian kalinya mengangkat tema hantu di kampus, walaupun keseluruhan film tidak selalu bertempat di kampus. Ceritanya sendiri terbagi menjadi empat cerita yang terjadi dalam satu malam yang sama. Untuk menjelaskan kenapa kejadian malam itu terjadi, ada flashback-flashback yang muncul bergantian dengan scene utama.

13211Mahalai_BIO-(9)

Kisah pertama menceritakan tentang mahasiswa yang menjadi pengedar narkotika. Suatu malam dia di kejutkan oleh kedatangan bandar yang merasa di tipu. Malam itu, mereka membawa si mahasiswa bersama pacarnya untuk mengambil paket narkotika di loker kampus. Kampus -yang tentu saja- berhantu. Untuk anda yang berharap kisah pembuka ini akan membawa ketegangan, ya, benar, tapi membawa perasaan takut? Sama sekali tidak. Semua terkesan datar dan formulanya sudah terlalu biasa untuk penggemar film horor.

Kisah kedua lebih fokus kepada mitos hantu yang kerap kali diceritakan akan selalu muncul di tempat kematiannya dan mengulang kejadian yang terjadi sebelum kematiannya. Tidak ada yang baru disini, ditambah akting beberapa figuran yang benar-benar mengganggu kenikmatan menonton.

20090902723_04

Kisah ketiga mungkin akan menjadi penghibur yang lumayan menyenangkan. Penghibur dalam artian benar-benar menghibur, konyol, lucu, dan sedikit seram, ya sedikit sekali seramnya. Seluruh isi bioskop dibuat terbahak dengan tingkah dua karakter utama dalam kisah ini. Ceritanya sendiri tentang dua orang mahasiswa yang menyusul dosennya ke rumah sakit untuk menjelaskan kepada sang dosen kenapa mereka terlambat menyerahkan tugas.

Kisah terakhir menceritakan latar belakang seorang petugas SAR/Medis yang menjadi benang merah untuk keseluruhan cerita. Ini mungkin menjadi cerita yang membuat kita sadar “Hey! iya, ini film horor!” Kemunculan sang hantu lumayan seram dan menegangkan.

Secara keseluruhan, film ini cukup menghibur, cuma terlihat sekali digarap dengan setengah hati. Penonton mengharapkan ketegangan dan sensasi ketakutan saat memutuskan untuk menonton film horor di bioskop, bukan tertawa terbahak-bahak.

-Adjie-

06
Aug
09

G.I. Joe: The Rise of Cobra

gi_joe_the_rise_of_cobra_20090731_1681851220Tahun rilis: 2009

Sutradara: Stephen Sommers

Pemain: Channing Tatum, Dennis Quaid, Jonathan Pryce, Joseph Gordon-Levitt, Lee Byung Hyun, Marlon Wayans, Rachel Nichols. Sienna Miller.

Mengejutkan, itu hal pertama yang terlintas saat takjub menyaksikan adegan pembuka yang tanpa basa-basi langsung mengumbar aksi-aksi adu tembak dan ledakan dimana-mana. Tidak di sangka-sangka, G.I. Joe yang tadinya dianggap akan biasa saja seperti beberapa fim akhir-akhir ini yang sedikit mengecewakan dan jauh dari ekspektasi, mampu menghadirkan hiburan yang dasyat dan memukau.

Memang CGI tidak seindah dan serealistis Transformers 2, namun plot dan alur penceritaan jauh lebih baik. Nyaris tidak ada kesempatan bersantai-santai ria saat menonton, less talk, more action. Joke yang dihadirkan sangat ringan tapi lumayan berhasil memancing tawa penonton. Masing-masing pemain membawakan perannya dengan baik. Satu hal yang patut di perhatikan adalah, dengan begitu banyaknya karakter inti, tidak ada satupun yang perannya mubazir. Semua mendapatkan porsi masing-masing dengan pas. Ditambah lagi dengan hadirnya cameo Jinx dan Brendan Fraser yang berperan sebagai Sgt. Stone, meski sebentar, cukup memorable.

72543436

Penempatan flashback juga menjadi hal yang menarik untuk di bahas. Stephen Sommers sangat cerdik menyelipkan flashback-flashback ini dalam beberapa scene yang secara tidak langsung berhubungan dengan scene inti dan tema yang sedang di sorot. Pendalaman karakter jadi terjaga tanpa harus ber-drama ria yang tentunya akan membuat ngantuk. Kisah cinta juga porsinya tidak berlebihan. Adegan perang seperti perang di daratan, perang di udara, dan perang di lautan berhasil membuat tegang.

Alur cerita cepat dengan editing yang rapi dan terjaga. Sinematografi juga cantik, mampu menghadirkan beberapa scene memorable dan perasaan heroik. Tentu saja ini di dukung oleh scoring yang juga baik. Salah satu film terbaik tahun ini.

-Adjie-

26
Jun
09

Transformers: Revenge of the Fallen

96mcs8

Tahun rilis: 2009

Sutradara: Michael Bay

Pemain: Shia LaBeouf, Megan Fox, Josh Duhamel, Tyrese Gibson, John Turturro

Masih terpukau dengan suguhan special effect yang dasyat pada film Tranformers dua tahun yang lalu, ekspektasi menjadi begitu tinggi akan film kedua ini. Terlebih lagi dengan hadirnya beberapa gambar design yang sempat keluar, bocoran kisah melalui komik prekuel dan adaptasi film, serta tentu saja banyaknya versi trailer, TV Spot, dan special preview. Mungkin akan banyak yang kecewa kalau Daily Chapter mengatakan film ini tidak memuaskan ekspektasi yang sudah terbangun tersebut.

Transformers: Revenge of the Fallen banyak sekali menyuguhkan kehebatan special effect yang tentu saja menjadi nilai jual utama film ini. Untuk plot, harus diakui lebih berbobot dari film pertama. Bila dulu plotnya terkesan biasa saja dan lebih mengandalkan adegan aksi, untuk kali ini bisa dikatakan seimbang antara cerita dan aksi. Interaksi karakter manusia juga lebih banyak dan kali ini terlihat jelas bahwa karakter manusia adalah bagian terpenting dalam cerita. Michael Bay tampaknya ingin para karakter manusia ini benar-benar memiliki peran dan bukan sekedar tempelan untuk melangkapi kisah perseteruan Autobot dan Decepticon.

Hal lain yang menarik adalah di tampilkannya Pretender dari pihak Decepticon untuk memata-matai Sam. Untuk yang belum tahu, Pretender adalah anggota Decepticon yang mampu menyamar dalam wujud manusia. Jumlah robot yang bertambah banyak menjadi poin menarik, namun sayangnya, terlalu banyak karakter membuat kurangnya pendalaman karakter dan porsi tiap-tiap karakter menjadi sedikit dan malah beberapa hanya mendapat kesempatan tampil selama kurang dari dua atau tiga menit, bahkan ada yang cuma hadir dalam hitungan detik saja. Ini terlihat jelas dalam kubu Autobot. Tentu saja hal ini sangat mengecewakan. Seperti contohnya karakter Jolt di kubu Autobot yang hanya mendapat jatah saat para Autobot berkendara bersama di jalan raya lalu muncul dalam bentuk robot saat di pangkalan NEST, setelah itu tidak muncul lagi sama sekali, bahkan dalam adegan pertampuran di gurun. Ratchet dan Iron Hide pun hanya mendapat porsi kecil. Karakter baru yang perlu mendapatkan perhatian adalah Skids, Mudflap, dan Sideswipe dari kubu Autobot, dan Soundwave, Jetfire, serta Wheelie dari pihak Decepticon.

Kali ini pihak Decepticon mendapat porsi lebih banyak, bukan hanya dalam perkembangan karakter yang di tampilkan dengan lebih banyak dialog, namun juga jumlah mereka yang jauh lebih banyak dari Autobot, baik yang sudah berada dibumi maupun yang baru datang dan masih dalam wujud Cybertronian mereka.Yang unik, ternyata para Constructicon dalam kelompok Decepticon terdiri dari lebih dari satu karakter untuk kendaraan yang sama. Satu kendaraan untuk bertarung dalam wujud robot, dan satu lagi untuk bergabung menjadi Devastator, robot raksasa yang memiliki intelegensia kecil dan hanya mengandalkan kekuatan yang mampu merusak apa saja yang ada di hadapannya. Puas rasanya melihat warna-warni di pihak Decepticon dengan hadirnya Long Haul, Scrapper, Scavenger, dll.

Seperti di singgung diatas, cerita mengalami perbaikan dari film pertama. Lalu, adegan aksi ditampilkan dengan sangat baik namun dengan eksekusi yang kurang memuaskan. Pergerakan antar robot yang terlalu cepat dan kurangnya fokus untuk beberapa adegan. Bagaikan menyaksikan layar bioskop yang goyang terkena gempa, dasyat dan membuat pusing. Cerita yang menggantung sangat membuka peluang besar untuk film ketiga. Transformers: Revenge of the Fallen adalah sebuah tontonan hiburan yang sangat menghibur. Kesan wah berhasil di terima oleh penonton. Namun untuk sebuah film secara keseluruhan, masih banyak yang harus di perbaiki. Ini PR untuk Michael Bay, karena sudah jelas kisah ini masih akan berlanjut.

-Adjie-

28
May
09

Terminator Salvation

Terminator-salvation-poster

Tahun rilis: 2009

Sutradara: McG

Pemain: Christian Bale, Sam Worthington, Anton Yelchin, Moon Bloodgood, Bryce Dallas Howard, Common, Jadagrace Berry, Helena Bonham Carter

Tidak cukup dengan 3 film, Terminator masih terus berlanjut. Setelah serial TV The Sarah Connors Chronicle, kini dibuat film berjudul Terminator Salvation. Dibintangi oleh Christian Bale dan Sam Worthington, film arahan sutradara McG ini menceritakan kisah di masa depan saat bumi mulai menuju kehancuran dan Terminator-Terminator buatan Skynet terus menteror manusia sampai tujuan mereka tercapai.

Kisahnya dibuka pada tahun 2003 dimana seorang terpidana mati bernama Marcus yang tanpa tahu apa yang dilakukannya langsung menandatangani surat persetujuan untuk mendonasikan tubuhnya setelah hukuman dilaksanakan. Marcus kemudian terbangun kembali pada tahun 2018, masa di mana manusia berjuang untuk bertahan hidup melawan teror yang di timbulkan oleh mesin-mesin pembunuh. Film yang banyak menampilkan adegan aksi dan berbagai ledakan ini sangat lemah dalam cerita. Tidak ada hal menarik dan cenderung klise. Adapun kelemahan ini dapat sedikit ditutupi dengan kecanggihan teknologi visual yang ditampilkan.

terminator-salvation-580x324

Christian Bale yang seharusnya menjadi tokoh penting dalam film ini kalah pamor oleh kehadiran karakter Marcus yang diperankan oleh Sam Worthington. Aktor yang tadinya kurang dikenal ini berhasil mencuri perhatian. Di tambah lagi, karakter yang diperankannya lebih banyak di sorot. Satu lagi bintang cemerlang yang menonjol adalah Anton Yelchin yang berperan sebagai Klye Reese muda. Belum lama melihat penampilanya dalam Star Trek, Anton berhasil menunjukkan kebolehannya berakting. Masih belum cukup, hadir pula satu wajah yang sangat di kenal dalam dunia Terminator, disini peran CGI sangat besar dan terlihat nyata. Walau hanya sebentar, momen itu akan cukup membuat anda sedikit menahan nafas.  Terlebih lagi saat John Connor mengucapkan “I’ll be back”. Namun sayangnya momen ini tidak terlalu berkesan karena terlalu cepat dan kurang di dramatisir, entah sengaja untuk membawa nostalgia atau hanya dijadikan pemancing tawa penonton.

Selain lemahnya skrip, ada juga beberapa kejanggalan seperti pusat produksi Skynet yang masih menggunakan teknologi yang seharusnya digunakan manusia seperti kunci berdigit dan pemindai retina, serta teknologi touchscreen pada beberapa pintu. Ini aneh karena tempat tersebut seharusnya full machines, tidak ada manusia yang bekerja di tempat itu, semuanya dilakukan oleh mesin secara otomatis dan dengan teknologi sinyal wireless. Mereka dapat dengan mudah mengakses setiap ruang disana tanpa harus menekan digit atau memindai retina. Terlepas dari beberapa poin negatif, Terminator Salvation mampu membawa ketegangan lewat aksi-aksi seru manusia melawan mesin. Cocok sekali bagi anda yang tidak mau terlalu ambil pusing berfikir. Tinggal duduk dan nikmati.

-Adjie-

26
May
09

Lesbian Vampire Killers

lesbian-vampire-killers

Tahun rilis: 2009

Sutradara: Phil Claydon

Pemain: James Corden, Mathew Horne, Paul McGann, Emer Kenny, Lucy Gaskell, Louise Dylan, Ashley Mulheron, Vera Filatova, Silvia Colloca, MyAnna Buring

Membaca judul diatas pasti anda sudah bisa menebak film apa yang akan kita bicarakan. Ya, sebuah film horor komedi Inggris besutan sutradara Phil Claydon. Bila anda berfikir betapa nyelenehnya judul tersebut, itu belum seberapa bila dibandingkan dengan keseluruhan filmnya itu sendiri. Bayangkan sebuah film komedi seks namun dalam versi horor. Kira-kira seperti itulah gambaran yang akan anda dapat saat menyaksikan film ini. Memang tidak ada adegan vulgar berlebihan atau adegan-adegan seronok, namun kata-kata kotor dan jorok banyak sekali dipakai. Unsur-unsur seks juga menjadi hal dominan disini. Air suci yang di taruh didalam kondom, darah vampire yang sengaja dibikin kental berwarna putih yang mengingatkan pada sperma, juga pedang dildo. Heh, bukan saja bengong menyaksikan semua itu, tapi bener-benar tertawa dalam arti yang berbeda. Sungguh konyol dan berlebihan.

lesbian-vampire-killers-898685487

Ceritanya sendiri bermula pada jaman dahulu saat sebuah desa dikutuk oleh seorang vampire perempuan bernama Carmilla yang mati dibunuh. Sejak saat itu, setiap perempuan di desa tersebut akan berubah menjadi vampire saat mencapai umur 18 tahun. Memang banyak adegan lucu yang berhasil memancing tawa, belum lagi interaksi antar pemain yang baik. Kekuatan film ini ada di dialog-dialog yang terdengar natural yang di imbangi oleh ekspresi para pemain yang terlihat spontan. Beda sekali dengan film-film sejenis buatan Amerika yang lebih banyak mengumbar sisi vulgar secara visual, disini justru dibangun melalui dialog. Sebuah alternatif tontonan yang menghibur dan sedikit menghilangkan kebosanan menyaksikan film Amerika yang stereotype. Mungkin ini bukan hal baru untuk sinema Inggris, dan bisa saja tema yang diangkat sudah begitu sering dipertontonkan di sana. Terbukti dari banyaknya kritik negatif terhadap film ini. Namun, bagi anda yang terlalu sering menyaksikan komedi ala Hollywood, tidak ada salahnya mencoba film satu ini.

Dengan banyaknya kata-kata kotor, jelas sekali film ini ditujukan untuk penonton dewasa. Selain hal- hal yang sudah disinggung, beberapa pakem dalam kisah-kisah vampire juga digunakan, seperti contohnya vampire yang tidak dapat masuk kedalam rumah karena tidak di undang masuk. Dalam kisah legenda vampire memang disebutkan bahwa vampire tidak dapat menyerang manusia yang berada didalam rumah tanpa dipersilakan masuk. Karena itulah vampire memiliki kemampuan untuk mempengaruhi jalan pikiran manusia bagai hipnotis dan berusaha membuat diri mereka diundang masuk. Sebuah tontonan menarik di kala iseng. Tentu saja bila anda tertarik menghabiskan sekitar satu setengah jam untuk menyaksikannya.

-Adjie-

15
May
09

The Ramen Girl

3368347910_dbb4ba7e27_o

Tahun rilis: 2008

Sutradara: Robert Allan Ackerman

Pemain: Brittany Murphy, Toshiyuki Nishida, Tammy Blanchard, Sohee Park, Kimiko Yo, Renji Ishibashi

Butuh kematangan berfikir bagi Abby untuk pindah ke Jepang menyusul pacarnya. Tanpa bisa berbahasa Jepang, Abby tetap nekat dan bekerja pada perusahaan Jepang dimana kerjanya hanya duduk dan mengoreksi kata-kata bahasa Inggris yang salah. Tidak ada yang lebih membahagiakan Abby selain berada dekat dengan orang yang sangat disayanginya. Tapi apa yang Abby rasakan tidak dirasakan oleh pacarnya. Pacarnya merasa belum siap untuk tinggal bersama dan memutuskan untuk pergi. Patah hati, Abby jadi sering termenung sendiri di balkon apartemennya. Satu waktu, pandangannya terpaku pada restoran ramen -mie khas Jepang- dekat apartemennya. Abby merasakan sesuatu yang berbeda disana, kehangatan yang selama ini dia cari. Tersihir oleh rasa ramen, Abby kemudian memutuskan untuk belajar  membuat ramen dan berguru pada bapak penjual ramen. Proses ini ternyata tidak mudah, Abby harus menghadapi berbagai macam tantangan seperti perbedaan bahasa, kesalah-pahaman yang sering terjadi, dan yang paling hebat tentu saja datang dari si bapak penjual ramen itu sendiri.

Menarik memang. Film-film dengan tema makanan memang memiliki semacam penarik tersendiri bagi penonton. Terlebih lagi bila digambarkan dengan indah. The Ramen Girl bukan hanya berisi drama dan proses membuat ramen saja, namun juga aspek-aspek lain dari ramen itu sendiri. Ada beberapa filisofi dan sejarah ramen yang disinggung dalam film ini, juga bagaimana ramen digambarkan dapat merubah suasana hati siapapun yang memakannya. Semua itu tergantung dari apa yang sedang dirasakan sang pembuat ramen saat menyajikan hidangannya.

Interaksi antar pemain terlihat unik karena digunakanya dua bahasa, bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Hal ini juga bisa membuat penonton tersenyum karena kelucuan yang timbul akibat kesalah-pahaman dalam mengartikan maksud perkataan satu sama lain. Selain menggambarkan kehidupan sehari-hari, film ini juga mengajarkan kepada kita agar jangan menganggap remeh sesuatu. Bila kita menginginkan sesuatu, maka kita harus berusaha dengan keras untuk mendapatkannya. Beberapa adegan terasa berlebihan, namun tidak sampai mengurangi kenikmatan menonton.

Drama kehidupan tentang keluarga yang dikemas dengan tema makanan menjadi hal yang menarik untuk disimak. Selain itu, mungkin anda merasa lapar dan ingin mencoba semangkuk ramen sehabis menonton.

-Adjie-

14
May
09

Ichi

Ichi (2008)

Tahun rilis: 2008

Sutradara: Fumihiko Sori

Pemain: Haruka Ayase, Shido Nakamura, Yosuke Kubozuka, Takao Osawa

Kisah samurai buta bernama Zatoichi telah banyak diadaptasi di Jepang. Kisah yang diangkat dari novel karya Kan Shimozawa ini telah berkali-kali dibuat film, bahkan serial TV. Amerika pun sempat membuat ulang film ke-17 yang diberi judul: Blind Fury. Pada tahun 2003, sutradara Takashi Miike kembali mengangkat kisah legendaris ini ke layar lebar.  Film tersebut sukses sekaligus mengembalikan nostalgia dikalangan penonton Jepang. Lalu, tahun 2008 kisah ini kembali diangkat, bedanya kali ini karakter Zatoichi adalah perempuan.

Ceritanya kali ini berputar pada seorang goze buta yang terbuang dari kelompoknya. Dengan berbekal Shamisen -alat musik tradisional Jepang- dan katana yang disamarkan sebagai tongkat, Ichi -nama goze tersebut- berpetualang seorang diri mencari seorang samurai buta yang diyakini adalah ayahnya. Ada sedikit celah saat plot ini disodorkan. Penonton seakan-akan sengaja dibuat berfikir dan menebak-nebak, benarkan Ichi ini adalah karakter Zatoichi versi perempuan, atau kah sang samurai buta yang dicari Ichi adalah Zatoichi dan Ichi ini adalah anaknya. Meski tidak dapat dibuktikan kebenarannya, beberapa kemiripan akan karakter Zatoichi terlihat melalui sang samurai buta yang digambarkan sebagai sosok yang menitipkan Ichi ke tempat pelatihan goze dan sesekali datang menjenguk sambil mengajarkan ilmu pedang.

Film ini memperlihatkan adegan sadis seperti memotong anggota tubuh, juga banyaknya darah sepanjang film. Jadi mungkin untuk beberapa orang, adegan-adegan tersebut menghilangkan minat menonton. Namun karena tema film ini adalah samurai, tentu hal tersebut menjadi wajar. Apalah arti film samurai bila tidak ada duel berdarah? Selain itu, Film ini juga sepertinya sengaja dibuat untuk memancing penonton baru dengan memasang Haruka Ayase sebagai tokoh utama. Bintang muda yang sedang bersinar ini juga bermain dalam film Cyborg She yang tayang di tahun yang sama.

Secara keseluruhan film ini tidak bisa dibilang jelek, namun juga agak sedikit berlebihan bila di katakan hebat. Penilaian yang adil sepertinya lebih tepat. Penggarapan baik dan koreografi juga terlihat sangat baik, para pemain terlihat alamiah saat mengayunkan pedang. Sebagai  adaptasi dari kisah terkenal, film ini berhasil membawa suasana baru.

-Adjie-

13
May
09

Star Trek

Startrekposter

Tahun rilis: 2009

Sutradara: J.J. Abrams

Pemain: Chris Pine, Zachary Quinto, Leonard Nimoy, Eric Bana, Karl Urban, John Cho, Zoe Saldana, Anton Yelchin, Simon Pegg

Hal pertama yang terlintas saat film dimulai adalah: “akhirnya generasi sekarang memiliki Star Trek mereka sendiri”. Tidak berlebihan bila pendapat seperti itu muncul. Star Trek adalah serial yang begitu populer dan beberapa kali mengalami pembaruan. Berbagai rumor akan dibuatnya film Star Trek terbaru sempat menimbulkan uforia tersendiri dikalangan penggemar film dan tentu saja para penggemar Star Trek. Dan tahun ini, dirilislah Star Trek.

Film ini dibuat untuk memuaskan berbagai kalangan, karena itulah berbagai perubahan terjadi disana-sini. Beberapa penggemar Star Trek mungkin merasakan dampak dari perubahan ini dan bukan tidak mungkin komentar sinis berdatanganan, namun jangan bilang mereka tidak merinding saat melihat Leonard Nimoy, sang pemeran asli Spock muncul memerankan peran aslinya tersebut.

Teknologi perfilman yang sudah maju pesat membuat film ini terkesan megah dan mahal. Suatu tontonan yang menarik menyaksikan pesawat-pesawat ruangan angkasa beradu di ruang hampa udara. Para pemain juga sepertinya tidak sembarang pilih. Selain karena kemiripan meraka dengan para pemeran asli Star Trek, akting mereka juga terlihat bagus. Interaksi antar karakter sangat baik.

Filmnya sendiri bercerita tentang Nero, Seorang bangsa Romulan yang karena termakan dendam, akhirnya menantang United Federation of  Planets dan sesumbar akan menghancurkan setiap planet, dimulai dari Vulcan, planet asal Spock. Ini akibat peristiwa Supernova yang terjadi dimasa depan, yang membuat planet Romulus hancur. Memang agak terlihat lemah dalam hal cerita karena motivasi Nero semata-mata hanya karena dendam. Namun hal ini tertutup oleh faktor lain dalam film seperti kisah terkumpulnya awak USS Enterprise dan efek spesial yang canggih.

Secara keseluruhan, Star Trek adalah tontonan yang menghibur sekaligus menimbulkan nostalgia tersendiri bagi beberapa orang. Tidak menyesal rasanya menyaksikan film berdurasi 127 menit ini.

-Adjie-

13
May
09

Hello Schoolgirl [Sunjeong Manhwa]

Hello_Schoolgirl_film_poster

Tahun rilis: 2008

Sutradara: Ryu Jeong-ha

Pemain: Yoo Ji-tae, Lee Yeon-hee, Kang-in, Chae Jung-an

Korea tidak pernah berhenti memproduksi film drama romantis, seakan-akan ini telah menjadi ciri khas mereka. Film ini pun tidak jauh dari tema yang sama, hanya kali ini dibuat sedikit berbeda dari biasanya.

Film ini bercerita tentang Kwon Yeon-woo, seorang pegawai di kantor kelurahan yang baru saja pindah rumah. Sebagai pria yang telah berumur 30 tahun, Yeon-woo tergolong tidak beruntung. Hingga saat ini, dia belum menikah, bahkan calon isteripun belum ada. Cerita terbelah menjadi dua bagian saat karakter lain bernama Kang Sook diberi porsi yang hampir sama dengan Yeon-woo. Bedanya, Kang Sook adalah anak SMA yang baru lulus dan bekerja di kantor kelurahan yang sama dengan Yeon-woo. Kisah menjadi unik karena Yeon-woo yang berumur 30 tahun jatuh cinta kepada seorang siswi SMU 18 tahun bernama Soo-yeong dan Kang Sook menyukai seorang perempuan yang umurnya jauh lebih tua darinya.

Peralihan peradegan yang lambat kadang menimbulkan kebosanan saat mefilm nonton dan ada beberapa adegan yang terasa tidak perlu. Beberapa kelucuan berhasil memancing senyum. Pertengahan film merupakan bagian paling menarik karena disinilah hubungan cinta kedua pasangan diperlihatkan. Perbedaan usia tidak dapat menghalangi mereka untuk saling mencintai. Dan seperti yang diprediksikan, konflik mulai timbul menjelang akhir.

Akting para pemain terlihat natural namun dibeberapa adegan terlihat kurang ekspresif, terutama aktor Yo Ji-tae yang kerap kali terlihat datar tanpa ekspresi.

Kisah cinta beda usia sudah lumayan sering diangkat dalam film-film Korea, namun tetap saja film satu ini terlihat beda, walau tidak banyak. Secara keseluruhan film ini menghibur sekaligus menyentuh.

-Adjie-

13
May
09

Speedy Scandal [Gwasok Seukaendeul]

Speedy_Scandal_film_poster

Tahun rilis: 2008

Sutradara: Kang Hyeong-cheol

Pemain: Cha Tae-hyun, Park Bo-yeong, Hwang Seok-hyeon

Nam Hyeon-soo adalah mantan idola remaja yang kini bekerja sebagai penyiar radio. Karirnya menanjak dan hidupnya semakin mapan, ditambah lagi pacarnya yang juga presenter acara gosip terkenal di televisi. Gaya hidup Hyeong-soo begitu teratur dan serba mewah. Semua itu berubah saat suatu malam, seorang perempuan muda datang ke rumahnya dengan membawa anak kecil sembari mengaku kalau dia anaknya dan si bocah kecil adalah cucunya.

Seperti kebanyakan film-film Korea pada umumnya, berbagai kelucuan timbul sepanjang awal film menjelang pertengahan, lalu berubah melankolis menuju akhir. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah akting aktor cilik pendatang baru, Hwang Seok-hyeon yang berhasil memancing tawa karena kelucuannya. Aktingnya terlihat kaku dibeberapa bagian, namun selebihnya sangat baik dan natural. Sesuatu yang menimbulkan kesenangan tersendiri selama menonton. Interaksinya dengan aktor senior Cha Tae-hyun terbangun dengan baik. Mereka benar-benar menggambarkan hubungan kakek yang belum siap menjadi kakek dengan cucunya yang lugu.

Satu lagi yang berhasil menarik minat untuk menyaksikan film ini dari awal hingga akhir adalah hadirnya aktris Park Bo-yeong yang berperan sebagai anak Hyeong-soo, yang juga lumayan baru didunia perfilman Korea.

Hal yang bisa dipetik dari film ini adalah bagaimana cara menjalani hidup dengan baik walaupun masalah datang silih berganti. Manusia selalu maju kedepan, namun bayangan masa lalu selalu mengikuti mereka dibelakang. Segala perbuatan yang kita lakukan selalu ada konsekuensinya, tergantung bagaimana kita menyikapinya.

-Adjie-




 

December 2009
M T W T F S S
« Oct    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Twitter Page

Recent Comments

outSIDers solo city on Superman Is Dead – Angel…
Restu Aji Siswanto on Blink-182 Kembali & Siap M…
agung puja kusuma on Blink-182 Kembali & Siap M…
Mario on Kerli – Love Is Dea…
chika on Lesbian Vampire Killers