Train to Busan – Zombie Survival Dengan Sudut Pandang yang Lebih Manusiawi


review train to busan indonesia

Sering dicekoki film zombie bikinan Hollywood dengan gaya khas mereka, Train to Busan memberikan sudut pandang lain ala Asia dengan mengandalkan tema survival yang sebenarnya, bertahan hidup menggunakan senjata seadanya yang dapat ditemukan di sekitar.

Film ini dibuka dengan adegan yang langsung to the point dengan menampilkan rusa yang telah terkontaminasi semacam virus dan berubah menjadi zombie. Keseluruhan film ini fokus pada seorang ayah bernama Seok-woo (diperankan oleh Gong Yoo) yang selalu sibuk dengan pekerjaannya. Ditambah lagi dengan sifatnya yang sedikit egois, alias terlalu mementingkan dirinya sendiri, yang menjadi penyebab istrinya pergi meninggalkannya.

Seok-woo mempunyai seorang anak perempuan bernama Soo-an (diperankan oleh Kim Su-an) yang ingin sekali mengunjungi ibunya yang tinggal di Busan. Nggak ingin membuat kecewa anaknya, Seok-woo akhirnya mengiyakan dan malam itu juga, mereka berangkat ke Busan dengan kereta api. Disinilah tragedi mulai terjadi, salah seorang yang telah terinfeksi menyelinap masuk ke dalam kereta api dan dalam waktu singkat, lebih dari setengah penumpang kereta berubah menjadi zombie.

review-film-train-to-busan

Beda banget dengan film zombie ala Hollywood yang biasanya mengandalkan senjata api, parang dan senjata-senjata “layak” lainnya, serta adegan-adegan aksi heroik yang bikin pemeran utamanya terlihat keren, Train to Busan justru menampilkan tema survival atau bertahan hidup yang nyata dan kalau dipikir-pikir, lebih masuk akal. Mungkin ini juga yang menjadi salah satu sebab mudahnya film ini diterima khususnya oleh penonton Asia. Film horor thriller yang nuansa “Asia” nya kental banget.

Sejak awal, para pemerannya digambarkan sebagai orang biasa, dan ketika mereka dihadapkan pada sebuah tragedi, mereka menghadapinya dengan cara yang manusiawi. Salah satu hal yang agak kurang enak dilihat adalah CGI nya yang masih terlihat kasar di beberapa adegan. Padahal, melihat track record sang sutradara, Yeon Sang-ho yang sebelumnya lebih banyak bermain dengan film animasi, harusnya bisa lebih baik. Tapi mungkin itu salah satu kesulitan mengaplikasikan sebuah animasi dalam film live action seperti ini. Walaupun begitu, ini hanyalah sebuah detil minor yang nggak terlalu menggangu kenikmatan menonton.

Train to Busan mengandalkan drama yang banyak memainkan emosi melalui adegan-adegan psikologis yang mengajak penonton untuk berpikir seperti para karakter-karakter yang ada di dalam film dengan memanfaatkan media film sebagai sebuah simulasi situasi yang dapat terjadi di dunia nyata, dengan beragam karakter dan sifat asli manusia yang dapat timbul ketika harus mengambil keputusan dalam suatu permasalahan. Satu sudut pandang berbeda dari film zombie ala Hollywood yang kebanyakan mengandalkan adegan aksi.

Kesimpulannya, Train to Busan adalah salah satu film yang wajib masuk daftar tontonan, apalagi buat kamu yang bosan dengan film-film Hollywood. Mudah-mudahan nanti nggak muncul “versi Indonesia” berjudul ‘Kereta Api ke Purwokerto’, ya. Siapa tahu aja, kan? Haha!

-Adjie-

Teaser ‘Headshot’ Tampilkan Banyak Adegan Aksi Keren!


Headshot Iko Uwais

Gema film ‘Headshot’ sudah terdengar selama beberapa waktu ke belakang, dan akhirnya, teaser pertama film arahan dua sutradara Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel, atau lebih di kenal dengan nama The Mo Brothers, rilis!

Buat kamu yang penasaran seperti apa sih adegan aksi yang akan ditampilkan, teaser ini cukup dapat menjawab pertanyaan tersebut.

Untuk plotnya sendiri, belum ada rilis resminya, tapi yang pasti, film ini akan bercerita seputar karakter yang diperankan oleh Iko Uwais, yang mengalami amnesia dan tidak dapat mengingat masa lalunya. Dia di rawat oleh seorang dokter perempuan bernama Ailin (diperankan oleh Chelsea Islan). Selain kedua pemain tersebut, Headshot juga diramaikan oleh akting Sunny Pang dan Julie Estelle.

Bersamaan dengan rilisnya teaser, Screenplay Films juga merilis poster terbaru yang bisa kamu lihat dibawah ini.

Poster Headshot

Headshot akan tayang perdana pada tanggal 9 September 2016 pada ajang Toronto Film Festival.

-Adjie-

Fanday – Drama Romantis Khas Banjong yang Mudah Ditebak


fanday-11

Sutradara Banjong Pisanthanakun yang sebelumnya di kenal dengan film Pee Mak Phra Khanong, kembali dengan karya terbarunya ‘Fanday’ yang memiliki judul internasional ‘One Day’. Seperti apa film yang dijanjikan akan membuat penonton terharu ini?

Fanday adalah sebuah film drama romantis sederhana dengan cerita yang juga sederhana, menceritakan tentang seorang staff IT pada satu perusahaan di Thailand bernama Denchai (diperankan oleh Chantavit “Ter” Dhanasevi) yang kesehariannya lebih banyak sendiri. Kesendiriannya ini bukan karena dia nggak punya teman atau bagaimana, tapi lebih banyak disebabkan oleh sifatnya yang suka ngomong apa adanya tanpa memperhatikan perasaan orang lain, yang bikin mereka jadi males ngajak ngobrol. Di tambah pembawaan kikuk dan nggak pedenya, jadi lah sosok Den (panggilan Denchai) yang kaku, kurang pergaulan dan agak aneh.

Sementara itu, karyawan baru bernama Nui (diperankan oleh Nittha “Mew” Jirayungyurn) mengubah keseharian Den yang merasa kalau Nui punya perasaan yang sama kepadanya. Sayangnya, 3 tahun berlalu dan bukannya semakin dekat, hubungan mereka malah semakin jauh jaraknya. Malah Nui yang tadinya cukup ramah kepada Den, kini tidak pernah sekalipun menegurnya. Apalagi kini Nui jadi simpanan CEO perusahaan yang sudah beristeri dan punya anak satu. Tambah kacau lah semuanya. Sampai satu waktu, saat outing perusahaan ke Jepang, Den mendapatkan kesempatan untuk menghabiskan satu hari bersama Nui yang mengalami amnesia pendek.

fanday

Sebagai sebuah film drama romantis, Fanday berhasil memberikan sebuah cerita yang mudah di cerna, tanpa perlu mikir terlalu berat. Semuanya mengalir begitu saja, membawa penonton hanyut dalam kisah cinta klise yang telah berulang-ulang kali menjadi tema film sejenis, yang membedakan hanya nama karakter, tempat dan detil-detil kecil lainnya. Intinya, Fanday bukan jenis film baru dan sama sekali nggak memberikan sesuatu yang baru.

Fanday nggak memberikan “element of surprise” malahan terus menerus menampilkan sesuatu yang sama berulang-ulang kali. Bukan jelek, hanya saja setiap adegannya mudah sekali ditebak kemana arahnya. Selain itu, beberapa detil tampaknya kurang diperhatikan, seperti penunjuk waktu dan lokasi. Mungkin karena waktu yang sempit untuk melakukan pengambilan gambar di Jepang? Atau memang tim produksinya kurang riset? Entah lah.

Humor-humornya di sisi lain, cukup menghibur dan bisa dengan cepat memancing tawa penonton. Banjong berhasil memberikan celetukan-celetukan dan gurauan ringan dengan baik dan apik. Ini membuktikan bahwa tidak perlu adegan slapstick atau tingkah aneh-aneh untuk menampilkan sebuah kelucuan, cukup kata-kata sederhana sehari-hari yang dirangkai dengan baik dan ditampilkan pada waktu yang tepat. Salah satu formula yang menjadi ciri khas sutradara satu ini.

Secara keseluruhan, Fanday adalah sebuah tontonan segar yang mampu menghibur dan sedikit mengaduk-aduk emosi penonton. Tidak ada yang spesial disini, hanya satu lagi drama komedi romantis diantara banyaknya tema film sejenis. Buat kamu yang nggak tahan sama cerita drama sedih seperti ini, jangan lupa siapin sapu tangan.

-Adjie-

Suicide Squad Jadi Satu Lagi Film DC yang Mengecewakan Tahun Ini


suicide-squad-assembled

Masih segar di ingatan beberapa bulan yang lalu ketika Batman v Superman: Dawn of Justice bikin kecewa para penikmat film, Suicide Squad di janjikan akan berbeda dan lebih “fun”, tapi nyatanya, kita di suguhi tontonan yang jauh dari memuaskan.

Mungkin sebagian dari kamu sudah tahu persaingan antara film-film DC dan Marvel di bioskop, dan setelah gagalnya Batman v Superman: Dawn of Justice (2016), DC tampaknya mulai nggak percaya diri dengan ciri khas “dark” pada film-filmnya dan memutuskan untuk melakukan pengambilan gambar ulang untuk Suicide Squad sebelum waktu perilisannya untuk menambahkan beberapa adegan “fun”, yang mungkin saja, nih, kalau tidak mereka lakukan, kita akan mendapatkan film Suicide Squad yang lebih baik.

Separah itu kah filmnya? Well, kalau mau jujur, sebenarnya nggak parah-parah banget, sih. Di bilang jelek juga nggak, cuma ya agak mengecewakan. Kenapa? Pertama karena banyaknya adegan-adegan yang di potong. Kita sudah di bombardir dengan footage, trailer, teaser, tv spot dan lain sebagainya, yang intinya menjanjikan adegan-adegan seru yang bikin penasaran, kenyataannya, yang di suguhkan di bioskop jauh berbeda, banyak adegan-adegan seru tersebut yang tidak tampil sama sekali. Apalagi kabarnya porsi Joker (diperankan oleh Jaret Leto) banyak di kurangi, yang membuat karakter ikonik yang paling di tunggu-tunggu kehadirannya itu jadi terlihat seperti gangster murahan tanpa wibawa. Rasanya cukup adil kalau kita tidak menilai dulu bagus atau tidaknya Leto memerankan karakter yang sebelumnya di perankan dengan sangat baik oleh mendiangan Heath Ledger tersebut. Lagi, pula, hey, dengan porsi segitu dan editing yang sangat buruk, aktor sebagus apapun pasti bisa jadi keliatan buruk.

SUICIDE SQUAD

Bicara tentang “fun” tadi, sepertinya bukan hanya penambahan beberapa adegan yang di lakukan oleh sang sutradara, tapi juga mengganti scoring dan background music untuk beberapa adegan-adegannya, yang justru malah menambah ketidak senambungan film ini. Musik yang terdengar menyentak dan penuh semangat nggak nyambung dengan adegan yang sepertinya dari awal sengaja di bikin gelap. Ini bikin suasana jadi aneh. Kita berasa nonton satu film bikinan amatir yang nggak tahu harus melakukan apa dan menempatkan musik seenak jidatnya tanpa peduli dengan tone di tiap adegannya

Ini masih belum seberapa ketimbang kontinuitas ngawur dan adegan-adegan jumpy yang loncat kesana kemari nggak menentu, bikin bingung ini sebenarnya mau di bawa kemana plotnya? Contoh kecil saja, rambut Rick Flag (diperankan oleh Joel Kinnaman) selalu berubah-ubah di tiap adegan, kadang panjang dan di sisir ke belakang, kadang cepak ala militer, lalu di adegan selanjutya kembali panjang. Serius, ini film di bikin sama sutradara kelas blockbuster?

Satu-satunya yang menonjol di sini adalah Harley Quinn (diperankan oleh Margot Robbie) yang aktingnya all out. Tadinya kita mau bilang Will Smith yang memerankan Deadshot, lalu kami sadar kalau dia hanya berperan sebagai dirinya sendiri yang kebetulan lagi cosplay jadi Deadshot. Akting jadi catatan serius di sini. Suicide Squad yang di tampilkan lebih cocok di sebut Empathy Squad, atau Drama Squad sekalian. Ini film tentang penjahat-penjahat yang susah di atur, bukan kisah heroik penjahat-penjahat tobat, come on!

Buat DC, oke lah, kalian sukses dengan trilogi Dark Knight yang gelap dan serius, tapi itu bukan patokan kesuksesan. Tidak semua film bisa di perlakukan sama. Semoga saja mereka belajar dari kesalahan Batman v Superman: Dawn of Justice dan Suicide Squad untuk ke depannya akan memberikan suguhan film yang lebih dapat di nikmati secara keseluruhan. Kita tunggu saja Wonder Woman dan Justice League.

-Adjie-

Jason Bourne – Sebuah Sekuel yang Harusnya Nggak di Buat


NEaeFdkCqoG1db_2_b

Bermaksud menutup saga Jason Bourne, sutradara Paul Greengrass tampaknya lupa kalau bagian terpenting dari sebuah film adalah plot yang baik sebagai kerangka dasarnya.

Dari awal, Jason Bourne menjanjikan sebuah kisah yang akan mengungkap masa lalu Bourne (diperankan oleh Matt Damon) dan kenapa dia sampai menjadi salah satu agen rahasia hasil percobaan pemerintah Amerika. Beberapa menit awal memang cukup menarik. penonton bahkan di suguhkan dengan penampilan karakter Bourne yang lebih matang dan dewasa. Tapi sayangnya, ketika memasuki paruh tengah, tensi malah mulai menurun dan kita di suguhi oleh akting-akting pemain pendukung yang datar, intrik yang klise dan plot yang nggak jelas mau di bawa kemana. Jason Bourne malah seakan-akan di buat sebagai film ke-empat, melupakan Bourne Legacy (2012) yang seakan-akan tidak pernah terjadi.

Walau begitu, Jason Bourne memberikan adegan-adegan aksi yang cukup menarik dan menegangkan. Scoring juga bermain saat baik di sini dan mendukung sekali di setiap adegannya. Jelas kami menikmati sekali adegan kejar-kejaran dengan mobil yang porsinya cukup banyak. Sedikit kecewa karena hand to hand combat nya tidak terlalu banyak. Apalagi di awal-awal ada adegan bertarung di arena tarung liar yang harusnya bisa di eksplorasi lebih dalam. Bahkan kalau di bandingkan dengan trailernya, jelas sekali adegan ini telah melalui proses editing yang ketat dan di pangkas untuk memenuhi durasi bioskop.

Kalau mau di bandingkan dengan empat film sebelumnya, Jason Bourne jelas-jelas berada di urutan paling bawah, bukan karena memang faktanya ini film kelima, tapi karena kualitasnya memang jauh bila di bandingkan dengan film-film sebelumnya. Bagaikan mengambil ide dari potongan-potongan adegan dari film-film sebelumnya yang di rangkai menjadi satu untuk di jadikan sebuah film panjang, tidak ada lagi misteri-misteri dan intrik menarik yang bisa di eksplorasi.

Belum lagi karakter Heather Lee, kepala divisi cyber CIA yang di perankan oleh Alicia Vikander yang nggak jelas. Masa lalunya nggak di jelaskan, motifnya nggak di jelaskan, malahan karakternya berasa seperti remaja labil yang nggak tahu apa yang di inginkan. Itu belum seberapa bila di bandingkan dengan aktor sekaliber Tommy Lee Jones yang harus menyia-nyiakan potensinya degan memerankan direktur CIA bernama Robert Dewey yang entah harus di diangap serius, atau cuma ngelawak. Sama sekali nggak menunjukkan wibawanya dan bahkan tidak mampu mengintimidasi lawan mainnya. Karakter yang di perankannya bagaikan sebuah peran kelas sinetron dengan akting seadanya. Mungkin kesalahan ada pada penulis dialog, atau memang sudah waktunya dia pensiun dari dunia akting. Entahlah.

Pada akhirnya, Jason Bourne cuma jadi film action biasa yang mudah terlupakan. Film ini seharusnya nggak pernah di buat karena sepertinya sang sutradara berusaha terlalu keras untuk membuatnya menarik di tonton. Mungkin kalau kisahnya di angkat menjadi serial TV, akan menjadi pilihan yang tepat, terutama untuk mengungkap rahasia-rahasia lain dari program Blackbriar, Treadstone dan Outcome dengan lebih detil. Mengingat satu program baru bernama Iron Hand yang harusnya bisa menjadi modal kuat film ini malah seakan-akan cuma di jadikan tempelan dalam plot yang dari awal sudah kurang kuat. Karena ketimbang menyelesaikan sesuatu, justru malah menimbulkan pertanyaan baru.

-Adjie-

Vulture Muncul Dalam Concept Art Spider-Man: Homecoming Terbaru


spiderman-logo-wallpapers-high-quality-resolution
Spider-Man: Homecoming nggak mau ketinggalan dan turut merilis concept art yang menampilkan Spider-Man dan Vulture pada ajang San Diego Comic-Con (SDCC) hari ini (24/7/16).

Seperti yang telah di katahui sebelumnya, Spider-Man kali ini akan menghadapi salah satu musuh klasiknya; Vulture, tapi banyak yang belum tahu akan seperti apa kostum yang dikenakannya, apakah kostum klasik seperti di komik, atau malahan mirip kostum hi-tech seperti yang di kenakan oleh Green Goblin dalam Spider-Man (2002) dan The Amazing Spider-Man 2 (2014). Rasa penasaran hilang sudah dengan dirilisnya concept art karya Ryan Meinerding berikut:

Spider-Man-Homecoming-Vulture-Concept-Art

Spider-Man: Homecoming di sutradarai oleh Jon Watts dan dibintangi oleh Tom Holland, Marisa Tomei, Zendaya, Tony Revolori, Laura Harrier danĀ  Robert Downey Jr. Film ini di rencanakan tayang pada tanggal 7 Juli 2017.

-Adjie-

Trailer Perdana Kong: Skull Island Rilis!


Kong - Skull Island

Kong: Skull Island menjadi satu dari beberapa railer baru yang di rilis oleh Warner Bros. Pictures di ajang San Diego Comic-Con (SDCC) dan hasilnya bikin kita makin penasaran sama film satu ini!

Seperti yang sudah santer di beritakan, Kong: Skull Island adalah film yang bercerita tentang kera raksasa yang hidup di sebuah pulau bernama Skull Island. Dari namanya aja udah seram banget, apalagi isinya? Hiii… Film ini merupakan reboot dari seri fil King Kong dan mengambil setting tahun 1970an. Kamu bisa cek trailer perdananya dibawah ini.

Kong: Skull Island di sutradarai oleh Jordan Vogt-Roberts dan di dukung oleh jajaran aktor dan aktris beken seperti Tom Hiddleston, Samuel L. Jackson, Brie Larson, Jason Mitchell, Corey Hawkins, Toby Kebbell, Tom Wilkinson, Terry Notary, John Goodman, John C. Reilly. Nggak mau ketinggalan film yang sepertinya bakalan keren ini? Catat tanggal rilisnya; 10 Maret 2017

-Adjie-