Brother of the Year, Drama Adik Kakak yang Lucu dan Mengharukan


Jadi kakak yang baik itu susah-susah gampang karena belum tentu cara yang kita tunjukkan itu dianggap baik oleh adik kita, begitupun sebaliknya, dan GDH menyuguhkan drama adik kakak yang sangat dekat dengan keseharian dalam ‘Brother of the Year’ garapan Witthaya Thongyooyong.

nong pee teerak 4

GDH (sebelumnya dikenal dengan nama GTH), adalah salah satu studio film asal Thailand yang kerap kali menghasilkan film-film hit berkualitas dengan bumbu drama, komedi romantis, horor dan tema-tema unik yang mengaduk-aduk emosi penonton. Tepat di bulan Mei 2018 ini, mereka kembali merilis film terbarunya ‘Brother of the Year’ yang kali ini mengangkat tema perseteruan kakak dan adik.

Film yang berjudul asli ‘Nong. Pee. Teerak.’, atau kalau diartikan secara harafiah kedalam bahasa Indonesia berarti ‘Adik. Kakak. Yayang.’, ini memperkenalkan karakter bernama Chut (Sunny Suwanmethanont) dan Jane (Urassaya “Yaya” Sperbund) yang diceritakan sebagai kakak dan adik yang punya hubungan love-hate dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Buat penonton yang memiliki adik atau kakak, konflik dan drama yang dihadirkan jadi begitu dekat karena situasi yang dihadapi sangat nyata dan sederhana, dekat sekali dengan apa yang umumnya terjadi pada hubungan persaudaraan. Drama keluarga begini memang sudah jadi andalan Witthaya yang sebelumnya menggarap ‘My Girl’ dan ‘The Little Comedian’ dengan tema keluarga yang kental juga.

Sebenarnya, nggak ada yang terlalu istimewa di film ini. Plot-nya pun sederhana banget. Tapi justru kesederhanaan itu yang jadi kekuatannya. Konfliknya nggak lebay (walau jujur klise banget). Penggambaran karakter Chut yang gengsinya sebagai kakak cukup gede, menjadikan hubungannya dengan Jane yang berwatak keras namun perhatian sama kakaknya, jadi menarik.

nong pee teerak 5

Konflik utamanya ada pada Chut yang “terpaksa” menjadi figur pria satu-satunya dalam keluarga yang harus menggantikan ayah mereka yang pergi nggak ada kabar sejak mereka kecil. Ini sedikit menyentil situasi sosial di Thailand, dimana perempuan Thai banyak yang menikah dengan bule, dan ditinggalkan oleh si bule begitu anak semakin besar dan tanggungan keluarga semakin tinggi. Bukan stereotype, sih, tapi memang kenyataan yang ada seperti itu.

Dengan situasi keluarga yang begitu, Chut menjadi sangat protektif terhadap adiknya, terutama masalah pacar, dan begitu tahu Jane pacaran dengan orang asing (Moji, asal Jepang), kekhawatirannya sebagai kakak mulai timbul. Sayangnya, cara yang ditunjukkannya salah.

Chut adalah tipe kakak yang nggak bisa menunjukkan rasa sayang ke adiknya, walau sebenarnya sangat-sangat perhatian, sementara Jane adalah tipe adik yang sukanya menyembunyikan masalah sampai ujung-ujungnya meledak dan membuat hubungan mereka jadi renggang. Dinamika ini yang ditunjukkan dari awal hingga menjelang akhir, secara konsisten.

Satu hal yang kami suka dari film ini adalah perhatiannya terhadap detil. Ada adegan dimana Chut makan mie yang masih dibungkus plastik, pakai mangkok dan Jane menegurnya kenapa bungkusnya nggak dibuang dan makan langsung dimangkok saja. Chut beralasan males cuci mangkok kotor.

Adegan tersebut ternyata ada kelanjutannya, ketika mereka sedang dirumah ibunya dan Chut makan mie langsung dari mangkok, Jane melirik sekilas kearah mangkok dan tersenyum. Sebuah adegan singkat yang sekali kedip pasti kelewatan, namun bermakna. Perubahan karakter Chut yang jadi “lebih dewasa”, melalui simbolisasi yang sangat sederhana, tanpa memerlukan narasi yang menjelaskan apa yang terjadi.

Seperti film-film GDH sebelumnya, mereka kembali bermain dengan emosi penonton. Ada tawa, marah dan tangis dalam satu paket yang dikemas dengan solid. Buat penyuka drama, apalagi drama keluarga, paket ini bisa dibilang komplit. Jadi apakah filmnya recommended? Pastinya.

-Adjie-

Iklan

Colossal, Film Tentang Monster Raksasa yang Unik, Beda dan Kelam


Film ini mungkin tidak menunjukkan performa terbaik Anne Hathaway, tapi secara keseluruhan, ternyata penampilannya cukup memuaskan. Buat penggemar genre film monster raksasa, tentunya ‘Colossal’ bisa jadi salah satu opsi tontonan yang sayang kalau dilewatkan. Nggak percaya? Kami saja kaget dengan hasilnya!

colossal film

Pernah ngerasain di PHP? Well, itu yang terjadi sama kami waktu nunggu-nunggu film ‘Colossal’ garapan sutradara Nacho Vigalondo ini tayang di bioskop. Tunggu punya tunggu, nggak kunjung tayang juga sampai akhirnya rilis home video dan begitu nonton versi blu-ray-nya, langsung berasa sayang banget nggak bisa nonton di bioskop. Sigh, ya sudahlah…

Oke, cukup curhat dan keluhannya. Sebenarnya apa menariknya film ini? Hmm.. kita mulai dari mana dulu ya? Baik, Colossal memberi kesan sebuah film komedi romantis dengan bumbu fiksi ilmiah. Nggak salah sih, tapi ternyata film ini nggak se-“komedi” yang kami kira, malah cenderung gelap dan kelam, dan ini bukan karena belum bayar tagihan listrik (Errr…. garing, mas).

Plot utamanya berputar pada karakter Gloria yang diperankan oleh Anne Hathaway. Gloria adalah seorang penulis artikel untuk media online yang tinggal di New York bersama pacarnya, Tim (Dan Stevens). Karena terlalu terbuai dengan kehidupan di kota besar, Gloria mulai berhenti menulis dan menjadi pengangguran yang kerjanya hanya nongkrong minum-minum bareng teman-temannya setiap malam.

Suatu ketika, karena sudah lelah dengan kelakuan pacarnya, Tim akhirnya memberikan ultimatum agar Gloria meninggalkan apartemen mereka dan baru boleh kembali setelah introspeksi diri dan kembali menjalankan hidupnya dengan benar. Merasa gagal, Gloria kembali ke kampung halamannya dan bertemu Oscar (Jason Sudeikis), teman masa kecilnya.

Gloria yang kini bekerja sebagai pelayan di bar milik Oscar, mulai menemukan keanehan selama berada di kota kecil tersebut. Ditambah lagi dengan kemunculan kaiju (monster raksasa) di Seoul, Korea Selatan yang kejadiannya tepat bersamaan dengan kepulangan Gloria ke kampung halamannya. Disinilah dirinya mulai menyadari kalau kehadiran kaiju tersebut berhubungan dengan dirinya.

colossasl review

Untuk sebuah film fiksi ilmiah, kami angkat dua jempol buat Colossal yang tidak hanya memberikan sebuah tontonan menarik yang berkulitas, namun juga sesuatu yang unik dan (setahu kami) belum pernah ada dalam dunia sinematik. Idenya aneh dalam artian yang baik.

Selain plot yang menurut kami cukup baik, latar belakang karakternya juga dibuat dengan rapi dan nggak terlalu maksa, jadinya semua terlihat wajar-wajar saja. Akting para pemainnya memang nggak sekelas aktor dan aktris Academy Awards, tapi justru kesederhanaan tersebut yang bikin betah nonton sampai selesai.

Soal komedi yang tadi kami singgung, nggak sepenuhnya lucu, sih. Karena cenderung kearah dark comedy yang kelam dan lebih banyak menyentuh sifat dasar manusia. Penggambaran “monster” disini mewakili hati manusia yang sehari-hari kita temui dimana-mana.

Ambil contoh karakter Oscar yang membuat penonton terus menduga-duga jalan pikirannya. Apakah dia orang baik, atau orang jahat? Hal ini yang menjadikan karakter ini menarik untuk didalami. Bagi penonton yang teliti, transisi raut wajah Oscar dari awal hingga akhir memberikan sebuah pendalam karakter yang cukup kuat. Ini adalah salah satu karakter multi-dimensi yang memberikan dinamika dan chemistry yang baik untuk karakter Gloria.

Tapi yang sangat disayangkan, akting dua karakter utamanya yang sudah cukup baik ini tidak didukung oleh pemain-pemain lainnya, yang menurut kami biasa saja dan cenderung mudah ditebak. Bahkan aktor Dan Stevens terlihat sangat biasa disini.

Bicara soal teknologi computer-generated imagery (CGI) yang digunakan, kami yakin budget yang disiapkan tidak sedikit, terbukti dari kualitas animasinya yang jauh diatas rata-rata. Untuk sebuah film yang minim promosi dan hanya tayang secara terbatas worldwide seperti ini, hasil visual yang diberikan sangat memuaskan mata. Tidak wah, tapi sangat baik.

Bisa ditebak, sebagain besar budget film ini pasti lari ke animasi digitalnya. Mungkin ini salah satu alasan banyak aspek-aspek lain dalam film yang terasa kurang. Ya, walau suka, tapi bukan berarti nggak ada flaw-nya juga. Jadi, apakah kami rekomendasikan film ini? Tentu saja. Apakah kalian bisa menikmatinya seperti kami? Belum tentu.

-Adjie-

Trailer Kedua ‘BLEACH’ Live-Action Akhirnya Tampilkan Rukia, Ishida, Renji dan Byakuya!


Warner Bros. Jepang baru saja merilis trailer penuh ‘BLEACH’ yang bukan saja menampilkan wajah-wajah karakter utamanya, namun juga sedikit memperlihatkan adegan-adegan aksi dan duel yang sepertinya bakalan seru banget!

bleach live action ichigo

Bagi pembaca komik Jepang (manga), serial BLEACH rasanya tidak mungkin terlewatkan, karena komik ini merupakan salah satu serial terlaris, bukan hanya di Jepang, namun juga beberapa negara lainnya, termasuk Indonesia.

Setelah sebelumnya Warner Bros. Jepang merilis teaser dan sebuah trailer pendek yang menampilkan karakter utama Kurosaki Ichigo, kini trailer terbarunya telah dirilis dan kali ini menampilkan lebih banyak karakter. Penasaran? Langsung tonton dibawah ini.

Trailer terbaru yang juga menampilkan adegan aksi melawan Hollow ini masih belum memberikan gambaran pasti, akan sampai mana kisah live-action ini diakhiri di film pertamanya. Sebagian dari kalian mungkin sudah tahu kalau kisah BLEACH sangat kompleks dan melibatkan banyak sekali karakter.

bleach live action rukia

Salah satu hal yang membuat film ini ramai dibahas setelah full trailer-nya rilis adalah karakter Kuchiki Rukia yang diperankan oleh Sugisaki Hana. Berbeda dengan Fukushi Sota yang memerankan Kurosaki Ichigo, walau ada sedikit perbedaan dengan penampilannya di manga dan anime, namun masih memiliki ciri khas Ichigo. Rukia justru ditampilkan sama sekali berbeda, terutama model rambutnya.

Kita sudah bisa menebak bahwa hal ini pasti akan menimbulkan pro dan kontra diantara fans BLEACH, dan benar saja, forum-forum manga dan anime di internet sudah ramai membahas soal hal ini, bahkan ketika tulisan ini dibuat. Tapi kalau boleh jujur, menurut kami tidak terlalu masalah, sih, malah kesannya jadi sedikit lebih realistis.

bleach live action byakuya

bleach live action renji

bleach live action ishida

Seperti yang sudah kita sebutkan sebelumnya, trailer ini juga menampilkan karakter-karakter lain yaitu Kuchiki Byakuya yang diperankan oleh Miyavi, Abarai Renji (Saotame Taichi) dan Uryu Ishida (Yoshizawa Ryou). Untuk yang ini, kami juga suka-suka saja, dan memang mereka cocok sih, secara tampilan visual. Soal akting, hmm.. kami belum bisa komentar sebelum menonton filmnya.

Buat kita di Indonesia, belum ada kabar kapan film ini bisa tayang di bioskop. Tapi yang pasti, waktu rilis di Jepang-nya sudah diumumkan, yaitu tanggal 20 Juli 2018. BLEACH disutradarai oleh Satou Shinsuke yang sebelumnya telah menyutradarai Gantz dan Death Note: Light Up the New World.

-Adjie-

 

Buffalo Boys: Cek Trailer Keren Film Indonesia Jaman Kolonial dengan Tema Western Ini!


Biasanya kalau kita lihat film Indonesia yang meniru-niru gaya film luar negeri, pasti langsung nyinyir. Tapi setelah lihat trailer ‘Buffalo Boys’ garapan Mike Wiluan ini, kita langsung bungkam.. speechless… keren banget!

buffalo boys 2018

Dari gaya ilustrasi poster resminya, sudah keliatan kalau film ini akan beda gayanya dari film-film Indonesia lainnya, walau tadinya kita sempat pesimis, masa film jaman kolonial Belanda di campur aduk sama cerita cowboy? Mana budaya Indonesia-nya? Eeeh.. ternyata kita salah tuh! Cek trailer keren dibawah ini, deh!

Buffalo Boys disutradarai oleh Mike Wiluan, sutradara Indonesia-Singapura yang sebelumya sudah punya banyak pengalaman di dunia perfilman sebagai produser dan penulis skrip.

film buffalo boys

Film ini dibintangi oleh Ario Bayu, Pevita Pearce, Yoshua Sudarso, Happy Salma, El Manik, Mikha Tambayong, Hannah Al Rashid, Alex Abbad, Zack Lee, Daniel Adnan dan Reinout Bussemaker.

Berikut sinopsisnya yang dirlis oleh Screenplay Films:

Buffalo Boys bernuansa kehidupan masyarakat Indonesia di Jawa Tengah pada akhir abad 19, yang masih dalam penjajahan Belanda.

Dua saudara bernama Jamar dan Suwo datang kembali ke tanah Jawa ingin membalaskan dendam ayah mereka, yang merupakan seorang Sultan, setelah bertahun-tahun diasingkan di Amerika (Wild West Amerika).

Apa yang membuat mereka ingin membalas dendam? Bagaimana kelanjutan cerita dari Buffalo Boys ini?

Wah, menarik nih! Setidaknya ada opsi tontonan baru, ketimbang harus nonton film komedi jayus dan horor kacangan Indonesia terus! Bener, nggak? Jadi, tunggu tanggal tayangnya di pertengahan 2018 ini!

-Adjie-

From the Studio that Killed Wolverine: Trailer Terbaru Deadpool 2 Menyindir DC Universe!


Belum puas menyindir film X-Men yang notabene dibuat oleh studio yang sama, 20th Century Fox, trailer final ‘Deadpool 2’ versi Red Band ini juga menyindir DC Universe. Hmm.. Jadi Deadpool cari musuh sama Marvel dan DC? Hahaha…

Kamis (19/4/2018), Fox baru saja merilis trailer Deadpool 2 terbaru, yang sekaligus menjadi materi promo trailer terakhir mereka sebelum kita bisa sama-sama menyaksikan aksi the Merch with a Mouth di layar lebar.

Trailer paling gress ini menampilkan banyak sekali adegan-adegan baru yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Penasaran? Langsung tonton saja dibawah ini.

 

Dari trilernya, kita bisa sedikit tahu bagaimana proses Deadpool merekrut anggota untuk tim X-Force. Tentunya masih dengan banyolan khasnya. Salutnya, trailer terbaru tetap menutup rapat-rapat plot ceritanya. Waduh, jadi makin penasaran saja, nih!

Deadpool 2 disutradarai oleh David Leitch dan diperankan oleh Ryan Reynolds (Deadpool/Wade Wilson), Josh Brolin (Nathan Summers/Cable), Zazie Beetz (Neena Thurman/Domino), Morena Baccarin (Vanessa), T. J. Miller (Weasel), Brianna Hildebrand (Negasonic Teenage Warhead), Stefan Kapicic (Colossus/Piotr Rasputin) dan lainnya.

-Adjie-

Sempat Heboh, LSF Pastikan Durasi ‘Avengers: Infinity War’ untuk Indonesia TIDAK dipotong!


Beberapa waktu lalu, netizen Indonesia sempat heboh dengan kabar yang mengatakan kalau film ‘Avengers: Infinity War’ untuk Indonesia mendapat pemotongan durasi sekitar 7 menit. Informasi resmi LSF mengkonfirmasi bahwa kabar ini tidak benar.

Untitled

Lembaga Sensor Film (LSF) Republik Indonesia, melalui akun media sosial resminya, melakukan konfirmasi tentang kabar pemotongan durasi film ‘Avengers: Infinity War’ dan memastikan bahwa tidak ada pemotongan adegan.

Informasi ini juga menambahkan kalau film tersebut mendapatkan rating 13+, jadi buat para orangtua yang punya anak dibawah usia 13 tahun, lebih baik jangan diajak nonton di bioskop, yah, hehe..

Oh iya, mengenai isu pemotongan adegan tersebut, awalnya muncul dari netizen Indonesia yang membandingkan durasi film yang 149 menit (untuk Indonesia) dengan durasi film yang tercantum di situs luar (156 menit). Hal ini lah yang kemudian menjadi ramai di berbagai jaringan lini masa.

Menurut informasi dari situs Comicbook Movie, durasi film yang 149 menit ini bukan hanya di Indonesia, tapi juga di Irlandia, dan hingga artikel ini ditulis, kami juga melakukan pencarian sendiri dan menemukan berbagai informasi yang mengkonfirmasi bahwa durasi resmi untuk rilis internasional film ini memang 149 menit.

Untitleda

Situs AMC Theatres asal Amerika Serikat pun sudah meralat durasi film yang tercantum, yang kini menjadi 2 jam 30 menit, atau 150 menit.

Nah, sekarang sudah tidak perlu heboh dan khawatir lagi kalau film ‘Avengers: Infinity War’ untuk Indonesia dipotong, karena kabar tersebut tidak benar. Selamat menonton dan jangan lupa pesan tiket dari sekarang sebelum kehabisan di hari pertama penayangan, yah!

-Adjie-

Marvel Studios Baru Saja Rilis 2 Poster Keren ‘Avengers: Infinity War’ Sekaligus!


Masih sekitar kurang lebih 2 minggu lagi, sebelum akhirnya kita bisa menonton aksi Earth’s Mighties Heroes di layar lebar, Marvel Studios merilis 2 poster baru ‘Avengers: Infinity War’ yang super keren ini!

avengers infinity war

Poster pertama ini masih agak mirip dengan poster promo yang sudah rilis sebelumnya. Yang membedakan adalah pose para karakternya yang baru. Kalau diperhatikan, ada yang unik pada poster ini, yaitu Gamora yang mendapatkan spotlight paling depan.

Apakah ini berarti dia akan mendapatkan peran yang penting di Infinity War? Apalagi kalau mengingat, Gamora adalah mantan “anak” Thanos. Mungkin saja hubungan ini akan dieksplorasi lebih dalam dan Gamora menjadi salah satu karakter kunci untuk mengalahkan Thanos? Hmm, makin penasaran jadinya!

FCeCoYOK_o

Kalau poster pertama tadi sama sekali baru, yang kedua ini justru poster lama yang dirilis baru. Maksudnya, poster ini sudah pernah dirilis, tapi dalam versi lain (untuk pasar Jepang), dan sekarang Marvel Studios secara resmi merilisnya untuk pasar Amerika Serikat.

Dari segi art dan komposisi, tidak ada yang berbeda dari poster versi Jepangnya, namun tentu saja typography-nya berbeda. Poster ini menunjukkan para anggota Avengers lengkap dengan Thanos yang menjadi background utamanya.

917nEudsC+L

Selain 2 poster tersebut, Marvel Studios juga merilis gambar sampul untuk buku the art of yang diberi judul ‘The Road to Avengers: Infinity War’. Buku ini berisikan karya-karya ilustrator Marvel Cinematic Universe yaitu Andy Park, Ryan Meinerding, Jackson Sze, Rodney Fuentebella dan Anthony Francisco.

Nah, bagaimana menurutmu tentang dua poster baru ini, keren atau biasa saja? Jangan lupa tinggalkan komentar dibawah artikel ini, yah. Avengers: Infinity War disutradarai oleh kakak beradik Russo dan direncanakan rilis di minggu keempat bulan April 2018 ini. Sudah beli tiket dari sekarang?

-Adjie-