Diposkan pada Ulasan Film

Friend Zone, Film Romantis Terbaru GDH yang Disabotase Sponsor


Tahu kalau rumah produksi asal Thailand, GDH 559 bikin film drama romantis baru lagi, tentunya jadi semangat dong, apalagi track record mereka di genre ini udah bagus banget, terutama di Asia Tenggara. Sayangnya, kali ini beda ceritanya, film yang berpotensi bagus ini harus tunduk mengikuti kemauan sponsor.

Friend Zone adalah contoh yang tepat buat nunjukin gimana ngga asiknya sebuah film yang sebagian besar proses produksinya diatur sama sponsor. Ruang buat kreatifitas dan pengembangan cerita jadi sempit banget dan plotnya berasa di setir sama sponsor buat ngiklan.

Sebelum bahas lebih jauh soal itu, kita ulas dulu filmnya, yah. Jadi inti cerita film garapan Chayanop Boonprakob (sebelumnya menyutradarai SuckSeed dan May Who?) ini berputar pada dua karakter bernama Palm (diperankan oleh Naphat Siangsomboon) dan Gink (diperankan oleh Pimchanok Leuwisetpaiboon), yang sudah temenan sejak SMA.

Gink berasal dari kekuarga broken home dan digambarkan memiliki ayah yang selingkuh. Oke, bagian ini beneran nga pentik menurut gue, karena udah gitu saja, ngga dieksplor lebih lanjut dan keliatan cuma jadi tempelan cerita doang yang terus terang ngga ada kontribusinya sama sekali buat keseluruhan filmnya.

Sementara Palm, adalah teman cowok si Gink yang sama sekali ngga dikasih background story dan cuma nongol sebagai alasan kenapa film ini dikasih judul “Friend Zone”. Singkat cerita, Palm pernah ngomong ke Gink kalo mereka lebih baik temanan saja, dan berakhir dengan posisinya sebagai teman selama 10 tahun.

Dari plot itu, sebenarnya film ini bisa banget dikembangkan menjadi sebuah tontonan yang menarik. Tapi sayang, kali ini proses kretif harus kalah sama kemauan sponsor. Keliatan banget kalau film ini dibuat untuk memenuhi kemauan pihak pengucur dana doang. Ceritanya jadi keteteran dan seadanya. Pengembangan karakter nyaris ngga ada. Semuanya disajikan dengan biasa-biasa aja. Seadanya, yang penting jadi. Itu belum semua, karena deretan sponsor lain yang logonya terpampang di poster, juga minta jatah product placement di sepanjang film. *facepalm.

Akhirnya, bukan cuma berdampak pada proses kreatif saja, pemilihan lokasi pun harus banget pake aset-aset milik sponsor dengan merek dagang dan brand identity yang tersebar dimana-mana. Kalo sekali dua kali sih oke-oke aja menurut gue, karena gue paham kalo film juga perlu sponsor, tapi kalo sebuah adegan sengaja diada-adain cuma agar product placement-nya keliatan, kan malesin banget.

Bayangin selama kurang lebih 2 jam, kita musti nonton iklan Thai Airways dengan promo-promo destinasi andalan mereka. Bikin adegan loncat-loncat dari satu tempat ke tempat lain, bukan sebagai pendukung cerita, tapi sebaliknya, bikin cerita yang berputar pada tempat-tempat tersebut. Sebagian besar setting adegannya jadi berasa ada buat nampilin produk-produknya saja. Ini ganggu banget, sih.

Untungnya, masih ada hal bagus yang setidaknya bisa dinikmati selama nonton. Chemistry antara Palm dan Gink cukup bagus dan keliatan natural, kecuali Ted (diperankan oleh Jason Young) yang kaku dan keliatan scripted banget.

Komedinya masih bisa bikin ketawa, walau sebagian besar terlalu lokal. Artinya, bakalan lucu banget kalau kita familiar sama tren dan diksi-diksi dan plesetan gaul Thailand, karena jujur saja, pas diartikan ke dalam bahasa Inggris melalui subtitle, agak ngga dapet. Dramanya, terus terang biasa saja, cenderung overused, tapi secara keseluruhan, Friend Zone masih bisa menghibur dengan kelucuannya. Ini yang jadi salah satu kekuatannya. Sisanya, nyebelin.

-Adjie-

Iklan
Diposkan pada Ulasan Film

Suspiria Memberikan Pengalaman Sinematik yang Magis dan Mengaduk-Aduk Emosi


Meminjam istilah “Be Your Own Kind of Beautiful”, Suspiria merefleksikan kutipan ini dengan nyaris sempurna. Membuatnya menjadi sebuah suguhan yang indah dengan kelasnya tersendiri. Ya, ini memang bukan film untuk semua orang, tapi bisa menjadi sebuah pengalaman sinematik yang menyenangkan.

Film ini bercerita tentang seorang gadis bernama Susie Bannion (diperankan oleh Dakota Johnson), seorang warga negara Amerika Serikat dari Ohio yang tiba di Jerman untuk mengejar karir tarinya melalui sekolah tari Markos Dance Academy. Sedikit yang diketahuinya, banyak keanehan di sekolah ini, terutama seringnya terjadi kasus hilangnya beberapa siswi tari.

Proyek film yang sudah dimulai sejak tahun 2008 ini terbukti digarap dengan serius. Sebagai sebuah film remake, Suspiria 2018 ini bisa berdiri sendiri, sejajar dengan film aslinya yang dirilis pada tahun 1977 silam.

Membuat ulang memang bukan berarti harus mengekor pada aslinya, dan ini bukan hal yang buruk. Sejarah perfilman sudah berkali-kali membuktikan kalau film remake, bila digarap dengan baik, bisa melampaui film aslinya. Bahkan feel nontonnya beda sama sekali jadinya, walau tetap dengan esensi cerita yang sama.

suspiria 2

Alur penceritaan Suspiria cukup enak untuk diikuti, walau tema yang diangkat tergolong berat untuk beberapa orang. Film yang awalnya berjalan wajar ini, seketika berubah jadi tontonan yang memberikan kengerian dan berkali-kali bikin dahi berkerut. Bingung bagaimana ceritanya Luca Guadagnino bisa bikin adegan-adegan yang menjijikan bagi sebagian orang, jadi sesuatu yang indah dan artistik dengan kelasnya tersendiri.

Dibagi dalam enam babak, Suspiria membangun cerita dengan rapi dari awal, sampai pada klimaksnya. Visualisasinya juga ditampilkan secara bertahap dengan beberapa pergantian tonal untuk menandakan perubahan mood. Bayangkan kita sedang berada di dalam wahana misteri, yang perlahan-lahan terus bikin penasaran dan memancing minat kita untuk terus lanjut sampai pintu keluar.

suspiria 3

Dialog-dialog yang dihadirkan terasa bagai lantunan bait-bait puisi yang dibawakan dengan apik. Kesan yang ditimbulkan menjadi artistik dan disturbing dalam waktu yang bersamaan. Beberapa adegannya cukup bikin mual, dan buat beberapa orang mungkin berlebihan, apalagi kalau belum terbiasa dengan jenis film seperti ini.

Bicara soal plot, sepertinya ada kesengajaaan si sutradara untuk seakan-akan membuatnya agak sedikit berantakan, seperti serpihan puzzle yang perlahan-lahan dirangkai menjadi satu gambar yang utuh. Penyelesaiannya bener-bener eyegasm banget. Memuaskan. Terutama adegan-adegan mimpinya seperti naik kemudi putar.

Beberapa poin plus yang perlu gw garisbawahi disini adalah koreografi tari kontemporer yang bernyawa. Setiap gerakannya bercerita dan memberikan emosi yang cukup kuat. Bagusnya, tari disini bukan sekedar kiasan, tapi memang bagian dari ceritanya itu sendiri. Tari disini punya nafas dan jiwa. Gerakannya bisa diibaratkan sebagai pengganti dialog. Jadi walau tanpa narasi pun, kita bisa tahu apa yang terjadi melalui tarian-tarian tersebut.

Gaya sinematografi juga keren dan cukup nyolot, apalagi dengan teknik pengambilan gambar bergaya film horor tahun 70-80an. Menjadi salah satu hal yang gw rindukan buat film-film semacam ini. Secara keseluruhan, tonal dan atmosfir yang dihadirkan sangat suram, berbanding terbalik dengan film aslinya yang banyak bermain dengan warna. Tapi justru bagus menurut gw, karena jadi memberi kesan yang realistis.

Last but not least, Suspiria adalah salah satu pengalaman sinematik yang nyandu dan membuat kita ingin nonton lagi dan lagi. Oh ya, jangan buru-buru keluar setelah filmnya habis, karena ada after credit scene yang berpotensi untuk sekuel.

-Adjie-

Diposkan pada Ulasan Film

Homestay, Sebuah Drama Psikologis Remaja Berbalut Supernatural


Suguhan baru dari rumah produksi GDH 559 asal Thailand, kali ini hadir melalui tangan sutradara Parkpoom Wongpoom, yang melahirkan ‘Homestay’, dengan kisah yang menyoroti permasalahan remaja, berbalut dengan elemen supernatural.

Film dibuka dengan adegan terbangunnya seorang remaja di dalam kamar mayat sebuah rumah sakit. Remaja bernama Min (diperankan oleh Teeradon Supapunpinyo) ini sudah mati selama satu hari karena bunuh diri, dan kebangkitannya membuat satu rumah sakit heboh.

Setelah benar-benar pulih, remaja ini tersadar kalau tubuh tersebut bukan miliknya. Dengan penuh kebingungan dan ketakutan, remaja ini mencoba melarikan diri dari rumah sakit, hanya untuk mengetahui bahwa dirinya adalah arwah penasaran yang dikembalikan ke dunia untuk menyelesaikan sebuah tugas.

Melalui sosok malaikat penjaga yang mengikutinya, roh yang berada dalam tubuh Min, tanpa memiliki sedikit pun ingatan akan kehidupan sebelumnya, harus berpacu dengan waktu untuk mengungkap alasan kenapa dan siapa yang menyebabkan Min bunuh diri, dalam waktu 100 hari, agar jiwanya bisa tinggal secara permanen di dalam tubuh Min dan mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup di dunia.

homestay cherpang bnk48

Premisnya terus terang menarik dan bikin penasaran, walau sebenarnya tema ini bukan sesuatu yang baru dalam dunia perfilman. Buat kalian yang suka mikir pas nonton film di bioskop, Homestay bisa jadi salah satu alternatif tontonan yang oke buat dipilih. Drama psikologis yang ringan, berbalut unsur-unsur misteri dan supernatural.

Lebih dalam tentang film ini, banyak banget hal-hal yang diangkat, yang dekat dengan keseharian remaja dan segala permasalahannya. Homestay mengangkat latar belakang keluarga yang berantakan, dan pola pikir remaja yang terkadang terlalu cepat mengambil keputusan tanpa memikirkan akibat dari perbuatan mereka terhadap orang-orang disekitarnya.

Dari sisi psikologis, film ini menitikberatkan pada kondisi jiwa yang depresi karena banyaknya tekanan dan permasalahan yang dihadapi dalam keseharian seseorang, yang datang bertubi-tubi, tanpa ada orang lain yang bisa dijadikan sandaran untuk berbagi. Sehingga tindakan satu-satunya yang bisa dijadikan pelarian adalah dengan hanyut dalam kesengsaraan yang kita ciptakan sendiri dibenak kita, yang lalu mempengaruhi kondisi kejiwaan.

Homestay thai film

Secara keseluruhan, gw cukup terhibur dengan film ini, karena walaupun mengangkat tema yang cukup berat, namun dibawakan dengan lumayan ringan dan diselipi sedikit komedi yang berhasil memancing tawa penonton.

Gaya narasinya rapi, walau sinematografinya tidak terlalu wah. Akting para pemainnya cukup bagus, apalagi Cherpang (salah satu anggota BNK48), yang baru pertama kalinya berakting di film layar lebar.

Walau tidak setiap film, tetap salut dengan GDH 559 yang hampir selalu memberikan tontonan berkualitas dengan tema-tema yang kadang tidak umum, atau sangat umum sekalipun, melalui sajian dengan konsep yang berbeda. Akhir kata, ini satu lagi film yang layak buat ditonton di bioskop untuk mendapatkan pengalaman menonton yang penuh.

-Adjie-

Diposkan pada Ulasan Film

App War, Sebuah Kisah Cinta dengan Kemasan Berbeda


Mengambil momen tren startup yang memang lagi panas-panasnya di Thailand dalam 2 tahun belakangan ini, App War menawarkan sebuah cerita drama percintaan dengan gaya narasi yang sedikit berbeda dari biasanya, memberikan sebuah opsi tontonan yang menarik dan fresh.

Memang betul, sebuah film akan menjadi lebih kena dan bermakna kalau penonton dapat menghubungkan apa yang mereka lihat, dengan kehidupan nyata sehari-hari. App War tidak menawarkan mimpi, tapi sebuah realita yang benar-benar bisa terjadi pada semua orang, membuatnya jadi berasa nyatanya.

Selain menceritakan hubungan asmara antara kedua karakter utamanya, Bomb (diperankan oleh Nat Kitcharit) dan June (diperankan oleh Warisara Yu), sebagai bumbu filmnya, App War berani meramunya dengan latar belakang perang teknologi aplikasi mobile sebagai plot utamanya. Ya, agak beda dari biasanya karena yang ditonjolkan disini bukan hanya romansanya saja, tapi situasi yang menyebabkannya jadi sesuatu yang kompleks, dan menjadikannya sebuah kisah cinta yang beda.

Sesuai dengan judul filmnya, App War memberikan gambaran otentik tentang dunia startup dengan berbagai elemen dan persaingan yang terjadi didalamnya. Nah, saking otentiknya ini lah, beberapa adegan dan momen-momen yang dihadirkan jadi terasa real. Sesuatu yang tidak dilebih-lebihkan.

Kisahnya berawal dari sebuah ide untuk menciptakan sebuah aplikasi mobile pertemanan yang fungsinya untuk mencari teman dengan hobi dan minat yang sama, namun tidak mencari hubungan romantis, alias hanya menghabiskan waktu melakukan hal-hal yang mereka gemari saja.

Ide ini tercetus melalui pertemuan singkat Bomb dan June ketika mereka tidak sengaja bertemu dalam ajang kompetisi digital. Singkat cerita, keduanya kemudian kembali kepada kesibukan masing-masing dan mengembangkan aplikasi buatan mereka, tanpa saling mengatahui kalau ternyata mereka membuat aplikasi yang sama, secara terpisah.

Tema yang sederhana dan klise dari cerita cowok suka cewek, berubah jadi cerita tentang persaingan untuk menciptakan aplikasi terbaik yang bertujuan untuk mengalahkan satu-sama lain, dalam perjalanannya untuk mendapatkan kucuran dana investor.

App War adalah film kedua dari rumah produksi TMoment yang merupakan pecahan dari GTH yang kerap menghasilkan film-film pemecah box office di Thailand. Memutuskan untuk berjalan sendiri, TMoment serius untuk menghadapi GTH yang kini berganti nama menjadi GDH pasca perpisahan yang terjadi.

Film karya sutradara Yanyong Kuruaungkoul ini menawarkan sesuatu yang baru, sekaligus menjadi penyegaran terhadap film-film drama percintaan Thailand yang dalam beberapa tahun belakangan ini lumayan membosankan dengan premis yang tidak jauh berbeda antara satu dengan lainnya.

Alur penceritaan App War yang cepat sangat terbantu dengan hadirnya musik background yang oke. Setiap momen yang terjadi, seakan-akan terasa hidup. Kehadiran musik ini bukan sekedar kiasan karena sangat membantu memberikan emosi yang kena banget. Menyatu banget lah.

Humor-humor yang ditampilkan juga kena dan tidak berlebihan. Interaksi antar karakternya terasa natural dan akting yang ditampilkan juga bagus, apalagi penggambaran seorang nerd pada diri Bomb yang sangat khas dengan kecanggungannya ketika berhadapan dengan orang lain diluar lingkaran pertemanannya.

Secara keseluruhan, App War adalah sebuah tontonan yang seru dengan sudut pandang yang lain dari biasanya. Singkatnya, tidak mengecewakan!

-Adjie-

Diposkan pada Ulasan Film

The Night Comes for Us, Menyajikan Keindahan dalam Kebrutalan


Film terbaru karya sutradara Timo Tjahjanto, ‘The Night Comes for Us’ bukan hanya menyajikan suguhan brutal penuh darah, namun juga keindahan yang digambarkan dengan cara mengeksplor naluri paling dalam dari diri kita, yaitu nafsu dan ambisi untuk mengejar harta dan kekuasaan, tapi sekaligus mengingatkan kita bahwa tidak ada noda yang benar-benar kotor.

Menceritakan tentang Ito (diperankan oleh Joe Taslim), seorang anggota triad yang tergabung dalam Six Seas, dengan segala masa lalunya yang hitam dan kotor, suatu ketika terketuk hatinya untuk kembali ke jalan yang benar. Sebuah plot yang lumayan sering diangkat menjadi tema film, namun dengan suguhan yang berbeda, bisa dikemas berkali-kali menjadi satu tontonan yang sangat enak untuk dinikmati.

Salah satu keunggulan The Night Comes for Us adalah unsur lokal yang diperlihatkan. Selama ini kita terbiasa menonton film jenis ini melalui sentuhan sutradara Hollywood, bahkan Hong Kong, jadi ketika ada sutradara Indonesia yang memberikan sajian serupa, tapi dengan rasa Indonesia, ini menjadi sesuatu yang istimewa dan tentunya patut dihargai.

Seperti film aksi pada umumnya, tidak ada yang sempurna, karena sutradara dituntut untuk memilih akan fokus ke adegan aksi, atau ceritanya, dan seperti kebanyakan film aksi lainnya juga, The Night Comes for Us mengorbankan sisi cerita. Ini bukan berarti hal yang jelek, karena dengan plot yang sederhana, berarti tersedia banyak ruang untuk mengeksplor adegan-adegan aksi tersebut, dan ini yang dilakukan Timo dengan baik.

Melihat rekam jejak Timo Tjahjanto, sepertinya kita tidak perlu pura-pura kaget akan banyak melihat darah dan potongan tubuh berserakan dalam film ini. Malah ini menjadi salah satu nilai jualnya. The Night Comes for Us memberikan sesuatu yang brutal, ngotot dan intense banget.

Menit-menit awal langsung di gas tanpa menjelaskan apa latar belakang yang menyebabkannya. Baru di menit-menit selanjutnya, kita mulai ngerti apa yang terjadi. Penonton tidak dikasih waktu santai untuk sekedar menghela nafas.

Gaya sinematografi aksi yang ditampilkan bagus banget. Kombinasi pergerakan kamera yang shaky dan kadang statis, justru memberikan dinamika tersendiri dalam penyajiannya. Terlihat ada sesuatu yang berbeda disini, terutama kalau kita sudah pernah menonton film-film Timo sebelumnya.

Katakanlah Headshot yang sepertinya masih mencari-cari apa gaya sinematik yang cocok untuk sebuah film aksi beladiri, yang akhirnya ditemukan di sini. Gerakan-gerakan silat Arian (diperankan oleh Iko Uwais) ditampilkan dengan baik dan detil-detil jurusnya terlihat lebih baik dikamera. Sekarang bandingkan dengan penampilan Iko Uwais di film Mile 22 dengan gaya sinematografi aksi yang cepat dan banyak menampilkan gambar-gambar dekat (zoom in) yang justru membuat koreografi silatnya jadi mubazir.

Secara keseluruhan, The Night Comes for Us memberikan kepuasan sinematik yang memang sudah diharapkan sebelum menonton. Apapun yang disajikan di sini adalah yang terbaik, mau itu adegan perkelahian tangan kosong, saling cabik dengan senjata tajam dan apapun benda yang ada disekitarnya, sampai adu peluru dengan berbagai jenis senjata api, semua ditampilkan dengan sangat baik.

Tapi dengan semua kelebihan itu, tentu masih ada hal-hal yang menganjal juga. Beberapa continuity error masih bisa ditemukan. Ada yang mungkin terlewatkan, ada juga yang sangat noticeable banget. Yang disebutkan belakangan bisa kita lihat pada adegan percakapan Chien Wu (diperankan oleh Sunny Pang) dan Arian di dalam apartemen. Rasanya tidak mungkin kelewatan oleh mata yang jeli.

Adegan aksi yang jadi jualan utama film ini tampil pol dan maksimal. Beberapa bagian yang paling keren tentu saja adegan perkelahian antara The Operator (diperankan oleh Julie Estelle) melawan Alma (diperankan oleh Dian Sastrowardoyo) dan Elena (diperankan oleh Hannah Al Rasyid), serta adegan baku hantam terakhir antara Ito dan Arian yang cukup emosional.

Last but not least, buat kalian yang mencari tontonan film aksi berkualitas, dengan yakin kita akan rekomendasikan film ini. Perlu jadi catatan bahwa film ini banyak menampilkan adegan kekerasan, jadi sangat disarankan untuk siap-siap saja, terutama bagi yang tidak terbiasa dengan darah dan potongan tubuh berserakan. Mudah-mudahan film ini berkelanjutan, kalau bukan trilogi, setidaknya film spin-off karena jujur saja, masih banyak yang bisa dieksplor dan sayang kalau tidak diceritakan secara utuh.

-Adjie-

Diposkan pada Ulasan Film

Brother of the Year, Drama Adik Kakak yang Lucu dan Mengharukan


Jadi kakak yang baik itu susah-susah gampang karena belum tentu cara yang kita tunjukkan itu dianggap baik oleh adik kita, begitupun sebaliknya, dan GDH menyuguhkan drama adik kakak yang sangat dekat dengan keseharian dalam ‘Brother of the Year’ garapan Witthaya Thongyooyong.

nong pee teerak 4

GDH (sebelumnya dikenal dengan nama GTH), adalah salah satu studio film asal Thailand yang kerap kali menghasilkan film-film hit berkualitas dengan bumbu drama, komedi romantis, horor dan tema-tema unik yang mengaduk-aduk emosi penonton. Tepat di bulan Mei 2018 ini, mereka kembali merilis film terbarunya ‘Brother of the Year’ yang kali ini mengangkat tema perseteruan kakak dan adik.

Film yang berjudul asli ‘Nong. Pee. Teerak.’, atau kalau diartikan secara harafiah kedalam bahasa Indonesia berarti ‘Adik. Kakak. Yayang.’, ini memperkenalkan karakter bernama Chut (Sunny Suwanmethanont) dan Jane (Urassaya “Yaya” Sperbund) yang diceritakan sebagai kakak dan adik yang punya hubungan love-hate dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Buat penonton yang memiliki adik atau kakak, konflik dan drama yang dihadirkan jadi begitu dekat karena situasi yang dihadapi sangat nyata dan sederhana, dekat sekali dengan apa yang umumnya terjadi pada hubungan persaudaraan. Drama keluarga begini memang sudah jadi andalan Witthaya yang sebelumnya menggarap ‘My Girl’ dan ‘The Little Comedian’ dengan tema keluarga yang kental juga.

Sebenarnya, nggak ada yang terlalu istimewa di film ini. Plot-nya pun sederhana banget. Tapi justru kesederhanaan itu yang jadi kekuatannya. Konfliknya nggak lebay (walau jujur klise banget). Penggambaran karakter Chut yang gengsinya sebagai kakak cukup gede, menjadikan hubungannya dengan Jane yang berwatak keras namun perhatian sama kakaknya, jadi menarik.

nong pee teerak 5

Konflik utamanya ada pada Chut yang “terpaksa” menjadi figur pria satu-satunya dalam keluarga yang harus menggantikan ayah mereka yang pergi nggak ada kabar sejak mereka kecil. Ini sedikit menyentil situasi sosial di Thailand, dimana perempuan Thai banyak yang menikah dengan bule, dan ditinggalkan oleh si bule begitu anak semakin besar dan tanggungan keluarga semakin tinggi. Bukan stereotype, sih, tapi memang kenyataan yang ada seperti itu.

Dengan situasi keluarga yang begitu, Chut menjadi sangat protektif terhadap adiknya, terutama masalah pacar, dan begitu tahu Jane pacaran dengan orang asing (Moji, asal Jepang), kekhawatirannya sebagai kakak mulai timbul. Sayangnya, cara yang ditunjukkannya salah.

Chut adalah tipe kakak yang nggak bisa menunjukkan rasa sayang ke adiknya, walau sebenarnya sangat-sangat perhatian, sementara Jane adalah tipe adik yang sukanya menyembunyikan masalah sampai ujung-ujungnya meledak dan membuat hubungan mereka jadi renggang. Dinamika ini yang ditunjukkan dari awal hingga menjelang akhir, secara konsisten.

Satu hal yang kami suka dari film ini adalah perhatiannya terhadap detil. Ada adegan dimana Chut makan mie yang masih dibungkus plastik, pakai mangkok dan Jane menegurnya kenapa bungkusnya nggak dibuang dan makan langsung dimangkok saja. Chut beralasan males cuci mangkok kotor.

Adegan tersebut ternyata ada kelanjutannya, ketika mereka sedang dirumah ibunya dan Chut makan mie langsung dari mangkok, Jane melirik sekilas kearah mangkok dan tersenyum. Sebuah adegan singkat yang sekali kedip pasti kelewatan, namun bermakna. Perubahan karakter Chut yang jadi “lebih dewasa”, melalui simbolisasi yang sangat sederhana, tanpa memerlukan narasi yang menjelaskan apa yang terjadi.

Seperti film-film GDH sebelumnya, mereka kembali bermain dengan emosi penonton. Ada tawa, marah dan tangis dalam satu paket yang dikemas dengan solid. Buat penyuka drama, apalagi drama keluarga, paket ini bisa dibilang komplit. Jadi apakah filmnya recommended? Pastinya.

-Adjie-

Diposkan pada Ulasan Film

Colossal, Film Tentang Monster Raksasa yang Unik, Beda dan Kelam


Film ini mungkin tidak menunjukkan performa terbaik Anne Hathaway, tapi secara keseluruhan, ternyata penampilannya cukup memuaskan. Buat penggemar genre film monster raksasa, tentunya ‘Colossal’ bisa jadi salah satu opsi tontonan yang sayang kalau dilewatkan. Nggak percaya? Kami saja kaget dengan hasilnya!

colossal film

Pernah ngerasain di PHP? Well, itu yang terjadi sama kami waktu nunggu-nunggu film ‘Colossal’ garapan sutradara Nacho Vigalondo ini tayang di bioskop. Tunggu punya tunggu, nggak kunjung tayang juga sampai akhirnya rilis home video dan begitu nonton versi blu-ray-nya, langsung berasa sayang banget nggak bisa nonton di bioskop. Sigh, ya sudahlah…

Oke, cukup curhat dan keluhannya. Sebenarnya apa menariknya film ini? Hmm.. kita mulai dari mana dulu ya? Baik, Colossal memberi kesan sebuah film komedi romantis dengan bumbu fiksi ilmiah. Nggak salah sih, tapi ternyata film ini nggak se-“komedi” yang kami kira, malah cenderung gelap dan kelam, dan ini bukan karena belum bayar tagihan listrik (Errr…. garing, mas).

Plot utamanya berputar pada karakter Gloria yang diperankan oleh Anne Hathaway. Gloria adalah seorang penulis artikel untuk media online yang tinggal di New York bersama pacarnya, Tim (Dan Stevens). Karena terlalu terbuai dengan kehidupan di kota besar, Gloria mulai berhenti menulis dan menjadi pengangguran yang kerjanya hanya nongkrong minum-minum bareng teman-temannya setiap malam.

Suatu ketika, karena sudah lelah dengan kelakuan pacarnya, Tim akhirnya memberikan ultimatum agar Gloria meninggalkan apartemen mereka dan baru boleh kembali setelah introspeksi diri dan kembali menjalankan hidupnya dengan benar. Merasa gagal, Gloria kembali ke kampung halamannya dan bertemu Oscar (Jason Sudeikis), teman masa kecilnya.

Gloria yang kini bekerja sebagai pelayan di bar milik Oscar, mulai menemukan keanehan selama berada di kota kecil tersebut. Ditambah lagi dengan kemunculan kaiju (monster raksasa) di Seoul, Korea Selatan yang kejadiannya tepat bersamaan dengan kepulangan Gloria ke kampung halamannya. Disinilah dirinya mulai menyadari kalau kehadiran kaiju tersebut berhubungan dengan dirinya.

colossasl review

Untuk sebuah film fiksi ilmiah, kami angkat dua jempol buat Colossal yang tidak hanya memberikan sebuah tontonan menarik yang berkulitas, namun juga sesuatu yang unik dan (setahu kami) belum pernah ada dalam dunia sinematik. Idenya aneh dalam artian yang baik.

Selain plot yang menurut kami cukup baik, latar belakang karakternya juga dibuat dengan rapi dan nggak terlalu maksa, jadinya semua terlihat wajar-wajar saja. Akting para pemainnya memang nggak sekelas aktor dan aktris Academy Awards, tapi justru kesederhanaan tersebut yang bikin betah nonton sampai selesai.

Soal komedi yang tadi kami singgung, nggak sepenuhnya lucu, sih. Karena cenderung kearah dark comedy yang kelam dan lebih banyak menyentuh sifat dasar manusia. Penggambaran “monster” disini mewakili hati manusia yang sehari-hari kita temui dimana-mana.

Ambil contoh karakter Oscar yang membuat penonton terus menduga-duga jalan pikirannya. Apakah dia orang baik, atau orang jahat? Hal ini yang menjadikan karakter ini menarik untuk didalami. Bagi penonton yang teliti, transisi raut wajah Oscar dari awal hingga akhir memberikan sebuah pendalam karakter yang cukup kuat. Ini adalah salah satu karakter multi-dimensi yang memberikan dinamika dan chemistry yang baik untuk karakter Gloria.

Tapi yang sangat disayangkan, akting dua karakter utamanya yang sudah cukup baik ini tidak didukung oleh pemain-pemain lainnya, yang menurut kami biasa saja dan cenderung mudah ditebak. Bahkan aktor Dan Stevens terlihat sangat biasa disini.

Bicara soal teknologi computer-generated imagery (CGI) yang digunakan, kami yakin budget yang disiapkan tidak sedikit, terbukti dari kualitas animasinya yang jauh diatas rata-rata. Untuk sebuah film yang minim promosi dan hanya tayang secara terbatas worldwide seperti ini, hasil visual yang diberikan sangat memuaskan mata. Tidak wah, tapi sangat baik.

Bisa ditebak, sebagain besar budget film ini pasti lari ke animasi digitalnya. Mungkin ini salah satu alasan banyak aspek-aspek lain dalam film yang terasa kurang. Ya, walau suka, tapi bukan berarti nggak ada flaw-nya juga. Jadi, apakah kami rekomendasikan film ini? Tentu saja. Apakah kalian bisa menikmatinya seperti kami? Belum tentu.

-Adjie-