Burn (Khon Fai Look)


Tahun rilis: 2008

Sutradara: Peter Manus

Pemain: Bongkot Kongmalai, Chalat na Songkla, Achiraya Pirapatkulchaya, Prangthong Changdham, Suthirach Charnukul.

Seorang perempuan setengah baya terlihat kebingungan di depan kasir sebuah rumah sakit swasta. Beberapa kali dia mencoba untuk menelepon anak perempuannya untuk meminta bantuan, namun yang di tuju mengacuhkan telepon tersebut. Sebuah edegan yang cukup miris, melihat ekspresi perempuan yang cukup mengetuk hati itu, emosi penonton seolah-olah sedang di godok. Rasa simpati lalu muncul. Saat itulah sifat karakter utama film ini di tonjolkan. Mona, seorang perempuan yang bekerja di sebuah bursa saham, sehari-harinya selalu dipenuhi oleh kesibukan. Hidup dalam kondo penuh kemewahan dengan gaya hidup modern. Berbanding terbalik dengan kehidupannya, Ibunya hidup serba pas-pasan dalam ruko di sebuah pasar tradisional. Sehari-hari, ibunya yang berdagang beras itu berkelahi dengan pemilik toko sebelah.

Inti cerita baru muncul saat penyakit ibu Mona tak dapat tertahan lagi. Perempuan malang itu merasakan sakit di perutnya, dan beberapa saat kemudian tubuhnya mengeluarkan api. Api yang semakin membesar itu menghanguskan tubuh perempuan malang tersebut dan membuatnya meninggal seketika. Mona yang mendapat kabar kalau ibunya mengalami musibah, langsung berlari menuju rumah ibunya, hanya untuk mendapati jenazah ibunya yang hangus terbakar.

Film ini bercerita seputar Spontaneous Human Combustion, atau biasa di singkat SHC. Sebuah gejala misterius dimana tubuh manusia dapat menghasilkan panas yang tinggi dan akhirnya menimbulkan api yang menghanguskan tubuh. Gejala ini sudah banyak terjadi dan berumur sekitar 200 tahun. Sampai saat ini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit ini. Tema yang lumayan berat ini mencoba diangkat sang sutradara dalam balutan misteri dan konspirasi. Sebuah cerita yang di rangkum dengan hati-hati.

Uang memang masih menjadi pacuan bagi semua orang untuk melakukan apa saja. kejadian-kejadian misterius mulai bermunculan, dan Mona baru menyadari betapa ia mencintai ibunya setelah semuanya terlambat. Di bantu oleh seorang detektif polisi bernama Don yang baru saja mendapatkan promosi, Mona mencoba untuk menguak misteri di balik kematian ibunya. Seorang perawat bernama Ploy ikut ambil bagian dalam pengungkapan misteri ini. Sedikit demi sedikit, tabir misteri ini terbuka.

Moral yang bisa diambil dalam film ini adalah. Kita sebagai anak, sudah sepatutnyalah berbakti kepada orang tua. Mona yang sudah merasa sukses lalu meninggalkan ibunya seorang diri. Bahkan saat ibunya sakit, Mona masih saja cuek dan tidak peduli. Penderitaan ibu Mona sangat jelas sekali terlihat di wajahnya. Wajah yang mengundang simpati. Wajah yang kesepian dan penuh kesedihan. Hampir saja gw terpengaruh untuk mengutuk karakter Mona yang begitu sombong dan acuh terhadap keadaan ibunya. Namun perlahan sifat Mona di perlihatkan berubah. Ya, sebuah hal klise, orang akan berubah saat semuanya sudah terlambat. Mona baru menyadari betapa cintanya ia terhadap ibunya setelah sang ibu meninggal.

-Adjie-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s