Last Life In The Universe


Tahun Rilis : 2003

Sutradara : Pen-Ek Ratanaruang

Pemain :

– Tadanobu Asano,
– Sinitta Boonyasak,
– Laila Boonyasak

Film di awali dengan adegan bunuh diri seorang lelaki Jepang di apartmennya. Lelaki Jepang tersebut bunuh diri dengan cara menggantung dirinya melalui seutas tali yang di ikatkan pada langit-langit ruangan. Buku-buku yang berserakan dibawah kakinya menandakan kalau dia menggunakan buku-buku tersebut sebagai pijakan. Melalui sedikit narasi dan sinematografi yang bergerak lambat, barulah diketahui kalau adegan bunuh diri tersebut hanya khayalan Kenji, seorang lelaki berkebangsaan Jepang yang tinggal di Bangkok, Thailand dan bekerja di perpustakaan di Japan Foundation.

Hidup Kenji sangatlah hampa, apalagi dengan masa lalunya sebagai Yakuza. Walaupun dia sudah memutuskan untuk menghilang dan bekerja secara baik-baik, tetap saja musuh-musuhnya akan selalu mencari kemanapun dia pergi. Tinggal dalam apartemen yang penuh oleh buku-buku, Kenji perlahan mulai mempelajari arti dari kehidupan, sampai pada titik dimana dia membaca kalau kematian adalah jalan yang terbaik. Termakan oleh kata-kata dalam buku “Kematian adalah sebuah tidur yang tenang dan damai”, Kenji mulai merasa kalau kematian adalah pilihan terbaiknya. Beberapa kali Kenji berniat untuk bunuh diri, namun berkali-kali juga lah usahanya tersebut gagal. Selalu saja ada orang yang menghalangi niatnya untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Penggambaran kehampaan hidup Kenji dinarasikan melalui sinematografi yang bergerak lambat, perlahan seperti alur kehidupan. Beberapa adegan di sajikan dengan gambar tanpa suara, dan sesekali buah pikiran Kenji yang dihadirkan sebagai narasi. Nuansa suram di hadirkan melalui warna-warna sephia yang cenderung gelap.

Suatu kejadian membuat Kenji berfikir apa sebeneranya kematian itu. Saat sedang mencoba untuk bunuh diri dengan cara meloncat dari atas jembatan, Kenji dikejutkan oleh sebuah kecelakaan. Sebauh mobil menabrak seorang perempuan tepat di depan matanya. Perempuan bernama Nid itu ternyata adalah salah satu pelangan di perpustakaan tempatnya bekerja. Kenji dan Noi, kakak perempuan itu kemudian membawa Nid ke rumah sakit, namun sayang nyawa Nid tidak tertolong lagi. Nid meninggal di rumah sakit.

Belum habis masalah yang timbul dalam hidupnya, Kenji kembali dibuat terkejut dengan kematian. Kakaknya dibunuh oleh bosnya sendiri di apartemennya. Kenji yang saat itu sedang memegang pistol milik kakaknya, langsung saja menembak sang bos. Kini Kenji harus menyembunyikan 2 mayat yang mulai membusuk dalam apartemennya. Tak tahan dengan bau busuk, Kenji keluar dari rumahnya.

Noi datang ke tempat kerja Kenji untuk mengembalikan tasnya yang tertinggal di mobil saat mengantarkan Nid ke rumah sakit. Melalui pertemuan kedua ini, Kenji menjadi dekat dengan Noi. Kenji memutuskan untuk tinggal di rumah Noi yang letaknya di luar kota. Noi sempat tertawa saat Kenji mengatakan dia tidak mau pulang karena ada 2 mayat di rumahnya yang berbau busuk. Menurut Noi, Kenji sangat lucu dan senang bergurau.

Film mulai terasa hidup saat memasuki fase kehidupan Kenji dan Noi. Hubungan 2 orang beda negara, beda tradisi ini terlihat sangat unik. Tidak terlihat bahwa hubungan mereka menghadirkan cinta antara satu sama lain, namun cukup dapat mengintepretasikan kalau mereka mulai peduli dengan satu sama lain. Dialog campuran Thai-Jepang mendominasi percakapan dan bahasa Inggris ala kadarnya yang juga mampu membangun emosi. Tidak ada bahasa Inggris fasih, semua dibawakan dengan sangat sederhana tanpa grammar yang baik, namun justru itu yang unik.

-Adjie-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s