Merah Putih


Tahun rilis: 2009

Sutradara: Yadi Sugandi

Pemain: Lukman Sardi, Donny Alamsyah, Darius Sinathrya, Zumi Zola, Teuku Rifnu Wikana, Rahayu Saraswati, Rudy Wowor, Astri Nurdin.

Tertarik sekali rasanya saat tahu ada film perang buatan Indonesia, terlebih lagi diangkat dari kisah nyata perjuangan bangsa Indonesia melawan Belanda pada masa agresi militer Belanda. Ada sedikit khawatiran akan hasil jadinya film ini mengingat tema perang lumayan baru dan sejauh ini Indonesia cuma produktif memproduksi film horor komedi murahan dan film-film yang mengumbar tubuh perempuan penuh desahan mesum lengkap dengan  judul-judul noraknya.

Antisipasi menjadi makin tinggi karena Merah Putih juga menggunakan efek-efek ledakan ala Hollywood. Awal film dimulai keliatannya menarik namun setelah beberapa menit berlalu mulai timbul rasa bosan. Bukan hanya sinematografi yang terlalu banyak mengambil gambar lebar, juga karena dialog-dialog yang terlalu ‘Hollywood’. Menonton Merah Putih bagaikan menyaksikan film perang buatan luar negeri yang di dubbing dengan bahasa Indonesia. Film mengalir dengan datar dan tanpa klimaks, adegan-adegan yang sengaja dimaksudkan untuk memancing emosi penonton terkesan sangat dipaksakan dan jadi seperti tempelan ala ‘sisipi saja biar penonton terharu’ seperti pada saat adegan perang dihutan dan salah satu perwira tertembak, dengan sangat dipaksakan kakak perempuannya tersesat di hutan dan secara kebetulan menemukan adiknya terkapar, tidak apa petir, tidak ditunjukkan pula keadaan saat itu sedang mendung, tiba-tiba hujan turun mengguyur di tengah tangis. Jujur saja ‘bengong’ adalah reaksi yang sangat tepat untuk  adegan ini.

Yang lebih membuat malas lagi menonton adalah adanya adegan dansa dengan lagu barat antara para perwira dengan isteri atau kekasih mereka. Sungguh tidak masuk akal dan amat sangat kebarat-baratan. Ini sebenarnya para perwira Indonesia atau perwira Amerika yang hendak berperang melawan Vietnam?

Skenario mungkin bagus tapi sayang penerapannya tidak. Dialog-dialog tidak masuk akal, karakterisasi yang terlalu klise ala film perang Hollywood, interaksi para pemain yang tidak terasa dan kurang kuatnya motivasi para perwira untuk bertempur menambah buruk nilai film ini. Menonton merah putih tidak menimbulkan rasa patriotisme tapi hanya facepalm yang dalam. Keakuratannya sendiri sangat diragukan, terlalu kentara fiksinya dan terlihat seperti kurang riset.

Lalu apa yang bisa dibanggakan? Bila anda suka suara ledakan dan desing peluru, ya silakan saja, selebihnya silakan kecewa.

-Adjie-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s