Captain America: The First Avenger


Tahun rilis: 2011
Sutradara Joe Johnston
Pemain: Chris Evans, Hugo Weaving, Sebastian Stan, Hayley Atwell, Samuel L. Jackson, Dominic Cooper, Toby Jones, Tommy Lee Jones, Neal McDonough, Stanley Tucci, Richard Armitage

Biasa. Sebuah kalimat sederhana yang bisa mewakili keseluruhan film Marvel terbaru yang mengangkat salah satu pahlawan super mereka; Captain America. Berjudul Captain America: The First Avenger, film ini sengaja dibuat sebagai fondasi awal untuk proyek besar Marvel tahun 2012 nanti; The Avengers. Beberapa tahun ini Marvel memang gencar sekali membuat film superhero yang saling berkaitan satu-sama lainnya. Sebuah ambisi untuk mempersatukan seluruh superhero tersebut dalam film besar The Avengers. Ada beberapa yang sukses, namun ada juga yang tidak. Captain America: The First Avenger termasuk salah satu yang kurang berhasil, walau tidak masuk kategori buruk.

Yang membuat film ini biasa saja adalah karena tidak adanya penuturan cerita yang baik. Steve Rogers diceritakan sejak awal ingin sekali mesuk pendidikan militer untuk membela negaranya, namun keterbatasan fisik membuatnya selalu ditolak, sampai pada akhirnya dia mengikuti program Super Soldier dan berubah menjadi tentara berkemampuan super. Ini yang lalu menjadi kekurangan film. Tentara super yang tidak ditunjukkan ke-super-annya. Adegan-adegan perang yang menampilkan Captain America bukanlah aksi heroik pahlawan super, siapa saja bisa melakukan apa yang dilakukan oleh Captain America, tidak ada hal yang menunjukkan bahwa dia adalah tentara super yang berkemampuan jauh diatas rata-rata tentara normal.

Hugo Weaving yang berperan sebagai Red Skull, musuh bebuyutan Captain America juga tidak menunjukkan akting terbaiknya. Karakternya begitu komikal, kurang bengis dan kejam seperti yang seharusnya. Setiap Red Skull muncul dilayar selalu terbayang karakter si muka hijau Jim Carrey dalam film The Mask. Untungnya akting Tommy Lee Jones yang berperan sebagai Kolenel Chester Philips lumayan memberikan hiburan ringan, karakternya yang serius diimbangi oleh humor-humor yang lucu melalui dialog-dialognya.

Kekurangan yang menonjol dan terlihat jelas juga bisa terlihat pada grafik komputer yang kurang bersih. CGI yang digunakan masih terlihat kasar disana-sini, kurang dipoles. Adegan perkelahian Captain America melawan tentara-tentara Hydra menjadi biasa dan sangat ‘kartun’ sekali. Keseluruhan film yang merupakan flashback tidak terlalu istimewa, terutama bila dibandingkan dengan film Captain Amerika rilisan tahun 1990 yang diperankan oleh Matt Salinger. Plot Captain America memang sulit untuk dikembangkan karena cerita dasarnya sudah pakem dan hanya bisa diselipi beberapa adegan atau karakter-karakter lain.

Seperti review film-film Marvel sebelumnya di Daily Chapter Indonesia, untuk kesekian kalinya diinformasikan untuk tidak meninggalkan kursi anda setelah film selesai, karena setelah credit selesai akan ada sebuah adegan yang tentu tidak ingin anda lewatkan.

-Adjie-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s