Fantastic Four (2015)


2hfq2b7

Kalau kamu pikir dua film Fantastic Four yang telah rilis sebelumnya jelek, tahan opini kamu sampai nonton film Fantastic Four 2015 ini. Oke, gw ngga tahu harus mulai dari mana. Jujur ini film dari awal diumumkan, sampe rilis trailer dan akhirnya muncul di bioskop, sama sekali ngga bikin gw semangat. Tapi sebagai penggemar film superhero, gw merasa “wajib” untuk tetap berangkat ke bioskop dan nonton, walau tahu ini film pasti bakalan bikin kecewa.

Film ini, seperti cerita-cerita origins kebanyakan, dimulai dari masa kecil si tokoh utamanya. Reed Richards dari kecil sudah pinter banget dan agak anti sosial. Di usia sekolah dasar, dia berhasil menciptakan mesin teleportasi yang pada proses uji cobanya sukses bikin listrik satu kota mati. Dan seperti anak-anak pintar kebanyakan, selalu ada sahabat dekat yang mendukung “kegilaan” temannya. Sahabat ini bernama Ben Grimm. Sebenernya gw mau pakai kalimat ‘singkat cerita’ tapi berhubung intro perkenalan karakter ini dibuat panjang banget, jadi kata yang cocok adalah, ‘setengah durasi film kemudian’, sampailah mereka di usia dewasa. Buset, bahasa gw ngga enak banget. Ya, intinya mereka sudah dewasa dan Reed mendapatkan beasiswa dari Dr. Storm, yang entah dari mana, kok bisa-bisanya kebetulan nongol di acara science fair SMA antah berantah. Dr, Storm punya dua anak, satu anak kandung laki-laki bernama Johnny Storm dan satu anak perempuan adopsi bernama Susan Storm. Oh iya, Dr. Storm dan Johnny berkulit hitam, dan Susan berkulit putih. Kenapa penting banget gw bahas masalah warna kulit? Karena hal ini jauh banget dari komiknya. Johnny dan Susan seharusnya saudara kandung dan keduanya berkulit putih. Oke, itu hal pertama yang sempet bikin gw menyumpah serapah dalam bahasa Portugal campur Spanyol dan sukses di tempeleng mbak-mbak yang duduk disamping gw.

Sudah gw sebut diatas, film ini hampir setengahnya cuma menceritakan origins doang. Haloooo, bosen, neh!? Gila! Ini film datar banget, bertele-tele, dan tonenya berasa ngga asik. Sejak kapan Fantastic Four jadi film dark dan gritty gini? Mending kalau bagus, ini ngga! Dialog-dialognya juga ngga membantu sama sekali. Salah satu dialog gobloknya adalah pada saat Reed bertanya ke Susan “Jadi, kamu anak adopsi?” Jujur gw bengong sambil menumpahkan tiga huruf W… T… F? sembari mengunyah bakwan yang tinggal setengah. Akting para pemainnya juga ngga maksmal dan kaku. Sama sekali ngga berasa chemistry antar karakternya. Reed dan Ben yang sudah dari kecil temenan dan diceritain secara panjang lebar, tetap saja keliatan seperti dua orang asing yang baru kenal. Untuh lebih memperparah lagi, Victor Von Doom, yang aslinya di komik adalah orang kaya keturunan bangsawan dari Latvenia digambarkan sebagai nerd yang tertutup dan anti sosial. Hidup dalam dunia sendiri yang kemudian mendadak jadi supel di adegan-adegan berikutnya. Err.. suer, ini seperti dua karakter yang berbeda tapi diperankan oleh aktor yang sama. Belum lagi pemeran Johnny yang aktingnya beneran bikin facepalm.

Itu baru ngomongin karakter-karakternya, belum hal-hal lain yang melenceng amat sangat jauh dari komiknya. Beberapa film superhero banyak yang dibuat beda dengan versi komik, tapi kebanyakan masih menggunakan referensi dari komik untuk pengembangan karakter dan cerita. Sementara Fantastic Four, malah jadi seperti film kelas B yang menjiplak karakter komik Marvel dan dilempar dipasaran, berharap akan mendapatkan pujian untuk “kreatifitas”nya. Kostum yang dipakai oleh Fantastic Four juga meh! Sok-sok-an dibikin realistis. The Thing, walaupun CGI-nya keren banget dan lebih baik dari dua film sebelumnya, tapi tolong ya, dipakein celana, kenapa!? Lalu model rambut Susan yang ngga konsisten dan kerap berubah-ubah dalam beberapa adegan yang nyaris bersamaan, sangat menggangu sekali. Jadi, buat kamu yang baca ulasan ini dan tetap nekat nonton, kamu sudah diperingatkan, ya!

-Adjie-

Satu pemikiran pada “Fantastic Four (2015)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s