Freelance (Heart Attack) – Ketika arti kebahagiaan dipertanyakan


freelance-postwe-header

Apakah kita selama ini hidup untuk mencari makan, ataukah kita makan agar dapat bertahan hidup? Sebuah pertanyaan yang ditanyakan oleh seorang pemuda bernama Yoon (diperankan oleh Sunny Suwanmethanon) kepada Kai, seorang karyawan mini-market 7-Eleven yang kerap dikunjunginya pada jam-jam yang tidak wajar bagi manusia normal.

Pekerjaan Yoon sebagai desainer grafis membuatnya harus begadang selama berhari-hari tanpa tidur demi menyelesaikan pekerjaannya mengedit foto untuk berbagai macam keperluan advertising dan advetorial. Hal ini dilakukan Yoon bukan tanpa alasan, dunia kerja dibidang yang digelutinya memerlukan tingkat profesionalisme yang tinggi. Sekali membuat kesalahan, akan ada seseorang yang dengan senang hati merebut pekerjaannya dan Yoon akan kehilangan mata pencaharian utamanya sebagai pekerja freelance. Pekerjaan ini juga yang membuat Yoon kerap kali mengunjungi 7-Eleven yang buka selama 24 jam untuk mengisi perutnya dengan makanan-makanan cepat saji atau sekedar ngobrol dengan Kai.

Dalam hal yang terkait dengan pekerjaan, Yoon selalu berhubungan dengan sahabat dekatnya, Je (diperankan oleh Violette Wautier), yang walaupun sering dibuat kesal dengan kelakuan Yoon, namun selalu berusaha membantu sahabatnya itu mendapatkan proyek-proyek tertentu yang berhubungan dengan skill Yoon.

Je selalu membantu Yoon dengan cara mencarikan pekerjaan mengedit foto, dan Yoon dengan senang hati selalu menerima setiap pekerjaan yang diberikan oleh Je tanpa kecuali. Tidak pernah sekalipun Yoon menolak pekerjaan yang ditawarkan kepadanya. Persaingan yang ketat dalam dunia desain grafis lah yang memaksa Yoon untuk melakukan hal tersebut, dan dia mampu begadang selama berhari-hari sampai pekerjaannya selesai.

Kebiasaan buruk ini diperparah dengan kegemarannya memakan siomay udang setiap hari. Tubuh Yoon yang sudah menginjak usia 30-an mulai berontak dan menolak gaya hidup tidak sehat ini. Yoon mulai merasakan gatal-gatal dan di sekujur tubuhnya muncul bintik-bintik merah. Takut hal ini akan memperlambat pekerjaannya, Yoon kemudian memutuskan untuk berobat ke rumah sakit. Disinilah Yoon bertemu dengan Dokter Imm (diperankan oleh Davika Hoorne). Entah kenapa, Yoon merasakan sesuatu dalam tubuhnya bergejolak sejak pertama kali bertemu dengan dokter cantik ini. Dan disinilah, kisah ini dimulai.

GTH memang paling jago meramu film drama romantis seperti ini. Studio ini pandai mengumpulkan sutradara-sutradara muda berbakat untuk memproduksi film-filmnya. Nama Nawapol “Ter” Thamrongrattanarit juga sudah tidak asing lagi di telinga penggemar film Thailand. Sutradara muda ini sebelumnya telah dikenal lewat film-film lainnya seperti “Rod Fai Fah … Maha Na Ter” (BTS: Bangkok Traffic Love Story) dan “Top Secret”.

Sutradara yang mengawali karirnya dengan membuat film-film indie ini berhasil meramu sebuah kisah sederhana menjadi tontonan yang bermutu, menghibur dan penuh filsafat hidup. Film yang judul lengkapnya “Freelance Ham Puay Ham Phak Ham Rak More” ini bisa dibilang proyek kejar tayang dan dibuat untuk menggantikan slot film “May Who” yang terpaksa dimundurkan jadwal tayangnya karena pemeran utama film tersebut sedang menjalani hukuman skors dari pihak GTH. Ide cerita film ini sendiri diambil dari pengalaman pribadi sang sutradara selama menggeluti dunia freelance dan indie.

Ini lah yang lantas membuat Freelance begitu kuat, karena sang sutradara mengerti betul dengan dunia ini, walau apa yang dijalaninya tidak sampai separah karakter Yoon dalam film. Namun setidaknya apa yang ditampilkan kemudian didalamnya, menjadi begitu nyata dan bisa terjadi pada siapa saja. Film pengganti, berarti budget yang disiapkan juga pasti terbatas. Hal ini berhasil disiasati dengan sponsorship yang cukup kuat dari 7-Eleven, The Mall Group sampai Adidas. Tentu product placement dalam film menjadi tidak terhindarkan, yang untungnya, tidak terlalu menggangu karena sesuai dengan tema filmnya itu sendiri, membuatnya tidak terkesan dipaksakan dan justru terlihat wajar.

Poin kuat dalam Freelance adalah kesederhanaan, baik dari segi tema, cerita dan dialog. Untuk yang terakhir, patut diacungi jempol. Dialog-dialog dalam film ini sangat natural dan menggunakan bahasa Thai sehari-hari. Kalimat-kalimat yang disusun dengan rapi ini didukung juga dengan akting para pemainnya yang terlihat menghayati perannya masing-masing. Tidak ada parade akting berlebihan disini, semuanya mengalir wajar, seperti yang kita temui dalam kehidupan nyata. Joke-joke yang diselipkan diantara adegan dan dialog pun sangat biasa namun mengena.

Contoh saja ketika harus segera tidur menuruti anjuran dokternya, Yoon masih meninggalkan satu kesalahan pada foto yang dikerjakannya. Walau kesalahan ini sangat kecil, namun berhasil membuat Yoon akhirnya tidak tidur sampai pagi karena terus kepikiran. Adegan yang sebenarnya biasa saja ini dikemas dengan apik dan berhasil membuat penonton tertawa. Ter memang pandai mengarahkan para pemainnya untuk berakting layaknya dalam dunia nyata, sehingga membuat penonton percaya dan merasakan apa yang dirasakan oleh setiap karakter dalam film-filmnya.

Untuk kamu yang mengharapkan sebuah film romantis yang mengumbar kata-kata cinta, jangan harap akan menemukannya pada Freelance, sebaliknya, apa yang ditawarkan disini adalah adegan-adegan yang memancing penonton untuk dapat mengintepretasikan apa yang dilihatnya dengan pemahaman masing-masing. Film ini mengajak penonton untuk mencari arti kebahagiaan melalui hal-hal sederhana disekitar kita. Jadi, mencari film berkualitas? Masukkan Freelance dalam daftar tontonan kamu bulan ini!

-Adjie-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s