Everest – Manusia menaklukkan alam, atau sebaliknya?


url

“Kita mendaki bukan untuk meraih kemenangan, karena pada akhirnya, gunung yang kita daki lah, pemenangnya.”

Sebuah pesan singkat yang mengawali perjalanan satu grup pendaki gunung yang dipimpin oleh Rob Hall (diperankan oleh Jason Clarke), Adventure Consultants. Rob dan dua rekannya mendapatkan tugas memandu delapan orang pendaki untuk menaklukkan puncak tertinggi dunia, Gunung Everest, yang merupakan bagian dari pegunungan Himalaya yang memisahkan India dengan Tibet.

Diantara kedelapan orang pendaki tersebut, ada tiga orang yang mendapatkan perhatian lebih dari Rob, dibandingkan dengan yang lain, mereka adalah Beck Weathers (diperankan oleh Josh Brolin), seorang pendaki yang telah mengantongi pengalaman mendaki selama sepuluh tahun, Doug Hansen (diperankan oleh John Hawkes), seorang tukang pos yang memiliki impian mendaki gunung tertinggi dunia agar dapat menjadi kebanggan anaknya dan Yasuko Namba (diperankan oleh Naoko Mori), seorang perempuan asal Jepang yang ingin menjadikan Everest sebagai gunung ketujuh yang berhasil ditaklukkannya.

Tim yang dipandu Rob tidak sendirian, ada juga tim lain bernama Mountain Madness yang dipimpin oleh Scott Fischer (diperankan oleh Jake Gyllenhaal), yang telah terlebih dahulu tiba di base camp pendaki asuhan Helen Wilton (diperankan oleh Emily Watson). Medan terjal dan sulit, serta kondisi cuaca yang buruk, membuat pendakian menjadi tertunda karena kekhawatiran pada bahaya yang akan dihadapi. Desakan anggota tim membuat Rob, yang pada saat bersamaan sedang menantikan kelahiran anak pertamanya, untuk tetap melanjutkan pendakian. Rob lalu mendatangai Scott untuk mengajak tim Mountain Madness bergabung bersamanya, yang lantas diiyakan oleh Scott, dan berangkatlah kedua tim tersebut melakukan pendakian.

Untuk sebuah film yang diangkat dari kisah nyata, Everest manghadirkan adegan-adegan dan dialog yang cukup wajar. Tidak ada hal-hal yang terkesan sengaja direka-reka untuk mendramatisir, yang justru membuat film ini jadi enak untuk dinikmati. Everest ibaratnya sebuah film dokumenter yang biasa kita saksikan di Discovery Channel atau History Channel, namun dalam format film layar lebar. Namun sayangnya, kelebihan ini juga lah yang menjadikan Everest kurang dapat menangkap sisi emosional penonton. Ini bukan hal yang jelek, hanya saja, membuatnya jadi terasa ada yang kurang. Lagipula, tidak ada kan film yang benar-benar sempurna, karena setiap penonton memiliki preferensi yang berbeda-beda.

Terlepas dari itu semua, Everest menghadirkan sinematografi yang cukup mengagumkan. Pemandangan alam pegunungan salju yang sunyi bisa menjadi keindahan yang layak dinikmati. Dan dengan format IMAX, adegan-adegan ini menjadi lebih terasa nyata. Terlebih lagi, film ini didukung oleh para pemain kaliber dunia yang kemampuannya tidak dapat diragukan lagi. Jadi untuk kamu yang tidak ada acara akhir pekan ini, Everest bisa jadi alternatif tontonan.

-Adjie-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s