The Martian – Manusia pertama yang menanam kentang di Planet Mars


NOQq_

“I guarantee you, that at some point, everything’s gonna go south on you. You’re gonna say ‘this is it.’ This is how I end.”

Ketika Mark Watney (diperankan oleh Matt Damon) dikirim ke planet Mars bersama dengan tim ekspedisi Ares III yang dipimpin oleh Komandan Melissa Lewis (diperankan oleh Jessica Chastain) untuk melakukan penelitian, dirinya tidak pernah menyangka akan mengalami musibah yang akan mengubah hidupnya.

Tim ekspedisi Ares III terpaksa harus meninggalkan penelitian mereka karena secara tiba-tiba, iklim di Mars berubah dan badai besar datang melanda, yang akan sangat berbahaya bagi seluruh anggota tim bila misi ekspedisi tetap dilanjutkan. Badai ini juga yang memaksa mereka untuk melakukan evakuasi dalam waktu yang begitu sempit, dan segera meninggalkan Mars secepatnya tanpa sempat menyelamatkan barang-barang bawaan mereka.

Evakuasi ini tidak mudah, karena tim harus melalui badai ganas yang begitu kencang dan kondisi menjadi gelap seketika. Jarak pandang menjadi sangat terbatas, dan satu-satunya petunjuk arah yang dapat diandalkan, hanyalah lampu pesawat yang berpenjar seperti mercusuar dikejauhan. Disinilah malapetaka itu terjadi. Antena radio satelit yang berada di atas atap base camp lepas dan terbang terbawa angin badai dan mengenai Mark. Detik itu juga, tubuh Mark terpental dan lampu indikator helmnya padam, sehingga tim tidak dapat mengetahui dimana lokasi jatuhnya. Dalam keadaan yang terjepit dan medan yang semakin tidak bersahabat, Melissa terpaksa membuat keputusan untuk tetap melakukan evakuasi dan meninggalkan Mark yang diasumsikan telah meninggal.

Setelah Exodus: Gods and Kings yang bisa dibilang gagal, Ridley Scott tampaknya mulai kembali ke jalan yang benar dan memberikan kita sebuah tontonan yang dikemas dengan begitu apik. Akting Matt Damon disini juga tidak bisa diremehkan. Matt berhasil memainkan sosok karakter yang sangat manusiawi ketika dihadapkan pada situasi sulit dengan masa depan yang tidak jelas. Karakter Mark yang diperankannya mampu membuat penonton bersimpati dengan tingkah lakunya.

Mark tidak mau menyerah pada situasi dan berhasil memaksimalkan ilmunya sebagai ahli botani pada kondisi Mars yang sangat tidak bersahabat. Kekurangan bahan makanan tidak membuatnya putus asa, dan malah menimbulkan ide untuk menanam kentang di Mars. yang secara harafiah, menjadikannya sebagai ahli botani terbaik di planet tersebut, dan membuatnya mampu bertahan lebih lama dari yang sebelumnya diprediksikan.

Walau kerap menggunakan tone “hangat” pada sebagian besar adegan di Mars, namun Ridley mampu menunjukkan keindahan tersendiri melalui sinamatografi yang dihadirkan. Ladang tandus berpasir Mars yang luas terhampar, tampak begitu indah, sekaligus mengisyaratkan kesunyian. Penggambaran ini membuat penonton merasa berada dalam posisi Mark sebagai satu-satunya makhluk hidup disebuah planet. Sunyi, kesepian, dan kadang merasa gila. Adegan-adegan malam juga tidak kalah bagusnya. Bintang-bintang diatas langit Mars sangat indah dan menakjubkan mata penonton.

Dibandingkan dengan film-film lain bertema luar angkasa yang tayang baru-baru ini, The Martian dipastikan akan berada pada urutan atas. Semua yang ditampilkan disini sangat wajar, bahkan hingga ke rumus-rumus dan teori-teori ilmiahnya. Film ini tidak menampilkan hal-hal yang terlalu ‘njelimet’ dan membuat kepala pusing, namun lebih menonjolkan sisi humanis dalam menghadapi sebuah situasi sulit seperti yang terjadi pada Mark. Jadi, bravo Mr. Ridley! Good job!

-Adjie-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s