Mr. Holmes – Kisah masa tua detektif terbaik Inggris


LeFcL

Bertambahnya usia dan berkurangnya umur adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari dalam hidup manusia. Termasuk detektif tersohor Inggris bernama Sherlock Holmes. Yang tersisa adalah kejayaan dimasa lalu dan kesendirian menghadapi hari-hari terakhir dalam hidup. Walau dalam hal ini, bisa dibilang bahwa Sherlock Holmes selalu sendirian sepanjang hidupnya. Detektif nyentrik ini memang terkenal sebagai penyendiri dan hanya memiliki beberapa orang terdekat saja, seperti Mrs. Hudson dan sahabatnya, Dr. John Watson.

Mr. Holmes berawal ketika Sherlock Holmes (diperankan oleh Sir Ian McKellen) kembali dari Hiroshima, Jepang, setelah menemui seseorang bernama Tamiki Umezaki (diperankan oleh Hiroyuki Sanada) yang mengabarkan adanya tanaman bernama prickly ash yang diklaim dapat menyembuhkan penyakit “pikun” yang dideritanya. Ya. pada akhirnya, detektif hebat pun harus menyerah pada usia. Tak terkecuali Sherlock Holmes.

“I’ve decided to write the story down, as it was, not as John made it. Get it right, before I die.”

Sejak menyelesaikan kasus terakhirnya, Sherlock memutuskan untuk berhenti sebagai detektif swasta, dan memutuskan untuk menghabiskan masa tuanya disebuah rumah didaerah pedesaan, ditemani oleh pengurus rumahnya yang bernama Mrs. Munro (diperankan oleh Laura Linney) dan anaknya Roger Munro (diperankan oleh Milo Parker).

Penyakit “pikun” yang dideritanya semakin bertambah parah setiap harinya, dan Sherlock mulai melupakan nama orang-orang disekitarnya dan beberapa hal yang dikatakan atau dilakukannya. Walau begitu, ada satu hal yang mengganjal dipikirannya, yaitu kasus terakhirnya. Kasus yang sangat berkesan dan mampu membuat Sherlock meninggalkan kehidupannya sebagai seorang detektif ini begitu tersohor setelah sahabatnya, Watson, menuliskannya menjadi sebuah buku.

Sherlock yang tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kasus tersebut, memutuskan untuk menulisnya sendiri sebelum dirinya benar-benar melupakan segalanya. Sherlock sadar bahwa kisah yang sebenarnya, sangat jauh berbeda dengan apa yang ditulis oleh Watson. Dan untuk menyelesaikan tulisannya, Sherlock menempuh berbagai macam cara untuk membuat ingatannya kembali.

Film yang disutradarai oleh Bill Cordon ini diangkat dari sebuah novel karya Mitch Cullin yang diterbitkan pada tahun 2005 berjudul ‘A Slight Trick of the Mind’, sebuah kisah yang menceritakan hari-hari tua Sherlock Holmes yang sangat jauh berbeda dari Sherlock Holmes yang dikenal oleh banyak orang. Film ini berhasil “memanusiakan” karakter Sherlock dan seakan menyadarkan penonton bahwa Sherlock Holmes adalah manusia juga, sama seperti kita. Satu-satunya yang membuat dia berbeda adalah kemampuannya untuk berfikir dan mendeduksi tingkah laku manusia dan lingkungan sekitarnya.

Hubungan antara Sherlock dan Roger pun digambarkan sangat dekat. Roger seakan-akan adalah cermin Sherlock Holmes, dan sepertinya Sherlock dapat melihat hal ini dan mencoba untuk menjadi semacam “guru” bagi Roger. Bocah ini begitu pintar dan cerdik, dan kehadirannya membuat Sherlock sangat bahagia.

Secara keseluruhan, Mr. Holmes memiliki alur yang lambat dan lebih mengedepankan dialog antar karakter-karakternya. Dialog-dialog yang ditampilkan sangat dalam dan mengandung banyak filosofi hidup yang bebas dan dapat diinterpretasikan secara berbeda oleh masing-masing penonton. Salah satu tontonan wajib yang sayang kalau dilewatkan.

-Adjie-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s