SPECTRE: Suguhan Anti Klimaks Agen 007 James Bond


Bingung mau mulai dari mana. Menit-menit awal menyaksikan SPECTRE, ekspektasi langsung dibawa tinggi. Namun sayang, alur cerita menjadi terlalu mudah ditebak dan ujung-ujungnya malah jadi parade adegan-adegan klise yang membosankan.

SPECTRE dibuka dengan adegan perayaan festival kematian di Meksiko, dimana agen 007 James Bond (masih diperankan oleh Daniel Craig), terlihat sedang memburu seorang laki-laki bernama Marco Sciarra. Tindakan James Bond yang tanpa sepengetahuan M ini kemudian malah berakhir dengan kekacauan dan hancurnya satu gedung yang menyebabkan banyak korban luka-luka.

Kembali ke Inggris, M (diperankan oleh Ralph Fiennes) mempertanyakan motivasi Bond melakukan apa yang dilakukannya di Meksiko, yang berujung dengan jawaban yang makin membuat M naik pitan dan memutuskan untuk menon-aktifkan agen 007 hingga waktu yang tidak ditentukan.

Pada saat yang sama, M sedang menghadapi masalah besar yang ditimbulkan oleh seorang petinggi Joint Intelligence Service (lembaga spionase gabungan dari M15 dan M16) bernama C (diperankan oleh Andrew Scott) yang bermaksud untuk menciptakan lembaga intelejen “Nine Eyes” yang terdiri dari sembilan negara dan menutup program 00 (double O) untuk selamanya.

Sampai disini, semuanya terlihat menyakinkan, bahkan ketika James Bond mencari seseorang bernama Pale King yang ternyata adalah orang dari masa lalunya, masih ada ekspektasi bahwa film ini akan semakin baik hingga akhir nanti. Yang terjadi selanjutnya, malah jauh dari yang diharapkan.

Banyaknya easter eggs dan trivia terhadap film-film James Bond sebelumnya seperti beberapa contoh saja: kostum tengkorak bertopi (Live and Let Die), cincin SPECTRE (Thunderball), adegan perkelahian di kereta api (The Spy Who Loved Me dan Live and Let Die), ejector seat (Goldfinger), tuxedo putih dengan bunga merah (Goldfinger), bahkan kalimat trademark “Bond, James Bond” dan “Vodka martini, shaken, not stirred” yang baru pertama kalinya diucapkan oleh James Bond versi Daniel Craig, tidak membantu sama sekali.

SPECTRE jadi kehilangan originalitasnya. Ya, sang sutradara, Sam Mendes, terlalu banyak memberikan tribute yang ujung-ujungnya malah tidak nyambung dengan kemana arah SPECTRE, sehingga membuat penonton bingung dengan alur cerita yang mendadak berubah arah menjelang pertengahan film. Berbagai teka-teki dari tiga film sebelumnya ditumpahkan menjadi satu dan menghasilkan sebuah film yang membosankan. Adegan romantis? Well, Dr. Madeleine Swann (diperankan oleh Léa Seydoux) cukup enak dipandang, tapi sayang perannya tidak berarti sama sekali, dan kesan tempelannya sangat kentara, walau tidak separah Lucia Sciarra yang diperankan oleh Monica Bellucci.

Meski sepanjang film hanya berisi kekecewaan, ada poin-poin bagus dalam SPECTRE, terutama dari segi akting Daniel Craig sebagai James Bond yang terlihat semakin matang. Transisi karakternya sejak Casino Royale dapat terlihat dengan jelas. Mulai dari pribadi yang urakan, hingga menjadi agen flamboyan dan ehm, playboy. Kematangan karakter ini menjadi hal yang membuat penonton sedikit betah hingga akhir. Apalagi kita juga disuguhi akting menakjubkan dari Christoph Waltz yang berhasil menunjukkan kelasnya. Apalagi? Oh iya, sinematografi SPECTRE juga bagus sekali. Pergerakan kamera dari satu adegan ke adegan lainnya sangat mulus dan apik.

Kesimpulannya, SPECTRE harusnya berakhir pada pertengahan durasi film karena sisanya hanya filler-filler tidak penting yang malah merusak keseluruhan plot. Lagipula, kabarnya masih ada setidaknya dua film James Bond lagi setelah SPECTRE, kenapa setengah plotnya tidak disimpan saja dan dijadikan dasar film selanjutnya? Apa karena produsernya takut kalau Daniel Craig tidak akan kembali, sehingga semuanya serba diburu-buru, dan dijejalkan dalam satu film untuk melengkapi saga James Bond versi Craig, sebelum digantikan oleh aktor lain? Well, kita tunggu saja, apakah Craig masih mau memerankan James Bond setelah kegagalan SPECTRE yang anti klimaks.

-Adjie-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s