Pantai Norasingh: Sinetron yang dipaksa Tayang di Layar Lebar


Pantai Norasingh

Bingung mau mulai dari mana. ‘Pantai Norasingh’ sebenarnya memiliki premis yang cukup baik, apalagi disutradarai oleh sutradara spesialis film kolosal Thailand, MC Chatrichalerm Yukol atau lebih akrab disapa Than Mui. Namun sayangnya, 3 jam durasi yang diberikan hanya berisi kekecewaan dan kebosanan saja.

Oke, film ini bercerita tentang pemuda bernama Singh (diperankan oleh Pongsakorn Mettarikanon), yang cukup terkenal dan menjadi legenda dalam sejarah Thailand. Singh hidup pada jaman kerajaan Ayutthaya, tepatnya pada masa pemerintahan Raja Sanpetch VIII (diperankan oleh Wanchana Sawasdee), yang mendapat julukan Phrachao Suea atau “The Tiger King”, dan dikenal sebagai royal barge yang bertugas untuk mengendalikan perahu kerajaan.

Film ini berpotensi menjadi sebuah kisah menarik dan penuh pesan moral yang dapat dipelajari dari karakter Singh, yang mendapatkan gelar “Pantai Norasingh” dari sang Raja. Kisah tentang kesetiaan dan pengabdian yang tinggi dari seorang pelayan terhadap rajanya. Yang sayangnya, tidak menjadi fokus utama film ini. Malah, kami bingung, apa sebenarnya fokus film ini, drama? sejarah? kolosal? Atau mungkin hanya film iseng untuk menghabiskan budget dan berharap akan dapat keuntungan box office yang besar?

Sepanjang film, penonton disuguhi dengan akting kelas sinetron yang cenderung berlebihan dan dialog-dialog dangkal dan penuh pengulangan yang monoton. Banyak kalimat-kalimat yang tampaknya sengaja diulang untuk meyakinkan penonton terhadap apa yang akan mereka lakukan, seakan-akan penonton begitu bodohnya dan tidak bisa menangkap makna dialog yang disampaikan. Dan itu masih ditambah dengan koreografi Muay Boran (seni beladiri kuno Thailand) dan Krabi Krabong (seni beladiri Thai menggunakan pedang dan tombak) yang kaku dan keliatan “hafalan” banget.

Yang ujung-ujungnya diperparah dengan adegan-adegan “sok” melankolis yang sepertinya dimaksudkan untuk mengocok emosi penonton, namun malah membuat dahi berkerut dan mata perlahan mengeluarkan air mata penyesalan sambil menunggu kapan film ini selesai. Sebuah siksaan batin yang teramat sangat, menurut para pujangga dan para jomblo yang mengharapkan kasih sayang. Belum lagi hujan yang selalu turun disetiap adegan sedih dan galau. *tepok jidat.

Usut punya usut, ternyata film ini awalnya memang diperuntukkan sebagai sinetron berseri di televisi. Sang  sutradara merasa kecewa karena tidak mendapatkan jam tayang prime time dan memutuskan untuk membeli kembali hak siarnya dan mengedit ulang keseluruhan episodenya untuk dijadikan sebuah film layar lebar. Hasilnya, sungguh luar biasa! Than Mui berhasil memberikan sebuah film multi-genre yang sangat epik dan sukses membuat para penonton mendengkur keras. Sebelumnya, Than Mui sempat sesumbar kalau film ini terlalu besar untuk kelas televisi. Yeah, right.

Dari awal film dimulai, penonton disuguhi dengan berbagai adegan konyol dan akting khas sinetron yang kelasnya jauh sekali untuk ukuran layar lebar. Plot dan timeline yang tidak jelas, alias lompat-lompat seperti kodok sawah, dan transisi antar adegan yang kelihatan sekali dipotong sambung dengan terburu-buru. Menjadikannya tidak konsisten dan banyak adegan menjadi tumpang tindih. Kesimpulannya? Ya, begini, deh kalau sinetron dipaksakan tayang di layar lebar. Bukan pujian yang didapat, tapi kritikan pedas, sepedas cabe rawit.

-Adjie-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s