The Hateful Eight: Kisah Delapan Orang yang Saling Curiga dalam Satu Atap


The-Hateful-Eight

Quentin Tarantino kembali menyuguhkan film terbarunya ‘The Hateful Eight’ yang sarat dengan ironi, sarkasme, sindiran terhadap moralitas masyarakat dan politik yang dibawakan dengan gaya humor kelam yang menohok pola pikir penonton.

Untuk kamu yang masih belum bisa melepaskan bayang-bayang Reservoir Dogs (1992) dan Pulp Fiction (1994), The Hateful Eight dipastikan akan mendapatkan tempat khusus dihatimu! Apalagi dengan deretan pemain yang juara banget, dialog-dialog cerdasnya jadi lebih hidup dan membentuk karakter masing-masing tokoh dalam film ini, tanpa perlu penjelasan panjang lebar. Latar belakang setiap karakter dengan apiknya diselipkan dalam setiap kalimat yang terucap. Selain itu, film ini penuh dengan sindiran-sindiran yang tentu saja ditujukan kepada negeri Paman Sam, terutama menyangkut masalah peradilan dan kesamaan hak warga negara yang ujung-ujungnya kembali ke masalah rasisme.

The Hateful Eight dibagi dalam enam bagian yang masing-masing memiliki fokus karakter dan sudut pandang yang berbeda, namun masih dalam satu kerangka film yang sama. Gaya penceritaan seperti ini sudah bukan hal yang asing lagi dalam film garapan Tarantino. Apalagi untuk penggemar beratnya yang pasti langsung mengenali dan tidak perlu lagi beradaptasi, cukup duduk manis menikmati suguhan apik ini. Garis besar film ini berkisah tentang delapan orang yang saling curiga dan karena situasi, dalam hal ini badai salju, terpaksa berada dalam satu atap. Ya, setting film ini sebagian besar dihabiskan dalam sebuah rumah persinggahan.

Film dibuka dengan seorang veteran perang bernama Major Marquis Warren (diperankan oleh Samuel L. Jackson) yang kini berprofesi sebagai pemburu hadiah. Warren baru saja menyelesaikan misi perburuannya dan hendak membawa jasad-jasad kriminal tersebut ke kota Red Rock untuk diserahkan ke kantor sheriff dan ditukar dengan uang imbalan. Sialnya, kuda yang ditunggangi olehnya sudah cukup tua dan akhirnya mati. Beruntung ada sebuah kereta kuda melintas pada jalur yang dilaluinya.

KurtRussellSamuelLJacksonHatefulEight

Bermaksud untuk menumpang, ternyata kereta kuda tersebut mengangkut penumpang yang dikenalnya, seorang pemburu hadiah juga bernama John Ruth (diperankan oleh Kurt Russell) yang sedang membawa seorang kriminal bernama Daisy Domergue (diperankan oleh Jennifer Jason Leigh). Ruth adalah seorang pemburu hadiah yang dijuluki “The Hangman” karena kebiasaannya membawa kriminal hidup-hidup agar dia bisa menyaksikan ketika mereka digantung dihadapan publik. Hmm, sebuah hobi yang aneh.

Singkat cerita, dalam perjalanan, mereka dihadang seorang pemuda yang hendak ke Red Rock juga. Pemuda yang mengaku sebagai sheriff baru Red Rock ini bernama Chris Mannix (diperankan oleh Walton Goggins). Tentu saja Warren dan dan Ruth tidak langsung percaya, walau pada akhirnya mereka mengijinkan juga si pemuda untuk ikut dalam kereta kuda yang ditumpangi.

Kondisi cuaca yang semakin buruk membuat mereka terpaksa menghentikan perjalanan dan menginap di sebuah rumah persinggahan. Disini lah mereka bertemu dengan Bob (diperankan oleh Demián Bichir), Oswaldo Mobray (diperankan oleh Tim Roth), Joe Gage (diperankan oleh Michael Madsen) dan veteran perang bernama General Sanford Smithers (diperankan oleh Bruce Dern). Rasa saling curiga menjadi fokus intrik pertemuan kedelapan karakter ini dan mereka harus menghabiskan waktu bersama hingga badai salju berakhir.

Sekali lagi, Tarantino berhasil menunjukkan kelasnya. Tidak ada sedetik pun kebosanan menyaksikan The Hateful Eight. Seperti biasa, kekuatan film arahannya terdapat pada kalimat-kalimat dialog yang diucapkan oleh setiap karakter. Penonton seakan diajak untuk berdiskusi secara tidak langsung dan membenarkan setiap kalimat yang terucap. Untuk kamu yang mengharapkan adegan baku tembak ala wild wild west, jangan berharap terlalu banyak deh, dijamin bakal kecewa. The Hateful Eight bukan film action yang kamu cari.

Film-film komedi satir kelam seperti ini memang memiliki pasar tersendiri dan tidak dapat dinikmati oleh semua kalangan. Untuk beberapa orang akan membosankan, malah mungkin ada yang tertidur. Hal itu bisa dimaklumi, kok. Apalagi buat yang sering kebakaran jenggot kalau sudah menyangkut masalah rasisme, duh, sensitif banget, sih. Mending fokus pada setiap dialog aja, deh, disitulah letak kenikmatan menontonnya. Oh, iya, film ini banyak mengumbar adegan kekerasan dan makian, jadi jangan ajak adik kamu yang belum cukup umur untuk nonton, ya. Percaya, deh, ini bukan film koboy ala The Lone Ranger.

-Adjie-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s