Awasarn Loke Suay – Sisi Gelap Kehidupan Internet Idol


Awasarn Loke Suay

Perkembangaan media sosial menciptakan sebuah fenomena “Internet Idol” dimana orang biasa dapat menjadi terkenal hanya dengan bertingkah lucu, imut dan kadang seksi, tanpa perlu mengeluarkan biaya banyak. Kamu bisa mendapatkan jutaan penggemar dalam sekejap dan juga, musuh.

‘Awasarn Loke Suay’ dibuat sebagai sebuah film remaja dengan tema drama psikologis. Film yang diadaptasi dari sebuah film pendek berjudul sama ini diproduksi oleh Kantana Motion Picture dan disutradarai oleh Pun Homcheun dan Onusa Donsawai.

Koi, yang kini berganti nama menjadi Grace (diperankan oleh Apinya Sakuljaroensuk) adalah seorang internet idol yang kerap melakukan cosplay (mengenakan kostum dari karakter-karakter komik dan game Jepang) untuk mendapatkan penggemar di internet. Didukung dengan wajahnya yang cantik dan keberaniannya mengenakan pakaian yang seksi, Grace dengan cepat menjadi populer dan disukai banyak orang.

awasarn-lok-suey-featured

Seiring waktu, kepopuleran Grace mulai meredup, dan kini muncul idola baru bernama Eclaire, atau lebih dikenal dengan nama Care (diperankan oleh Napasasi Surawan). Berbeda dengan Grace, Care menjadi idola bukan karena cosplay, melainkan kegiatan sehari-hari yang direkam oleh sahabatnya. Melalui fanpage-nya, Care juga menjadi tokoh utama dalam sebuah cerita fiksi romantis yang kemudian menjadi populer dikalangan remaja.

Grace yang cemburu karena kepopulerannya meredup, semakin kesal dengan tingkah “pacar” nya, Jack, yang sangat mengidolakan Care. Bukan hanya itu, Jack juga kerap kali memuji-muji Care didepan Grace dan membandingkan keduanya. Berbekal masa lalu yang kelam dan penuh pengkhianatan dari orang-orang yang telah dianggapnya sahabat, Grace kemudian memaksa Jack untuk ikut dalam rencana menculik Care dirumahnya. Rencana mereka harus berubah ketika Care membawa serta sahabatnya pulang.

Oke, premisnya sangat menjanjikan dan jujur saja, kami jadi tertarik untuk menonton karena tema film yang cukup kontroversial, terutama di negara seperti Thailand. Apalagi dengan dirilisnya film ini dalam dua versi, yaitu versi remaja yang ditayangkan pada jam siang, dan versi dewasa yang ditayangkan pada jam malam. Untuk versi dewasanya (Uncut), penonton wajib menunjukkan KTP sebelum membeli tiket. Hmm.. makin penasaran, deh.

Beberapa menit pertama cukup membingungkan, karena ternyata film ini menghadirkan dua timeline yang berbeda, yaitu kilas balik dan masa kini. Namun setelah terbiasa, penonton mulai bisa merunutkan tiap-tiap adegan yang terjadi. Memang sayang banget transisi antara adegan kilas balik dan masa kini-nya kurang mulus. Ya, walaupun tone kedua timeline dibedakan, tetap saja kadang masih membuat bingung. Mungkin ketimbang memberikan noise pada adegan kilas balik, ada baiknya dibuat hitam putih saja untuk semakin membedakan.

Untuk akting, Apinya sudah tidak perlu dipertanyakan. Dia berhasil menunjukkan kualitasnya sebagai aktris dan tampil dengan penuh totalitas. Setiap adegan yang dibawakannya terlihat alami dan menghayati, yang sayangnya, malah membuat film ini terasa one man show banget. Pemain-pemain lainnya tampil biasa-biasa saja dan cenderung kaku. Malah dalam beberapa adegan, penonton tidak ikut merasakan emosi yang ingin ditampilkan melalui karakter-karakter tersebut.

Tema yang dihadirkan ‘Awasarn Loke Suay’ sebenarnya sangat menarik, terutama bila dikaitkan dengan isu-isu yang berkembang di masyarakat saat ini terkait dengan penggunaan media sosial di internet. Kemajuan teknologi memang dapat memberikan kemudahan, namun juga sesuatu yang berbahaya bila tidak dilakukan dengan hati-hati.

Nah, film ini justru sebaliknya, kesannya malah mendukung kegiatan negatif yang dilakukan melalui media sosial. Walau tidak ditampilkan secara langsung, namun visualisasi yang diterima oleh penonton mendukung argumen tersebut. Terlebih lagi, sepertinya film ini dibuat dengan tanpa pesan sama sekali. Apa yang ingin disampaikan oleh sutradaranya tidak jelas, padahal ada dua kepala disini, yang seharusnya dapat memberikan dua sudut pandang berbeda yang disatukan menjadi sebuah tonton yang lengkap. Kesimpulannya? semua jadi serba tanggung dan lebih kepada pembuktian bahwa hal-hal negatif adalah sesuatu yang baik di dunia internet, terutama media sosial.

-Adjie-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s