Batman v Superman: Dawn of Justice – Pertarungan Dua Raksasa yang Serba Tanggung


Batman-v-Superman-Dawn-of-Justice-picture

Film blockbuster Warner Bros Pictures paling di tunggu tahun ini akhirnya tayang. Batman v Superman: Dawn of Justice. Namun sayangnya, sambutan yang di terima kurang baik. Kira-kira di mana masalahnya?

Ulasan kali ini akan di bagi dalam dua bagian, the bad and the good. Sebelum kamu membaca lebih lanjut, perlu kami tegaskan bahwa mungkin beberapa hal yang akan kami bahas bisa di kategorikan spoiler, terutama untuk penonton awam yang tidak familiar dengan komik DC. Kamu sudah di peringatkan, ya!

Bagi mayoritas pembaca komik DC, film crossover yang mempertemukan tokoh-tokoh superhero favorit mereka merupakan sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Apalagi DC kini serius membangun DC Extended Universe (DCEU) untuk mengangkat jagoan-jagoan mereka ke layar lebar yang pada klimaksnya akan ditampilkan di film Justice League mendatang.

Batman v Superman: Dawn of Justice (BvS) telah rilis di bioskop, namun sambutan yang di terima cukup beragam. Ada yang loncat-loncat kegirangan melihat Trinity (sebutan untuk trio Superman, Batman dan Wonder Woman) hadir dalam satu layar. Ada juga yang mencemoh karena lebih mementingkan cerita ketimbang fanservice.

Cukup banyak hal-hal yang mengganggu dalam BvS. Masalah utama yang ada pada film ini adalah terlalu padatnya plot yang ingin di hadirkan, sehingga adegan demi adegan menjadi tumpang tindih dan transisi antara satu dengan lainnya banyak yang jomplang. Belum di tambah dengan adegan-adegan tidak penting seperti dialog-dialog “filosofis” tentang surga- neraka, atau baik dan buruk yang sebenarnya bagus, tapi jadi membosankan bila terus di ulang-ulang sepanjang film. Dan tentu saja adegan pembuka di mana orang tua Bruce di bunuh dan awal mula Bruce Wayne “terinspirasi” menjadi Batman. Hooaaaamm.. bosan dan bikin ngantuk!

Dalam hal karakterisasi tokoh-tokoh utamanya, motivasi yang di tampilkan oleh Superman (Clark Kent) juga kurang kuat, walau akting yang diberikan sudah cukup baik. Henry Cavill sekali lagi menunjukkan kelasnya sebagai Superman arogan yang belum “matang”. Penggambaran Superman di sini di buat seakan-akan sebagai sosok yang egois dan tidak mau diatur. Namun hal ini bisa di maklumi karena Superman dalam dunia ciptaan Snyder ini masih anak baru yang menunjukkan jati dirinya selama 18 bulan sejak kemunculannya di film ‘Man of Steel’.

batman-v-superman-dawn-of-justice-official-trailer-2-hd

Lain Superman, lain pula Batman. Dalam BvS, kita tidak diberikan seorang Batman yang baru beraksi di kota Gotham, namun seorang Batman veteran yang telah melakukan aksi heroiknya selama 20 tahun. Batman yang brutal dan kasar bukan karena kegemarannya menghajar penjahat, namun karena pengalaman kelam dan kehilangan orang-orang terdekatnya.  Pakaian Robin yang di pajang di Bat-Cave menjadi bukti masa lalu kelamnya. Untuk yang belum pernah membaca komik Batman, pakaian Robin tersebut diasumsikan milik Jason Todd yang mati di bunuh oleh Joker. Satu hal yang cukup mengganggu adalah Batman yang dengan bengisnya membunuh penjahat. Oke, Batman menggunakan senapan sesuai dengan penggambarannya dalam komik-komik yang di tulis oleh Frank Miller, tapi membunuh secara masal? Batman tidak pernah membunuh orang tanpa alasan, apalagi sekelas kroco-kroco Lex Luthor! Batman hanya membunuh bila orang tersebut terlalu berbahaya atau tidak ada pilihan lain, bukan karena alasan kemarahan semata. Hmm..

Penampilan Wonder Woman di sini juga masih terkesan tempelan dengan motivasi yang sama sekali tidak jelas. Sepertinya ingin menjadi misterius, tapi malah kelihatan kalau Snyder sendiri bingung akan menampatkannya sebagai sekedar cameo, atau pemain utama, sehingga hasil yang diberikan kepada penonton jadi serba tanggung. Untuk penonton awam, hal ini akan sangat menggangu karena sebagian dari mereka pasti bertanya-tanya; “Ini cewek ngapain, nongol ga jelas, ilang ga jelas”. Selain Wonder Woman yang kemunculannya langsung merubah tone film yang tadinya terlalu kelam jadi fun, akting Jesse Eisenberg sebagai Lex Luthor perlu dapat acungan dua jempol!

Hal lain yang menurut kami cukup membuat ekspektasi jatuh, datang dari sang sutradara sendiri, Zack Snyder yang entah karena tidak pede atau bagaimana, mengumumkan bahwa film yang di buatnya bukan lah versi lengkap dari keseluruhan kisah yang ingin dihadirkannya.  Beberapa minggu sebelum filmnya rilis, Snyder mengumumkan bahwa ada sekitar 30 menit durasi dalam BvS yang di potong dan baru akan di tampilkan pada versi rilis Blu-Ray dan DVD yang nantinya akan di beri judul “Batman v Superman: Dawn of Justice Ultimate Edition”, Duar! Bad move Mr. Snyder, very bad move!

30 menit itu cukup lama, bayangkan berapa banyak adegan yang bisa di tampilkan! Ini semakin menjelaskan jomplangnya beberapa adegan yang saling tumpang tindih tanpa transisi yang jelas. Belum lagi masih di tambah dengan Doomsday yang telah di tampilkan dalam trailer-nya dan jelas-jelas merusak kejutan sehingga sebagian besar penonton sudah dapat menerka-nerka apa yang akan terjadi dalam filmnya.

batman-v-superman-dawn-of-justice-ben-affleck

Namun dibalik semua hal-hal tersebut, masih banyak hal lain yang cukup bagus dari BvS. Aksi Batman dengan Bat-Mobile contohnya. Bagi kamu yang main Playstation 4, pasti sangat familiar sekali dengan gaya berkendara Batman di sini. Bukan hanya itu, desain Bat-Mobile nya pun sudah cukup mirip dengan game ‘Batman: Arkham Knight’. Bila ada satu hal yang sangat nikmat di tonton, ini dia! Pose-pose ikonik Batman ketika memegang senapan atau ketika berdiri menempel pada tembok sangat mirip dengan penggambarannya komik ‘The Dark Knight Returns’. Gaya bertarung Batman juga dibuat mirip dengan yang ada pada game-game Batman seri Arkham. Untuk fanboy, sudah jelas apa yang mereka inginkan terkabul. Tidak dapat di pungkiri, Ben Affleck sudah resmi menjadi pemeran Batman terbaik di layar kaca untuk saat ini.

Beberapa referensi yang ditampilkan (sayangnya) hanya dapat di mengerti (dan dinikmati) oleh pembaca komik DC. Sehingga film ini sangat berorientasi pada fanboy saja. Sudah jadi rahasia umum kalau Zack Snyder adalah seorang penggemar komik, dan apa yang di hadirkannya merupakan fanservice yang di tujukan untuk sesama penggemar, membuatnya semirip mungkin dengan yang ada pada lembar-lembar halaman komik. Yang sayangnya (lagi) tidak di mengerti oleh orang awam yang duduk menonton sambil bertanya-tanya; “Itu siapa?”, “Kenapa begitu?”, Ini apaan sih, kok tau2 gini?”. Film adalah media umum, Mr. Snyder, setidaknya jangan hanya menargetkan satu kelompok penonton saja, pikirkan juga orang-orang awam yang tidak membaca komiknya.

-Adjie-

2 pemikiran pada “Batman v Superman: Dawn of Justice – Pertarungan Dua Raksasa yang Serba Tanggung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s