Jason Bourne – Sebuah Sekuel yang Harusnya Nggak di Buat


NEaeFdkCqoG1db_2_b

Bermaksud menutup saga Jason Bourne, sutradara Paul Greengrass tampaknya lupa kalau bagian terpenting dari sebuah film adalah plot yang baik sebagai kerangka dasarnya.

Dari awal, Jason Bourne menjanjikan sebuah kisah yang akan mengungkap masa lalu Bourne (diperankan oleh Matt Damon) dan kenapa dia sampai menjadi salah satu agen rahasia hasil percobaan pemerintah Amerika. Beberapa menit awal memang cukup menarik. penonton bahkan di suguhkan dengan penampilan karakter Bourne yang lebih matang dan dewasa. Tapi sayangnya, ketika memasuki paruh tengah, tensi malah mulai menurun dan kita di suguhi oleh akting-akting pemain pendukung yang datar, intrik yang klise dan plot yang nggak jelas mau di bawa kemana. Jason Bourne malah seakan-akan di buat sebagai film ke-empat, melupakan Bourne Legacy (2012) yang seakan-akan tidak pernah terjadi.

Walau begitu, Jason Bourne memberikan adegan-adegan aksi yang cukup menarik dan menegangkan. Scoring juga bermain saat baik di sini dan mendukung sekali di setiap adegannya. Jelas kami menikmati sekali adegan kejar-kejaran dengan mobil yang porsinya cukup banyak. Sedikit kecewa karena hand to hand combat nya tidak terlalu banyak. Apalagi di awal-awal ada adegan bertarung di arena tarung liar yang harusnya bisa di eksplorasi lebih dalam. Bahkan kalau di bandingkan dengan trailernya, jelas sekali adegan ini telah melalui proses editing yang ketat dan di pangkas untuk memenuhi durasi bioskop.

Kalau mau di bandingkan dengan empat film sebelumnya, Jason Bourne jelas-jelas berada di urutan paling bawah, bukan karena memang faktanya ini film kelima, tapi karena kualitasnya memang jauh bila di bandingkan dengan film-film sebelumnya. Bagaikan mengambil ide dari potongan-potongan adegan dari film-film sebelumnya yang di rangkai menjadi satu untuk di jadikan sebuah film panjang, tidak ada lagi misteri-misteri dan intrik menarik yang bisa di eksplorasi.

Belum lagi karakter Heather Lee, kepala divisi cyber CIA yang di perankan oleh Alicia Vikander yang nggak jelas. Masa lalunya nggak di jelaskan, motifnya nggak di jelaskan, malahan karakternya berasa seperti remaja labil yang nggak tahu apa yang di inginkan. Itu belum seberapa bila di bandingkan dengan aktor sekaliber Tommy Lee Jones yang harus menyia-nyiakan potensinya degan memerankan direktur CIA bernama Robert Dewey yang entah harus di diangap serius, atau cuma ngelawak. Sama sekali nggak menunjukkan wibawanya dan bahkan tidak mampu mengintimidasi lawan mainnya. Karakter yang di perankannya bagaikan sebuah peran kelas sinetron dengan akting seadanya. Mungkin kesalahan ada pada penulis dialog, atau memang sudah waktunya dia pensiun dari dunia akting. Entahlah.

Pada akhirnya, Jason Bourne cuma jadi film action biasa yang mudah terlupakan. Film ini seharusnya nggak pernah di buat karena sepertinya sang sutradara berusaha terlalu keras untuk membuatnya menarik di tonton. Mungkin kalau kisahnya di angkat menjadi serial TV, akan menjadi pilihan yang tepat, terutama untuk mengungkap rahasia-rahasia lain dari program Blackbriar, Treadstone dan Outcome dengan lebih detil. Mengingat satu program baru bernama Iron Hand yang harusnya bisa menjadi modal kuat film ini malah seakan-akan cuma di jadikan tempelan dalam plot yang dari awal sudah kurang kuat. Karena ketimbang menyelesaikan sesuatu, justru malah menimbulkan pertanyaan baru.

-Adjie-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s