Fanday – Drama Romantis Khas Banjong yang Mudah Ditebak


fanday-11

Sutradara Banjong Pisanthanakun yang sebelumnya di kenal dengan film Pee Mak Phra Khanong, kembali dengan karya terbarunya ‘Fanday’ yang memiliki judul internasional ‘One Day’. Seperti apa film yang dijanjikan akan membuat penonton terharu ini?

Fanday adalah sebuah film drama romantis sederhana dengan cerita yang juga sederhana, menceritakan tentang seorang staff IT pada satu perusahaan di Thailand bernama Denchai (diperankan oleh Chantavit “Ter” Dhanasevi) yang kesehariannya lebih banyak sendiri. Kesendiriannya ini bukan karena dia nggak punya teman atau bagaimana, tapi lebih banyak disebabkan oleh sifatnya yang suka ngomong apa adanya tanpa memperhatikan perasaan orang lain, yang bikin mereka jadi males ngajak ngobrol. Di tambah pembawaan kikuk dan nggak pedenya, jadi lah sosok Den (panggilan Denchai) yang kaku, kurang pergaulan dan agak aneh.

Sementara itu, karyawan baru bernama Nui (diperankan oleh Nittha “Mew” Jirayungyurn) mengubah keseharian Den yang merasa kalau Nui punya perasaan yang sama kepadanya. Sayangnya, 3 tahun berlalu dan bukannya semakin dekat, hubungan mereka malah semakin jauh jaraknya. Malah Nui yang tadinya cukup ramah kepada Den, kini tidak pernah sekalipun menegurnya. Apalagi kini Nui jadi simpanan CEO perusahaan yang sudah beristeri dan punya anak satu. Tambah kacau lah semuanya. Sampai satu waktu, saat outing perusahaan ke Jepang, Den mendapatkan kesempatan untuk menghabiskan satu hari bersama Nui yang mengalami amnesia pendek.

fanday

Sebagai sebuah film drama romantis, Fanday berhasil memberikan sebuah cerita yang mudah di cerna, tanpa perlu mikir terlalu berat. Semuanya mengalir begitu saja, membawa penonton hanyut dalam kisah cinta klise yang telah berulang-ulang kali menjadi tema film sejenis, yang membedakan hanya nama karakter, tempat dan detil-detil kecil lainnya. Intinya, Fanday bukan jenis film baru dan sama sekali nggak memberikan sesuatu yang baru.

Fanday nggak memberikan “element of surprise” malahan terus menerus menampilkan sesuatu yang sama berulang-ulang kali. Bukan jelek, hanya saja setiap adegannya mudah sekali ditebak kemana arahnya. Selain itu, beberapa detil tampaknya kurang diperhatikan, seperti penunjuk waktu dan lokasi. Mungkin karena waktu yang sempit untuk melakukan pengambilan gambar di Jepang? Atau memang tim produksinya kurang riset? Entah lah.

Humor-humornya di sisi lain, cukup menghibur dan bisa dengan cepat memancing tawa penonton. Banjong berhasil memberikan celetukan-celetukan dan gurauan ringan dengan baik dan apik. Ini membuktikan bahwa tidak perlu adegan slapstick atau tingkah aneh-aneh untuk menampilkan sebuah kelucuan, cukup kata-kata sederhana sehari-hari yang dirangkai dengan baik dan ditampilkan pada waktu yang tepat. Salah satu formula yang menjadi ciri khas sutradara satu ini.

Secara keseluruhan, Fanday adalah sebuah tontonan segar yang mampu menghibur dan sedikit mengaduk-aduk emosi penonton. Tidak ada yang spesial disini, hanya satu lagi drama komedi romantis diantara banyaknya tema film sejenis. Buat kamu yang nggak tahan sama cerita drama sedih seperti ini, jangan lupa siapin sapu tangan.

-Adjie-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s